KUNINGAN ONLINE – Menindaklanjuti surat dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri) no 500/2316/IJ, hal petunjuk teknis penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam rangka pengendalian inflasi di Daerah.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin), U. Kusmana menyampaikan behawa kenaikan harga BBM sampai hari ini belum terdampak terhadap harga-harga pokok di Kuningan.
“Walaupun memang biasanya kenaikan BBM diikuti dengan kenaikan harga bahan-bahan komoditi lain, tapi untuk di Kuningan. Pada hari ini (13/9) kenaikan BBM yang sudah hampir 10 hari lebih belum berdampak secara signifikan,” ujar Uu sapaan akrabnya, Selasa (13/9).
Ia menerangkan, berdasarkan pantauan petugas Diskopdagperin di beberapa pasar di Kuningan disinyalir harga komoditi masih cukup relatif stabil
“Paling yang naik itu dari awal seperti Cabe, dan bawang saja. Itu juga diakibatkan faktor cuaca dan tidak hanya di Kuningan saja,” terangnya.
Ia berharap inflasi untuk wilayah tiga tidak terlalu terpengaruh dengan BBM naik ini.
“Mudah-mudahan kenaikannya juga masih terkontrol, walaupun pak presiden menyampaikan 1,8% diperkirakan kenaikan BBM inflasi di Indonesia. Tapi keinginan pak presiden tetap di bawah 5% inflasi, dan Kuningan masih di bawah 5% termasuk Jawa Barat,” imbuhnya.
Disinggung sudah melakukan monitoring ke SPBU, pihaknya merencanakan untuk Minggu ini bakal melakukan monitoring bersama bidang perdagangan.
“Kami sudah merencanakan untuk melakukan monitoring Minggu ini bersama temen-temen di bidang perdagangan untuk melakukan monitoring ke SPBU termasuk memantau pasokan gas LPG juga, karena kita memang harus selalu hadir ditengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara, kata Uu, disinyalir stok BBM di Kuningan relatif aman. Tidak terlihat seperti di Kabupaten/Kota lain dengan antrian panjang.
“Dan tidak ada yang menjerit kekurangan BBM di Kuningan. Ini mungkin tergambar bahwa Kuningan mampu membeli, meskipun kenaikan harganya BBM ini naik. Di indikasikan masyarakat Kuningan masih mampu membeli BBM, walaupun memang sangat memberatkan karena kebutuhan, iya terpaksa kan,” kata Uu.
Selain itu, Uu menjelaskan bahwa harga komoditas masih relatif stabil bahkan harga telor saja sampai saat ini turun.
Ditengah kenaikan harga BBM, Uu menyampaikan bahwa Diskopdagperin mengantisipasi melalui event diberbagai tingkat dengan mengadakan pasar murah.
“Kemarin kita operasi pasar murah di beberapa tempat terkait dengan antisipasi kenaikan harga-harga pokok, baik di tingkat event Kabupaten, Kecamatan sampai event Desa,” ujarnya.
“Banyak yang meminta kepada kami untuk mengadakan pasar murah, dan kami realisasikan. Dan ini salah satu upaya pemerintah daerah melalui Diskopedagperin harus hadir ditengah-tengah masyarakat dan membantu masyarakat dalam stabilitas harga-harga,” sambungnya.
Ia berharap, kehadiran pasar murah dengan harga-harga yang terjangkau bisa meringankan beban masyarakat.
Sekedar informasi, keputusan kenaikan BBM yakni pertalite dari Rp 7.650 perliter jadi Rp. 10.000 ribu perliter. Solar subsidi dari Rp. 5.150 perliter jadi Rp. 6.800 perliter dan Pertamax non subsidi dari Rp. 12.500 perliter jadi Rp. 14.500 perliter. (OM)




