KUNINGAN ONLINE – Metode sosialisasi wawasan kebangsaan yang selama ini bersifat konvensional dinilai tidak lagi efektif bagi generasi muda. Hal itu menjadi alasan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Tina Wiryawati, untuk menghadirkan konsep sosialisasi yang lebih relevan, interaktif, dan menyatu dengan alam.
Bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Barat, Tina menggelar sosialisasi kebangsaan bernuansa nature-based learning di Villa De La Tina, Kuningan.
Politisi Gerindra ini menegaskan bahwa Generasi Z membutuhkan pendekatan yang segar, menyenangkan, dan sesuai gaya komunikasi mereka.
“Gen Z itu kritis dan dinamis. Kalau kita pakai cara lama, duduk diam mendengarkan ceramah berjam-jam, pasti mereka ngantuk dan materinya tidak masuk,” ujar Tina asal Dapil Jabar XIII (Kuningan, Ciamis, Banjar dan Pangandaran).
Konsep kegiatan dibuat lebih interaktif dengan menghadirkan tokoh-tokoh pecinta satwa, aktivis lingkungan, dan figur muda yang dekat dengan dunia mereka. Menurut Tina, kecintaan terhadap alam dan satwa dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.
“Kalau mereka sudah cinta alam Indonesia, otomatis mereka akan menjaga tanah airnya,” jelasnya.
Tina berharap pendekatan yang lebih youthful dan jemput bola ini mampu memperkuat karakter kebangsaan generasi muda sekaligus mempersiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Intinya wawasan kebangsaan itu harus asyik. Kita ingin mereka bangga menjadi Indonesia bukan karena paksaan, tapi karena kesadaran,” tegasnya.
Ketua Kesira Jabar tersebut menekankan bahwa generasi muda harus dipersiapkan sebagai calon pemimpin masa depan.
“Generasi muda harus siap menggantikan generasi senior di legislatif maupun eksekutif. Pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan itu penting agar lahir penerus bangsa yang berintegritas,” ujarnya.
Pihaknya berharap, meski anak muda menempuh pendidikan hingga luar negeri, nilai cinta tanah air tidak boleh hilang.
Selain sosialisasi kebangsaan berbasis alam, Kesbangpol Jawa Barat juga menggelar pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kuningan. Kegiatan ini menyoroti meningkatnya ancaman radikalisme yang kini menyasar pelajar melalui game dan konten digital.
Kabid Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Jabar, Roni Sukmayapanji Kusuma SH MSi, menyatakan bahwa pembentukan karakter harus dimulai sejak dini.
“Pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan bertujuan membentuk jiwa kepemimpinan kompeten, cinta tanah air, dan bersikap bela negara. Nilai luhur Pancasila adalah fondasinya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kesbangpol Jabar, Drs. Wahyu Mijaya SH MSi, menegaskan bahwa radikalisme kini hadir melalui medium yang sangat dekat dengan anak-anak.
“Tidak hanya melalui ceramah, tapi lewat game yang mengandung unsur kekerasan. Ada pola permainan yang mengajarkan perakitan bahan berbahaya dalam bentuk simulasi,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa pada tahun depan Kesbangpol Jabar akan menggandeng Densus 88 untuk memperkuat pencegahan dini, termasuk meningkatkan literasi digital pelajar.
“Ini ancaman nyata. Karena itu, isu terorisme menjadi fokus dan konsentrasi serius kami,” tegasnya.
Kesbangpol Jabar bersama para pemangku kebijakan berharap penguatan karakter, literasi digital, dan pencegahan radikalisme sejak dini dapat memastikan generasi muda tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter, toleran, dan memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh. (OM)





