KUNINGAN ONLINE – Permasalahan limbah Kotoran Hewan (Kohe) di lereng Gunung Ciremai menjadi pembahasan sejumlah perwakilan dari lintas instansi dan lembaga, tepatnya di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur saja bisa teratasi secara tuntas.
Diskusi yang diinisiasi oleh Aleg DPRD Kuningan, Sri Laelasari dan Kepala Balai TNGC, Teguh Setiawan, menghadirkan sejumlah perwakilan, diantaranya dari Bank Kuningan, Dinas Lingkungan Hidup Kuningan, Dinas Perikanan dan Peternakan Kuningan, Polsek Cigugur, Camat Cigugur, Kepala Desa Cisantana, KSU Karya Nugraha dan peternak setempat.
“Hari ini kita bahas secara komprehensif terkait penuntasan masalah limbah kohe sapi yang belum selesai terutama untuk wilayah Desa Cisantana ini yang pada setiap musim penghujan selalu ada keluhan polusi dari limbah kohe yang disuarakan masyarakat,” ungkap Sri Laelasari yang juga anggota Fraksi Gerindra Bintang DPRD Kuningan ini, Jumat malam.

Diskusi tersebut, Sri menerangkan, pada intinya semua sepakat untuk memberikan bantuan sesuai domainnya masing-masing agar permasalahan limbah kohe di lingkungan masyarakat Desa Cisantana ini cepat selesai.
Pihaknya mengaku mengapresiasi langkah BTNGC yang telah membuat segmen lokasi percontohan penanganan limbah kohe pada peternak di Blok Lamping Kidang.
“Ke depannya, BTNGC juga akan membuat kembali tempat penanganan limbah kohe di titik lain di bagian selatan desa tersebut,” terangnya.
“Kita juga sebenarnya mempertanyakan terkait pembangunan pabrik pengolahan limbah kohe yang peletakan batu pertamanya sudah dilakukan bersama Perumda Aneka Usaha, hingga saat ini tidak terdengar lagi progresnya seperti apa,” tambah perempuan yang juga anggota Komisi 3 DPRD Kuningan.
Terpisah, Kepala Balai TNGC, Teguh Setiawan mengatakan, meski kandang-kandang sapi milik para peternak ini berada di luar kawasan TNGC, namun pihaknya tetap akan membantu agar penanganan limbah kotoran hewannya bisa dikelola secara benar.
“TN sebenarnya pihak yang kena imbas dari limbah ini, karena kandang sapi berada di luar kawasan TN, namun kohenya mengalir ke dalam kawasan TN sehingga jelas akan menggangu aktivitas kegiatan di kawasan. Jadi kita akan upayakan agar limbah tersebut bisa tertangani secara benar,” kata Teguh.
Pihaknya tidak akan bicara ego sektoral, meski sebagai yang dirugikan, akan tetap mengupayakan supaya kohe yang dihasilkan peternakan sapi warga ini bisa ditangani dengan baik.
“Seperti yang kita bangun di Blok Lamping Kidang, yang dulu lokasi itu penuh dengan kohe sekarang terlihat indah bahkan bisa dijadikan spot swafoto. Ini berkat kolaborasi kita bersama masyarakat,” ujarnya.
Di sana, Teguh menjelaskan, penanganan kohe dikonsep menjadi sebuah daya tarik wisata. Pengunjung Lamping Kidang, selain bisa menikmati pemandangan alam juga bisa sambil belajar bagaimana penanganan kohe.
“Kita punya prinsip bagaimana musibah ini menjadi berkah. Semua kotoran hewan yang ada di Lamping Kidang itu, kita olah agar bisa memberikan manfaat buat masyarakat,” kata Teguh.
Pihak TN telah mengerjakan konsep kolaborasi bersama peternak di sana terkait bagaimana mengelola Instalasi Pengelolaan Air Limbah (Ipal) dengan benar.
“Tadi, kami juga mendapat masukan dari Pak Kades Cisantana, bahwa di bagian selatan kohenya belum tertangani. Maka kita di tahun 2022 besok akan menerapkan kembali penanganan yang sama seperti di Lamping Kidang,” imbuhnya.
Upaya yang dilakukan pihak TN ini, Teguh menuturkan, tidak akan berhasil tanpa adanya kerja keras dan komitmen semua pihak yang direalisasikan di lapangan.
“Ini butuh suplemen juga dari berbagai pihak, contohnya dari Pemerintah Daerah. Untuk jangka pendek contohnya, butuh penanganan pipanisasi agar kebocoran kohe bisa ditanggulangi segera. Terus, untuk jangka panjangnya butuh penanganan kohe juga yang di luar kawasan TN, karena itu di luar jangkauan kita, silakan itu domainnya siapa,” tandasnya. (OM)








