KUNINGAN ONLINE — Di tengah geliat pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Romantika Bakery hadir bukan sekadar sebagai produsen roti. Lebih dari itu, usaha ini menjadi penggerak ekonomi lokal yang menanamkan nilai gizi, kualitas, dan kebermanfaatan sosial dari dapur sederhana di Kabupaten Kuningan.
Owner Romantika Bakery, Lena Herlina, menuturkan bahwa usaha yang dirintisnya berangkat dari kebutuhan nyata konsumen akan produk roti yang aman, bergizi, dan bebas bahan pengawet.
“Kami bergerak di bidang roti karena ada kebutuhan dari customer. Mereka menginginkan roti yang bahannya aman, tanpa pengawet, dan bergizi ketika dikonsumsi masyarakat,” ujar Lena kepada KuninganOnline.com, Minggu (28/12/2025).
Dengan konsistensi pada kualitas, Romantika Bakery mampu memproduksi sekitar 8.000 roti per hari, bahkan dalam kondisi tertentu bisa meningkat hingga 14.000 roti per hari, menyesuaikan permintaan pasar dan kapasitas peralatan produksi.
Tak hanya berorientasi pada produk, Romantika Bakery juga menanamkan semangat pemberdayaan sumber daya lokal. Dalam operasionalnya, usaha ini melibatkan mahasiswa sebagai pekerja kasual harian. Selain membantu operasional produksi, langkah ini memberi tambahan penghasilan bagi mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus meringankan beban orang tua.
Ruang pemberdayaan juga dibuka bagi ibu-ibu UMKM dan pelaku ekonomi kecil agar tetap produktif dan mandiri.
“Minimal ibu-ibu tidak hanya sekadar berkumpul, tapi bisa bermanfaat dan produktif lewat UMKM, khususnya di bidang makanan,” tambahnya.
Dalam pengembangan usaha, Lena menekankan pentingnya kemampuan UMKM membaca kebutuhan pasar. Menurutnya, produksi tidak boleh berjalan tanpa arah, tetapi harus menyesuaikan dengan permintaan konsumen dan peluang yang sedang berkembang, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“UMKM harus bisa melihat apa yang dibutuhkan market. Jangan asal produksi. Kalau memang mau masuk ke program MBG, produknya harus sesuai kriteria, bergizi, dan disarankan pemerintah,” jelasnya.
Untuk menjaga mutu dan keamanan pangan, Romantika Bakery menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Mulai dari pemilihan bahan baku berkualitas, kebersihan tempat produksi, hingga penggunaan perlengkapan higienis seperti penutup rambut, sarung tangan, dan pakaian kerja khusus, seluruh proses dijalankan secara disiplin.
Dari sisi rasa, Romantika Bakery menawarkan beragam varian favorit seperti abon, cokelat, keju, dan stroberi, yang disesuaikan dengan selera pelanggan. Segmentasi pasarnya pun luas, mulai dari anak muda, agen travel, hingga kebutuhan berbagai event dan kegiatan.
Meski belum memiliki outlet tetap, pemasaran Romantika Bakery mengandalkan sistem by request dan promosi dari mulut ke mulut—sebuah bukti kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk yang dihasilkan.
Di akhir, Lena berharap para pemangku kepentingan, khususnya pengelola program MBG, benar-benar memprioritaskan makanan sehat dari UMKM lokal.
“Makanan ini akan dikonsumsi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Saya berharap yang diprioritaskan adalah makanan yang benar-benar sehat, bergizi, dan aman,” pungkasnya.
Dari roti yang diproduksi setiap hari, Romantika Bakery terus melangkah—merajut cita rasa, memberdayakan UMKM, dan menumbuhkan perekonomian lokal dari dapur sederhana yang penuh dedikasi. (OM)





