Kritik di Medsos, Kusir Delman Dianiaya YO yang Mengaku Garda Depan Bupati

Informasi, Insiden, Sosial3,256 views

KUNINGAN ONLINE – Seorang kusir delman asal Cijoho Landeuh, Cecep Iqbal (28), menjadi korban dugaan penganiayaan setelah kritikan pedasnya terhadap Bupati Kuningan di media sosial memicu reaksi keras. Peristiwa ini terjadi Sabtu malam (20/9/2025) sekitar pukul 20.00 WIB di pos Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Taman Kota Kuningan.

Menurut keterangan saksi dan pihak keluarga, Cecep dipanggil oleh seorang berinisial YO, yang mengaku sebagai “garda depan Bupati.” Tanpa ada dialog, Cecep dipukul sebanyak tiga kali dan dipaksa membuat video permintaan maaf kepada Bupati. Insiden ini meninggalkan luka fisik sekaligus trauma psikologis pada korban.

Iklan

Kritik yang Berujung Kekerasan

Malam minggu yang biasanya ramai pengunjung berubah mencekam. Cecep, yang sehari-hari mencari nafkah dengan mengemudikan delman, tidak menyangka kritikannya di Facebook soal rangkaian lomba Hari Jadi Kuningan akan berbuntut panjang.

Iklan

“Dia hanya berkomentar kenapa tidak ada kegiatan saptonan atau pacuan kuda, karena Kuningan identik dengan Kota Kuda. Komentar itu malah membuatnya dipanggil ke pos dan dipukul. Kami keluarga sangat terpukul,” ujar seorang kerabat korban.

Paguyuban kusir delman di Kuningan mengecam keras insiden ini dan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap warga.

“Kalau ada kritik pedas, seharusnya dijawab dengan klarifikasi dan edukasi, bukan intimidasi apalagi kekerasan,” tegas seorang rekan Cecep di paguyuban delman.

Mereka menilai kejadian ini dapat mencoreng citra Kuningan yang tengah mengusung tagline “Kuningan Melesat.”

Media Sosial dan Kebebasan Berpendapat

Kasus Cecep memperlihatkan ketegangan antara kebebasan berpendapat dan upaya pengendalian narasi di ruang digital. Kritik Cecep seharusnya dipandang sebagai bentuk partisipasi publik, bukan dijawab dengan cara represif.

“Media sosial itu ruang diskusi. Kadang komentar warga memang pedas, tapi pemerintah tidak boleh serta-merta menghukum mereka. Kalau pun ada yang keliru, cukup diedukasi, bukan dipukul,” kata perwakilan dari keluarga Cecep.

Ironisnya, sehari setelah kejadian, YO tidak menyampaikan permintaan maaf, tetapi justru menyatakan bahwa tindakannya adalah konsekuensi wajar atas komentar Cecep yang dianggap berlebihan.

Ujian Komitmen Demokrasi di Kuningan

Insiden ini menjadi ujian besar bagi pemerintah daerah. Publik kini menunggu langkah aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan penganiayaan tersebut dan sikap resmi Bupati Kuningan dalam menanggapi kritik warganya.

“Kuningan bisa melesat hanya kalau pemerintah dan warga saling harmonis. Kalau kritik dibalas pukul, itu bukan melesat tapi mundur ke belakang,” tulis pernyataan bersama komunitas kusir delman.

Jika kasus ini tidak segera diselesaikan, bukan hanya kepercayaan masyarakat yang terkikis, tetapi juga citra “Kuningan Melesat” yang selama ini digaungkan pemerintah akan tercoreng. (OM)