KUNINGAN ONLINE – Polemik seleksi terbuka (open bidding/OB) Sekretaris Daerah (Sekda) Kuningan tahun 2024 kembali menuai tanggapan. Kali ini datang dari Deyunas Akbar Naswil, pemuda asal Kahiyangan Pancalang, yang menyoroti sikap akademisi dalam menyikapi pembatalan hasil seleksi.
Menurut Deyunas, akademisi seharusnya berdiri pada posisi netral, objektif, dan kritis. Ia menilai dukungan penuh akademisi Hermawan kepada Bupati tanpa mengulas dugaan kejanggalan yang ada menimbulkan pertanyaan publik.
“Akademisi bukan hanya pemimpin organisasi, tapi juga panutan yang seharusnya memberi analisis berdasarkan kajian ilmiah. Maka wajar publik bertanya di mana letak sikap kritis seorang intelektual ketika dukungannya tidak disertai pembahasan yang mendalam,” ujarnya, Senin (18/8).
Selain itu, Deyunas menyoroti pembatalan OB Sekda yang telah menelan anggaran ratusan juta rupiah dari kas daerah. Menurutnya, dalam kondisi fiskal yang sulit, kebijakan tersebut keliru karena dana besar itu semestinya bisa dialihkan untuk kepentingan rakyat seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan desa.
“Dengan mendukung OB Sekda baru, sama saja membenarkan penggunaan anggaran yang berpotensi menghamburkan uang rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi penyeimbang, bukan sekadar memperkuat narasi kekuasaan.
“Masyarakat berharap akademisi tidak hanya berbicara soal legitimasi Bupati, tapi juga menyoroti kerugian anggaran akibat pembatalan OB. Kalau hanya satu sisi yang ditonjolkan, itu memperlihatkan adanya jarak dengan kepentingan rakyat,” kata Deyunas.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pembangunan Kuningan tidak hanya membutuhkan duet harmonis antara Bupati dan Sekda, melainkan juga birokrasi yang sehat, transparan, dan benar-benar berpihak pada rakyat. (OM)





