KUNINGAN ONLINE – Kabupaten Kuningan yang dikelilingi bukit-bukit membuat masyarakat perlu waspada apabila terjadinya intensitas hujan yang tinggi.
Hal tersebut, dapat berpotensi terjadi bencana longsor di wilayah Kuningan selatan. Bahkan tercatat ada 27 Kecamatan rawan pergerakan tanah dengan kategori menengah hingga tinggi.
“Di Kuningan dari total 32 kecamatan, ada 27 kecamatan rawan gerakan tanah. Hal ini berdasarkan kajian pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi Kementerian ESDM RI,” tutur Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kuningan, Indra Bayu Permana, Senin (7/3).
“Memang kalau berbicara peta kerawanan, itu sebagian besar berada di wilayah selatan. Terutama seperti Darma, Subang, Selajambe, Cilebak, Cipicung, Kadugede, Ciniru, Ciwaru dan beberapa yang lain,” tambah Ibe sapaan akrabnya Indra.
Ibe menerangkan, data yang tercatat memang masih potensi terjadi gerakan tanah. Hanya untuk wilayah yang sudah terjadi pergerakan tanah paling banyak di daerah selatan.
“Misal salah satu yang sampai sekarang masih itu di Cilayung. Sebab sampai sekarang belum tertangani, karena idealnya kita menunggu dulu cuaca hujan berkurang,” terangnya.
Sejauh ini, pihaknya terus memantau perkembangan pergerakan tanah di wilayah Cilayung, Kecamatan Ciwaru. Sebab beberapa titik tanah amblas hingga sedalam 20 sentimeter.
“Kita terus pantau secara manual melalui alat, dan disitu secara swadaya selalu dipantau oleh tim bersama masyarakat. Beberapa waktu lalu ada peningkatan beberapa sentimeter tanah amblas, awal itu 15 sentimeter dan sekarang sudah 20 sentimeter,” ujarnya.
Selain itu, Ibe menyampaikan, untuk perbaikan bisa dilakukan dengan cara pemadatan dari titik tanah yang amblas. Termasuk perbaikan Tembok Penahan Tebing (TPT) yang berada di dekat kawasan sungai, namun wilayah sungai tersebut dibawah kewenangan BBWS.
“Kita belum melakukan perbaikan itu, karena kewenangan tadi untuk daerah sekitar sungai ada dibawah BBWS. Paling sementara akses jalan yang amblas kita tutup dulu agar tidak dilewati oleh masyarakat,” tandasnya.
Lebih jauh, Ia merinci, selama Februari 2022 ada beberapa kejadian kebencanaan yakni diatas 50 titik kebencanaan. Namun tidak ada yang menyebabkan masyarakat harus mengungsi akibat kebencanaan.
“Sebetulnya kita memasuki fase akhir dari siaga darurat hidrometeorologi, karena puncaknya di Februari 2022. Tapi kita juga tidak tahu karena Maret menurut keterangan masih ada, mudah-mudahan intensitas tidak terlalu tinggi karena memasuki peralihan musim kemarau,” pungkasnya. (OM)





