Puspita Cipta Group Klarifikasi Isu Alat Berat di Lereng Ciremai: Fokus Pemulihan Lahan, Bukan Pembangunan Usaha

Sosial, Wisata3,305 views

KUNINGAN ONLINE – Isu penghentian operasi alat berat di lahan lereng Gunung Ciremai, Desa Ragawacana dan Pajambon, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, yang belakangan berkembang menjadi spekulasi liar, akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari manajemen Puspita Cipta Group.

Perusahaan menegaskan bahwa aktivitas alat berat yang sempat dilakukan di lokasi tersebut bukan untuk pembangunan kawasan usaha, melainkan murni untuk pembersihan gulma sebagai bagian dari upaya pemulihan vegetasi lahan.

Iklan

Manajemen mengakui bahwa lahan tersebut merupakan aset milik Puspita Cipta Group yang dibeli dari warga setempat sejak lama. Lahan dengan status ladang itu telah bertahun-tahun tidak produktif akibat keterbatasan air, kontur lereng yang curam, serta minimnya pengelolaan, sehingga ditinggalkan warga dan dipenuhi tanaman liar.

Manajer Agrowisata Puspita Cipta Group, Heri Ruhiyat Taufik (Oyut), menjelaskan bahwa kondisi lahan saat pertama kali dikelola sangat jauh dari kata ideal. Selain penuh gulma, tanaman liar jenis Kaliandra mendominasi hampir seluruh area dan menyebabkan tanaman produktif sulit tumbuh.

Iklan

“Lahan itu sudah lama ditelantarkan. Air sulit, medannya terjal, dan tidak memungkinkan dikelola warga. Kami sempat menanam alpukat, nangka, dan beberapa tanaman produktif lainnya, tapi hampir semuanya mati karena kalah bersaing dengan gulma Kaliandra,” ungkap Oyut saat jumpa pers di Minara House Kuningan, Senin (8/12/2025).

Karena kondisi tersebut, pihak perusahaan kemudian memutuskan melakukan pembersihan secara bertahap. Akses jalan dibuka secara terbatas hanya untuk mendukung distribusi bibit dan kegiatan penanaman kembali.

“Tujuannya bukan membuka jalan permanen, melainkan akses kerja agar penanaman bisa dilakukan. Setelah bersih, lahan ini akan ditanami jati, pinus, Trembesi, Damar, Jamuju, Iprik, Ampleas, Sonokeling, Pohon Pelangi, Kimeng, Saninten, Kawoyang, Kibesi, Pasang dan Kalapataru,” jelasnya.

Kendala Pembersihan Manual dan Alasan Gunakan Alat Berat

Koordinator Lapangan Agrowisata Puspita Cipta Group, Nuky Nurholis, S.P., menambahkan bahwa proses pembersihan gulma secara manual ternyata tidak efektif untuk luasan dan kondisi medan seperti di lereng Ciremai.

Iklan

Menurutnya, pembersihan dibagi dalam beberapa zona. Namun, setelah zona A dibersihkan dan petugas beralih ke zona B, pertumbuhan gulma di zona A kembali terjadi dengan sangat cepat.

“Kaliandra ini tumbuh luar biasa cepat. Ketika zona B masih dikerjakan, zona A yang sudah bersih bisa tertutup gulma lagi. Medannya terjal, tenaga terbatas, sehingga proses manual memakan waktu lama,” ujarnya.

Atas pertimbangan efisiensi dan keselamatan kerja, pihaknya akhirnya menggunakan alat berat untuk mempercepat pembersihan gulma, agar program penanaman bisa berjalan sesuai rencana.

“Alat berat itu hanya untuk membersihkan gulma, bukan meratakan lahan atau membangun sesuatu. Begitu bersih, langsung dilakukan penanaman secara bertahap,” tegas Nuky.

Ia juga membantah keras isu yang menyebut alat berat digunakan untuk pembangunan kawasan usaha, termasuk isu pembangunan sirkuit maupun pengembangan wisata komersial.

“Tidak ada pembangunan apapun. Yang ada rencana jangka panjang adalah membuat hutan tematik untuk kepentingan penelitian, edukasi, dan rekreasi terbatas. Konsepnya laboratorium alam atau arboretum,” terangnya.

Tidak Ada Pembangunan, Tidak Perlu AMDAL Saat Ini

Sementara itu, Kepala Bagian Hukum Puspita Group, Ady Waggos, S.H., M.H., menegaskan bahwa saat ini perusahaan belum memiliki rencana pengembangan usaha di lokasi tersebut. Dengan demikian, aktivitas yang dilakukan tidak memerlukan AMDAL karena tidak ada pembangunan fisik.

“Tidak benar ada pembangunan sirkuit atau proyek komersial lainnya. Kalau ke depan ada rencana usaha, tentu akan diproses sesuai ketentuan, termasuk AMDAL dan perizinan lainnya, berdasarkan master plan yang jelas,” katanya.

Ady juga menekankan bahwa Owner Puspita Cipta Group yang juga Anggota DPR RI, H. Rokhmat Ardiyan, M.M., memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan sejak lama, jauh sebelum isu ini mencuat.

“Komitmen beliau dalam menjaga lingkungan sudah dibuktikan selama bertahun-tahun. Jadi sangat tidak logis jika kemudian dituduh merusak lingkungan,” ujarnya.

Sudah Tanam Puluhan Ribu Pohon, Harap Dukungan Semua Pihak

Sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan, Puspita Cipta Group mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya telah menanam sekitar 20 ribu bibit pohon di kawasan lereng Ciremai tersebut.

Penanaman dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi lahan, dengan fokus pada pohon keras yang berfungsi menjaga struktur tanah, menahan erosi, serta memulihkan ekosistem.

Puluhan Bibit Pohon yang akan ditanam.

Manajemen berharap klarifikasi ini dapat meluruskan berbagai informasi keliru yang berkembang di masyarakat, sekaligus mengajak seluruh pihak untuk mendukung upaya pemulihan vegetasi di kawasan lereng Gunung Ciremai.

“Tujuan kami hanya satu, mengembalikan fungsi lahan agar lebih hijau, lestari, dan bermanfaat bagi lingkungan. Kami terbuka terhadap pengawasan dan masukan dari semua pihak,” pungkas Ady Waggos. (OM)