Menjelang Setahun Kuningan Melesat, Ini Capaian Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar

KUNINGAN ONLINE – Sejarah sering kali tidak ditulis dari awal yang ideal. Justru lahir dari kondisi serba terbatas, dari ruang-ruang masalah yang menuntut keberanian untuk diselesaikan. Begitulah potret awal kepemimpinan Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, berpasangan dengan Wabup Tuti Andriani yang resmi dilantik pada 20 Februari 2025, mengusung Visi Kuningan MELESAT.

Sebuah periode yang dimulai bukan dari garis start yang rata, melainkan dari kondisi fiskal yang tertekan, tantangan sosial yang kompleks, dan ekspektasi publik yang tinggi.

Iklan

Namun seperti kaleidoskop, kepemimpinan Bupati Dian tidak hanya menampilkan satu warna. Ia bergerak, berputar, dan memperlihatkan potongan-potongan peristiwa yang perlahan membentuk pola.

Di satu sisi, publik menyaksikan sosok Bupati Dian menerima berbagai penghargaan personal: Person of The Year 2025 kategori Top Government in Public Relations, TOP Pembina BUMD, Visionary Leader of Accelerated Economic hingga Anugerah Social Worker Indonesia Teladan Berprestasi atas kepedulian pengembangan kebijkan pembangunan program kesejahetraan sosial, kemanusian dan inklusifitas.

Iklan

Potongan ini menggambarkan figur pemimpin yang piawai membangun komunikasi publik dan arah kebijakan. Tapi di sisi lain, penghargaan itu tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan fragmen lain yang lebih substantif: pengakuan terhadap kinerja pemerintah daerah secara kolektif.

Kuningan meraih predikat Kabupaten Informatif dari Komisi Informasi Jawa Barat sebagai bentuk kepatuhan pada Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik. Selain itu Pinunjul Award pengendalian inflasi untuk keempat kalinya berturut-turut. Kinerja JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum) meningkat.

Kabupaten ini masuk peringkat II Pembangunan Daerah se-Jawa Barat. Di sektor pertanian, aparatur dan petani Kuningan menyabet empat penghargaan KTNA tingkat provinsi. Ketahanan Pangan Award Jabar melalui dua kategori, yakni Gerakan Pangan Murah (GPM) Terbaik dan Neraca Pangan Terbaik.

Fragmen-fragmen ini menyiratkan satu pesan, roda birokrasi bergerak, tidak diam di tempat.Fragmen lain memperlihatkan denyut ekonomi yang menguat. Pada Triwulan II 2025, pertumbuhan ekonomi Kuningan melonjak hingga 10,42 persen terbaik di Pulau Jawa. Meski pada Triwulan III mengalami koreksi, lajunya tetap menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Barat.

Di balik angka-angka itu, ada cerita tentang investasi yang mulai masuk, rencana pembangunan pabrik sepatu bernilai triliunan rupiah, bioskop di tengah kota, serta geliat UMKM dan sektor konstruksi yang menyerap tenaga kerja. Tak hanya itu, Infrastruktur Digital kini hanya menyisakan satu desa blank spot seluler.

Kaleidoskop kemudian berputar ke wajah-wajah para pencari kerja. Dalam 100 hari kerja, pemerintah daerah membuka lebih dari 13 ribu lowongan, dengan ribuan pelamar dan lebih dari seribu tenaga kerja terserap. Angka pengangguran terbuka memang belum sempurna, tetapi menurun sebuah isyarat bahwa kebijakan tidak berhenti pada wacana. Pelayanan Kependudukan Disdukcapil meraih kategori “Baik” dari Kementerian Dalam Negeri, mencakup inovasi pelayanan, pemanfaatan data kependudukan, dan kerja sama antar-OPD.

Di sudut lain, terlihat jalan-jalan desa yang diperbaiki, lampu PJU yang menyala, drainase yang direhabilitasi. Anggaran puluhan miliar digelontorkan untuk 153 ruas jalan dan ratusan titik jalan lingkungan desa. Infrastruktur tidak lagi sekadar janji, tetapi hadir dalam bentuk yang bisa dilalui, dilewati, dan dirasakan.

Lalu kaleidoskop menampilkan fragmen yang kerap luput dari sorotan, tata kelola fiskal. Tunda bayar bayar sebesar Rp 96,7 miliar berhasil dilunasi lebih cepat dari jadwal. Aset-aset mulai dioptimalkan. PAD digenjot dengan cara-cara baru. Ini bukan langkah populer, tetapi justru menjadi fondasi sunyi bagi keberlanjutan pembangunan.

Fragmen yang paling menyentuh barangkali adalah cerita tentang kemiskinan. Angkanya turun menjadi 10,74 persen. Lebih dari dua belas ribu warga keluar dari kategori miskin. Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan ikut menurun. Program PENA dan penunjukan Kuningan sebagai daerah percontohan pengentasan kemiskinan oleh BP Taskin RI menunjukkan bahwa pendekatan yang ditempuh tidak lagi semata karitatif, melainkan berbasis pemberdayaan.

Kuningan juga berkontribusi terhadap peningkatan produksi padi Provinsi Jawa Barat sebesar 10,2 juta ton GKG dan nasional 60,37 juta ton GKG. Sepanjang 2025, diterima 337 unit alat dan mesin pertanian senilai Rp10 miliar.Melalui program unggulan, gerakan GEMA SADULUR, negara hadir bukan sekadar menyalurkan bantuan, tetapi membangun jejaring kepedulianantara pemerintah, lembaga kesejahteraan sosial, relawan, dan masyarakat. fakir miskin, lansia, penyandang disabilitas, penganggur, dan kelompok rentan lainnya tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai warga negara yang memiliki hak untuk bangkit .

“Kami menguatkan rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial, serta pemberdayaan ekonomi produktif dari desa ramah disabilitas, rumah singgah, rehabilitasi rutilahu, hingga bantuan modal usaha fakir miskin semua diarahkan agar masyarakat berdiri dengan harga diri, bukan bergantung tanpa masa depan,” jelas Dian Rachmat Yanuar.

Ketika seluruh fragmen itu dirangkai, tampak satu pola yang semakin jelas. Kepemimpinan ini memang dimulai dari kondisi minus fiskal yang berat, tantangan sosial yang nyata, dan tekanan publik yang besar. Namun dalam waktu yang relatif singkat, persoalan-persoalan utama satu per satu diselesaikan, atau setidaknya diletakkan di jalur penanganan yangbenar.

Menjelang setahun kepemimpinan Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, kaleidoskop itu belum berhenti berputar. Namun arah geraknya terlihat jelas dari beban menuju perbaikan, dari stagnasi menuju akselerasi, dari keraguan menuju kepercayaan yang perlahan tumbuh. Bukan berarti semua telah selesai, tetapi tanda-tanda membaik itu kini nyata dan terukur menjadi modal penting pembangunan berikutnya dengan terus melangkah mewujudkan Kuningan MELESAT (Maju, Empowering, Lestari, Agamis, dan Tangguh).***