Menafsirkan Islam Berkemajuan dalam Konteks Pendidikan Masa Depan: Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113

Galeri, Opini543 views

Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan

Iklan

Memasuki Milad Muhammadiyah ke-113, kita kembali diingatkan pada warisan pemikiran yang telah menuntun gerak persyarikatan sejak awal berdiri. Gerakan ini lahir bukan semata sebagai organisasi sosial-keagamaan, melainkan sebagai upaya menghadirkan Islam yang aktif memajukan kehidupan, membebaskan umat dari ketertinggalan, dan menegakkan kemanusiaan.

KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa agama harus difungsikan sebagai kekuatan penggerak amal, bukan sekadar teks yang dipelajari tanpa jejak perubahan (Dahlan dalam Suara Muhammadiyah). Ajaran ini menjadi pondasi bagi sistem pendidikan Muhammadiyah yang berkembang hingga kini, sebuah model pendidikan yang memadukan iman, ilmu, amal, dan kemajuan. Pada era kekinian—ketika teknologi digital, kecerdasan buatan, dan globalisasi mengubah pola hidup manusia—pesan Dahlan menjadi sangat relevan: pendidikan harus hadir sebagai ruang pembebasan dan pencerahan.

Iklan

Sejak awal abad ke-20, pembaharuan Dahlan menjadi model keberanian intelektual. Ia memasukkan ilmu pengetahuan modern ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, mengintegrasikan pelajaran agama dan ilmu umum, serta memperbarui metode pembelajaran agar lebih rasional dan efektif (Munir Mulkhan, Pemikiran KH. Ahmad Dahlan). Dalam perkembangan dunia pendidikan hari ini, semangat tajdid tersebut menemukan tantangan baru.

Era digital menuntut peserta didik memiliki literasi teknologi, kemampuan berpikir kritis, serta integritas moral yang kokoh. Dalam perspektif Islam Berkemajuan, pendidikan harus mempersiapkan manusia yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan arah etika.

Haedar Nashir menulis bahwa Islam Berkemajuan merupakan pandangan Islam yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, meneguhkan integritas moral, serta mengedepankan nilai rahmatan lil ‘alamin sebagai landasan peradaban (Nashir, Islam Berkemajuan). Artinya, pendidikan di lingkungan Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata; ia harus menghasilkan manusia yang berkarakter, adaptif, dan bertanggung jawab.

Buya Syafii Maarif, tokoh moral bangsa dan intelektual Muhammadiyah, sering mengingatkan bahwa tugas Islam adalah memuliakan manusia dan memperluas kemanusiaan kita. Dalam berbagai artikelnya, Buya menegaskan bahwa pendidikan harus menumbuhkan kesadaran martabat manusia dan mengasah kepekaan sosial di tengah dunia yang semakin terfragmentasi (Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan).

Pada era ketika disrupsi teknologi menciptakan jarak sosial, polarisasi, serta mentalitas instan, pesan Buya menjadi kompas moral: pendidikan modern harus tetap berpijak pada nilai humanisme universal. Sekolah dan kampus Muhammadiyah dengan demikian tidak hanya menjadi ruang untuk mencetak lulusan unggul, tetapi juga tempat untuk menanamkan empati, toleransi, keadilan, dan moderasi beragama. Nilai-nilai itu sejalan dengan watak Islam Berkemajuan yang menolak ekstremisme dan kekerasan dalam bentuk apa pun (Nashir, 2015).

Di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan dan transformasi digital, Muhammadiyah menghadapi peluang dan tantangan baru. Teknologi bukan hanya alat, melainkan ruang hidup baru yang membentuk pola pikir generasi. Din Syamsuddin pernah mengingatkan bahwa modernisasi harus disertai dengan moralitas; jika teknologi bergerak tanpa kendali etik, maka ia dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan (Syamsuddin, Islam dan Modernisasi).

Dalam konteks pendidikan kekinian, pemikiran tersebut menuntun kita untuk membangun literasi digital dan etika AI sejak dini. Peserta didik perlu dipersiapkan untuk memahami penggunaan teknologi secara kritis, menghindari manipulasi informasi, serta mengembangkan kemampuan kreatif untuk memecahkan persoalan kehidupan. Integrasi teknologi dengan nilai-nilai keislaman yang moderat dan berkemajuan adalah langkah strategis untuk membangun generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga beradab.

Pada saat yang sama, gagasan growth mindset menemukan relevansinya dalam tradisi tajdid Muhammadiyah. Semangat pembaruan yang diajarkan Dahlan—belajar sepanjang hayat, keterbukaan terhadap ilmu modern, dan keberanian berubah—sejalan dengan pandangan bahwa kemampuan manusia dapat berkembang melalui usaha, komitmen, dan lingkungan belajar yang suportif. Haedar Nashir menulis bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang “terus bergerak dan memperbarui diri”, sebuah karakter yang menunjukkan betapa pentingnya mentalitas bertumbuh dalam menghadapi perubahan zaman (Nashir, Gerakan Pembaruan).

Dalam pendidikan, growth mindset seharusnya menjadi budaya: siswa didorong untuk tidak takut gagal, guru memberi ruang pada proses, dan institusi menciptakan iklim pembelajaran yang kolaboratif serta memberi ruang inovasi. Dengan cara inilah pendidikan Muhammadiyah dapat melahirkan generasi resilien yang mampu menghadapi tantangan global.

Selain itu, amal usaha pendidikan Muhammadiyah selama satu abad lebih telah menjadi bukti konkret keberpihakan pada pemberdayaan masyarakat. Sejak masa awal, sekolah-sekolah Muhammadiyah didirikan untuk kelompok kecil yang sebelumnya tidak tersentuh pendidikan modern. Hingga kini, keberpihakan tersebut berlanjut melalui beasiswa, sekolah inklusi, dan program literasi masyarakat.

Gagasan Buya Syafii bahwa Islam harus berpihak pada yang tertindas menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan utama pemberdayaan sosial (Maarif, 2017). Tantangan era digital mengharuskan sekolah dan kampus Muhammadiyah untuk memperluas akses teknologi bagi kelompok rentan, mengurangi kesenjangan digital, serta membangun kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Pendidikan Berkemajuan

Esensi Pendidikan berkemajuan adalah Pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai masa depan; adaptive, survive, responsive. Ketiga nilai itu akan membentuk ruh Pendidikan yang tidak lekang di makan zaman. Ketiga hal itu akan mampu menyikapi segala bentuk perubahan baik segala kebijakan, piranti, pemeran dan lingkungan Pendidikan di masa mendatang. Pendidikan inklusif dan pemberdayaan berbasis teknologi menjadi bagian dari misi Islam Berkemajuan untuk menghadirkan keadilan sosial di dunia modern. Maka Pendidikan berkemajuan akan selaras dengan nilai-nilai besar Islam berkemajuan versi Muhammadiyah.

Refleksi Milad ke-113 ini mengingatkan kita bahwa perjalanan Muhammadiyah masih panjang. Abad kedua gerakan memerlukan rumusan strategi baru tanpa meninggalkan akar nilai. Islam Berkemajuan bukan sekadar konsep teologis atau slogan organisatoris; ia merupakan kerangka etik dan intelektual yang menuntun Muhammadiyah untuk terus mencerahkan semesta.

Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti meneguhkan integrasi ilmu dan iman, menghadirkan proses belajar yang inovatif, mengembangkan teknologi untuk kemaslahatan, serta memperkuat karakter kemanusiaan peserta didik. KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan sederhana itu terus mengilhami gerakan pendidikan Muhammadiyah untuk berorientasi pada layanan, manfaat, dan kemajuan umat.

Pesan besar ini menyiratkan kepada warga Muhammadiyah bahwa mengedepankan pelayanan dengan basis kompetensi dan skil adalah keharusan, memberi dampak manfaat menjadi sebuah kewajiban dan membersamai umat agar tercerahkan dengan keilmuan menjadi tujuan utama.

Menghidupi Muhammadiyah bermakna menggerakkan roda organisasi Muhammadiyah yang kelak mampu menggerakkan kehidupan. Bukan mencari kehidupan sementara organisasinya tidak bergerak. Sehingga, kehidupan yang dibangun oleh Gerakan Muhammadiyah tidak pernah lepas kendali dari urusan keumatan dan kesejahteraan.

Dengan Islam Berkemajuan sebagai kompas intelektual, pendidikan Muhammadiyah akan tetap relevan menghadapi perubahan sebesar apa pun. Ia akan melahirkan manusia yang cerdas, berkarakter, berdaya saing global, dan mampu menjaga martabat kemanusiaan. Pendidikan berkemajuan menjadi symbol penting bagi Gerakan Muhamamdiyah dalam konteks Amal Usaha di bidang Pendidikan.

Gairah organisasi dalam menyambut perubahan zaman menjadi fondasi prinsip untuk menyambutnya. Karena perubahan itu menjadi sebuah keniscayaan, maka pengendali itu harus memiliki prinsp-prinsip berkemajuan. Semoga Milad Muhammadiyah ke-113 menjadi momentum untuk memperkokoh komitmen membangun pendidikan yang mencerahkan, memberdayakan, dan memajukan peradaban. Semoga Muhammadiyah terus bertumbuh dan bermanfaat bagi bangsa dan dunia.