Mengakar di Tanah, Bertumbuh untuk Bangsa: Refleksi Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah

Galeri, Opini359 views

KUNINGAN ONLINE – Peringatan Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah menjadi momentum reflektif yang tidak sekadar berhenti pada seremoni dan romantisme sejarah. Mengusung tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya”, organisasi kepemudaan ini dituntut untuk menghadirkan makna pertumbuhan yang lebih substansial.

Pertumbuhan tidak hanya dimaknai sebagai ekspansi struktur organisasi, melainkan peningkatan kualitas kader. Sementara itu, “mengakar” tidak cukup menjadi jargon kedekatan dengan rakyat, tetapi harus diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam dinamika ekonomi dan persoalan riil masyarakat.

Iklan

Di Kabupaten Kuningan, arah gerakan tersebut mulai terlihat. Pemuda Muhammadiyah Kuningan mendorong kewirausahaan sosial sebagai basis penguatan kader sekaligus instrumen membangun kedaulatan ekonomi. Langkah ini dinilai relevan di tengah tantangan global seperti krisis pangan, fluktuasi harga komoditas, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Selama ini, organisasi kepemudaan kerap terjebak dalam diskursus tanpa produksi. Namun di Kuningan, kader Pemuda Muhammadiyah mulai bergerak memutus pola tersebut. Mereka tidak hanya aktif berdakwah, tetapi juga terlibat langsung dalam sektor produktif seperti pengelolaan kopi, budidaya markisa, pengembangan ubi, hingga penguatan potensi pertanian lokal di berbagai kecamatan.

Iklan

Pendekatan ini menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan juga ruang ideologis. Di dalamnya terkandung nilai kemandirian, keberlanjutan, serta keadilan distribusi. Keterlibatan kader dalam produksi pangan dinilai sebagai langkah konkret dalam membangun ketahanan nasional dari tingkat lokal.

Meski demikian, gerakan ini dinilai perlu ditingkatkan agar tidak berhenti pada skala komunitas yang sporadis. Dibutuhkan pendekatan yang lebih terukur, terintegrasi, dan berdampak luas. Penguatan kader berbasis kewirausahaan sosial di tingkat kecamatan menjadi langkah strategis, namun harus ditopang dengan desain sistemik yang berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, kader Pemuda Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga pusat inovasi ekonomi berbasis komunitas. Lebih jauh, gerakan yang telah berjalan di Kuningan dinilai sebagai miniatur dari agenda besar bangsa dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Peran strategis kader juga diharapkan mampu menjangkau ranah kebijakan. Data, pengalaman lapangan, serta model pemberdayaan yang telah dilakukan perlu diangkat menjadi rekomendasi kebijakan, mulai dari penguatan petani muda, sistem monitoring berkelanjutan, hingga perluasan akses pasar bagi produk lokal.

Dengan demikian, Pemuda Muhammadiyah dapat tampil sebagai mitra strategis pemerintah, tidak hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai penggerak perubahan.

Milad ke-94 ini menjadi titik tolak konsolidasi gerakan. Bahwa ke depan, Pemuda Muhammadiyah tidak cukup dikenal sebagai organisasi besar, tetapi harus diakui sebagai kekuatan yang produktif, solutif, dan berdampak nyata.

“Mengakar” berarti hadir bersama masyarakat—di kebun kopi, lahan markisa, hingga ladang ubi. Sementara “bertumbuh” berarti meningkatkan kapasitas kader agar mampu mengelola, mengembangkan, dan memperluas dampak dari kerja-kerja tersebut.

Indonesia yang maju, pada akhirnya, tidak lahir dari retorika semata, tetapi dari kerja nyata yang konsisten dan terukur.

Penulis: Alvian R. Nugraha, Bendahara Umum Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kuningan

News Feed