Pernyataan Arteria Dahlan, Rana Suparman Sebut Soekarno Pun Belajar Marhaenisme di Tatar Sunda

Informasi, Politik, Sosial4,081 views

KUNINGAN ONLINE – Arteria Dahlan yang menyampaikan Kajati Pake Basa Sunda harus diganti menimbulkan reaksi dari masyarakat sunda dan menuntut untuk menyampaikan permohonan maaf serta dilakukannya Pergantian Antar Waktu (PAW).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Paguyuban Pasundan Cabang (PPC) Kabupaten Kuningan, Rana Suparman menyampaikan meski beberapa tokoh PDIP Nasional telah menegur Arteria.

Iklan

Tetapi, Ia menjelaskan bahwa Bung Karno (Ir Soekarno, Presiden pertama RI) pun belajar Marhaenisme di Tatar Sunda dan nama Marhaen pun lahir di Pasundan.

“Jadi secara historis, Marhaenisme yang lekat hubungannya dengan PDIP pun lahir di Tatar Sunda,” jelas Rana yang juga Anggota DPRD Fraksi PDIP, Rabu (19/1).

Iklan

“Terkait Arteria Dahlan itu kan sudah ditegur oleh Bung Budi Dalton. Juga tokoh-tokoh Sunda lain, bahkan Ketua DPD PDIP Jabar pun sudah menyampaikan permohonan maaf,” tambahnya.

Dirinya mengaku, bahwa semua elit PDIP pun kalau lagi pidato ada yang suka memasukkan bahasa-bahasa Jawa, bahasa-bahasa daerahnya.

“Dan Pak Kajati pun saat rapat tersebut memasukkan Bahasa Sunda yang disebutkan Arteria,” imbuhnya.

Ucapan Bahasa Sunda yang dikatakan seorang Kajati dalam rapat itu, menurut Rana adalah hal biasa dan itu adalah wujud identitas.

“Ketika perbedaan adalah Taman Sari-nya Nasionalisme, maka perbedaan itu harus ada. Indonesia tidak akan jadi Indonesia, jika Sunda tidak ada, Batak tidak ada, dan suku lain tidak ada,” tuturnya.

Selain itu, kata Rana, Joke-joke bahasa daerah yang sering disampaikan dalam setiap acara kenegaraan sekalipun. Hal itu menunjukkan identitas ke-Indonesia-an.

Kemudian saat ditanya, apakah Arteria Dahlan harus meminta maaf kepada orang Sunda, Rana mengembalikan hal itu kepada pribadi Arteria sendiri.

“Itu kembali pada orangnya ya. Beliau pasti juga ber-refleksi atas apa yang dilakukannya,” ucapnya.

Politisi Senior PDIP itu menyebutkan, bahkan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri pun sering mengamanatkan untuk menjaga kemajemukan.

“Bu Mega itu mengamanatkan untuk menjaga kemajemukan dalam bernegara dan berbangsa,” pungkasnya. (OM)