KUNINGAN ONLINE – Peringatan Milad ke-16 SMKN 1 Japara dinilai sebagai momentum strategis untuk melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap perjalanan serta arah pengembangan sekolah ke depan. Hal tersebut disampaikan Shohibul Imam saat menghadiri rangkaian kegiatan Milad SMKN 1 Japara, belum lama ini.
Menurut Shohibul Imam, peringatan milad tidak boleh dimaknai sebatas seremoni tahunan, melainkan harus menjadi fase refleksi atas capaian sekaligus kekurangan yang masih perlu dibenahi.
“Milad bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi fase evaluasi dan introspeksi. Tadi saya mendapatkan penjelasan dari Kepala Sekolah bahwa sudah banyak inovasi yang dilakukan, baik pengembangan fisik maupun nonfisik, dalam rangka memajukan SMKN 1 Japara,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Ia mengapresiasi berbagai capaian yang telah diraih sekolah, namun menegaskan bahwa apresiasi tersebut harus dibarengi dengan evaluasi kritis, khususnya dalam menyesuaikan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia industri.
Shohibul Imam menekankan pentingnya sekolah memahami secara serius kebutuhan user industri agar lulusan SMK benar-benar relevan dengan pasar kerja.
“Kita harus bertanya kepada user industri, apa yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka. Contohnya tadi ada industri yang datang langsung ke sekolah melakukan seleksi. Ketika lulusan SMKN 1 Japara diterima di PT Schneider, itu berarti apa yang diajarkan dan dibina di sini memang dibutuhkan oleh industri,” jelasnya.
Ia menyebut prinsip link and match antara pendidikan vokasi dan dunia kerja sebagai kunci utama keberhasilan SMK. Menurutnya, lulusan SMK tidak boleh dibiarkan kebingungan setelah lulus, apakah akan bekerja atau berwirausaha.
“Kita tidak bisa memaksakan semua anak harus jadi entrepreneur atau semuanya harus bekerja. Yang penting mereka dibekali kompetensi sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing,” katanya.
Lebih lanjut, Shohibul Imam juga menyoroti tantangan generasi muda saat ini, khususnya Generasi Z, yang hidup di tengah arus informasi dan teknologi digital yang sangat pesat. Kondisi tersebut menuntut SMK untuk jeli membaca tren kebutuhan tenaga kerja di masa depan.
“Kalau kita lihat tren global, profesi yang dibutuhkan ke depan adalah yang menguasai Artificial Intelligence (AI) dan cyber security. Hampir semua aktivitas sekarang berbasis komputer dan digital. Pertanyaannya, siapa yang memastikan sistem itu aman? Di situlah peran tenaga cyber security sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, maraknya penggunaan teknologi AI seperti ChatGPT maupun Gemini oleh pelajar dan jurnalis menjadi bukti bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dibendung, melainkan harus diantisipasi dengan kesiapan sumber daya manusia.
“Informasi sekarang sangat terbuka. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan anak-anak SMK agar mampu memanfaatkan teknologi itu secara positif dan produktif,” tambahnya.
Sebagai putra daerah Japara, Shohibul Imam mengaku memiliki ikatan emosional dengan SMKN 1 Japara. Ia berharap sekolah tersebut mampu melahirkan generasi muda yang berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
“Kita berharap SMKN 1 Japara bisa melahirkan generasi yang mampu membesarkan Kuningan, baik di tingkat lokal maupun di luar daerah,” tuturnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa peran strategis SMK ke depan adalah berkontribusi dalam pengurangan angka pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja dan penyiapan lulusan yang siap bersaing.
“Kontribusi SMK ke depan adalah job creation, menciptakan lapangan kerja, serta menyiapkan lulusan yang siap kerja maupun siap berusaha,” pungkasnya. (OM)





