Nilai-nilai Budaya Kawin Cai Sebagai Spirit Keagamaan Masyarakat Kuningan

Galeri, Opini2,537 views

KUNINGAN ONLINE – Keanekaragaman suku budaya yang ada di Indonesia sangat beraneka ragam. Kebudayaan mencakup segala aspek yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat.

Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung nilai-nilai penting yang diwariskan dari generasi ke generasi. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, aama, waktu peranan, hubungan, ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok (Mulyana, 2009:18).

Iklan

Setiap daerah pasti memiliki masyarakat yang majemuk. Setiap masyarakat tentunya memiliki aktivitas yang beragam, seperti masyarakat yang hidup dekat dengan Pantai sebagai nelayan, masyarakat perkotaan sebagai pegawai dan masyarakat pedesaan sebagai petani.

Ada tradisi yang menarik Desa Babakan Mulya, masyarakatnya yang mayoritas bekerja sebagai petani memiliki tradisi yaitu mapag cai/kawin cai.

Iklan

Upacara Adat Kawin Cai di Balon Dalem Desa Babakan Mulya merupaka kegiatan menikahkan air dari dua sumber mata air, yaitu sumber mata air Sumur Tujuh Cibulan (Cikembulan) dengan sumber mata air yang ada di Balong Dalem Tirta Yatra.

Ritual Upacara Adat Kawin Cai ini diadakan pada malam Jumat Kliwon bulan Rajab. Lokasi dilaksanakannya Kawin Cai di sumber mata air Tirtayatra merupakan tempat perkawinan Resi Makandria dari Kerajaan Tirtawulan (Cibulan) dengan Pwah Sanghiyang Sri dari Kerajaan Kainderaan.

Prosesi Kawin Cai yaitu dialirkannya air kendi percampuran air Tirtayatra dengan air Cikembulan pun dilakukan di sumber mata air yang terdapat dua batu besar Bernama Batu Kawin.

Maksud dan tujuan dari diadakannya Upacara Adat Kawin Cai yang pertama adalah sebagai wujud permohonan kepada Tuhan supaya diberikan air yang subur dan menyuburkan untuk kehidupan manusia.

Baik untuk keperluan sarana air bersih, perikanan, juga untuk sarana pengairan irigasi area pesawahan yang ada di Babakan Mulya. Secara Implisit makna yang terkandung dari aspek spiritual atau jiwa keagamaan masyarakat meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa yang menghendaki segala sesuatu.

Kemudian menyadari akan keterbatasannya sebagai manusia sebagai makhluk ciptaan yang sangat membutuhkan tuntunan dan pertolongan Tuhan yang Maha Esa.

Sebagai upaya melestarikan alam agar lingkungan Balong Dalem terlihat hijau asri, sehingga para pengunjung Balong Dalem merasa betah dan nyaman.

Kemudian sebagai Daya Tarik objek Wisata Balong Dalem supaya para wisatawan, baik dari dalam atau luar daerah banyak yang berminat berkunjung.

Dalam pelaksanaan Upacara Adat Kawin Cai ada beberapa ikon yang memiliki pemaknaan pesan yang terkandung diantaranya; Pakaian Punduh (sesepuh/ketua adat), Ikat Kepala, Senjata, Alat Musik Sunda, Tarian Adat, Kendi, Batu Kawin.

Semua ikon tersebut sarat akan makna dan hubungannnya dengan tradisi keagamaan yang melekat di masyarakat Desa Babakan Mulya.

Pengaruh Arus Globalisasi yang terjadi hari ini tentunya dapat memberikan dampak terhadap eksistensi dan nilai dari budaya Kawin Cai yang ada di Desa Babakan Mulya.

Globalisasi yang terjadi pun memberikan pengaruh terhadap sikap keagamaan masyarakat secara luas yang bisa saja dengan mudah menjustifikasi budaya tersebut.

Kemudian cepatnya arus informasi ini memudahkan masyarakat mendapatkan informasi tentang budaya lain yang tentu bisa mempengaruhi keberlangsungan budaya Kawin Cai.

Seharusnya dengan budaya tersebut sikap keagamaan yang timbul haruslah menghargai, menerima, menjaga serta melestarikan karena budaya tersebut sarat akan nilai-nilai keagamaan.


Oleh : Reza Maulana
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam
Universitas Islam Al-Ihya Kuningan