KUNINGAN ONLINE – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kuningan menggelar Latihan Kader (LK) 1, selama tiga hari (25-27/10/2024) yang diikuti dari kader kampus Uniku, STIKKU dan Universitas Muhammadiyah Kuningan bersama HMI Cabang, di Gedung PUI.
Panitia LK 1, Taufik, panitia LK 1 menyampaikan kegiatan LK 1 merupakan awal bagi kader untuk mengembangkan keilmuan di organisasi HMI.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan sebagaimana rencana. Semoga kader-kader lulusan LK 1 HMI dengan kompetensinya memiliki komitmen, integritas, dan semangat juang yang tinggi. Materi-materi yang disajikan, mulai dari penguatan ideologi, kepemimpinan, hingga isu-isu terkini yang dihadapi bangsa dan materi problem-solving,” ujar Taufik, Senin (28/10/2024).
Ditambahkan Ketua HMI Cabang Kuningan, Eka Kasmarandana, menyampaikan harapannya agar para kader dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
“Latihan kader ini bukan hanya sekadar acara seremonial, tetapi merupakan upaya nyata HMI dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan siap menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Ditempat yang sama, Dr. Ugin Lugina selaku KAHMI Kuningan, mantan ketua HMI Cabang Cirebon 91-92, mensupport peserta LK 1 HMI untuk menjadi pribadi berkualitas dan pribadi Berkelas.
“Penegasan harapan tersebut sejalan dengan substansi HMI sebagai organisasi kader melalui Materi SPI (Sejarah Peradaban Islam) sebagai paket materi dalam kurikulum LK 1,” kata Ugin yang juga menjabat ketua DMI Kuningan.
Ugin menjelaskan, Pribadi berkualitas, adalah pribadi Insan akademis yang mendapat bekal wawasan ilmu, kajian nilai nilai kebenaran, kedisiplinan dan pengenalan lingkungan sosial.
Selanjutnya, modal dasar pribadi berkualitas harus dilanjut untuk menjadi pribadi yang berkelas, yakni pribadi yang elegan, sopan, beradab dan berakhlak mulia.
“Maka itulah yang akan menjadi harga atau nilai mahalnya kader HMI yang kemudian akan diperhitungkan dan disambut sebagai anggota masyarakat atau abdi bangsa,” ujarnya.
Ugin menyemangati anggota baru HMI agar jangan tanggung mengikuti aktifitas di HMI sebagai zona aktifitas ekstra-universiter.
“HMI itu organisasi bergengsi, karena syarat keanggotaanya harus menjadi mahasiswa dan aktifitasnya harus berlangsung dalam posisi sebagai mahasiswa, alias hilang status keanggotaan HMI nya dengan toleransi AD ART HMI kalau sudah dua tahun jadi sarjana,” imbuhnya.
Gerak aktifitas HMI, lanjut Ugin, keistimewaannya tidak sebatas berkutat di lingkungan kampus, tapi bebas aktif dengan independen (tanpa harus dipandu dosen) dalam mengembangkan pembelajaran maupun dalam berkonstribusi untuk keumatan dan kebangsaan, yang berbasis akademis dan keIslaman.
“Sehingga kader HMI jelas tampilannya, yakni sebagai generasi ahli ibadah dan ahli manfaat,” pungkasnya. (OM)





