Di Titik Hening Padjadjaran Cimande, Tradisi Menyapa Zaman

Budaya, Sosial1,040 views

KUNINGAN ONLINE – Waktu seakan melambat di Cimande Awirarangan. Di antara napas para pendekar dan getar alam yang menyelimuti Kuningan, Pencak Silat tidak hadir sebagai tontonan, melainkan sebagai ingatan—tentang asal, tentang nilai, dan tentang jalan pulang sebuah peradaban.

Momentum ditetapkannya Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO dimaknai dengan cara yang tak lazim. Keluarga Besar Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan tidak merayakannya dengan gemuruh seremoni, melainkan dengan titik hening. Sebuah ruang refleksi, tempat tradisi berdialog dengan zaman, dan nilai-nilai leluhur diuji ketahanannya di tengah arus global yang kian deras.

Iklan

Melalui kegiatan Silaturahmi Tradisi Pencak Silat di Masa Kini, Bidang Seni Budaya dan Tradisi menghadirkan pencak silat sebagai bahasa yang hidup—bukan fosil masa lalu. Di ruang ini, silat menanggalkan stigma lama yang kerap melekat padanya: kolot, tertutup, dan alergi terhadap perubahan. Justru sebaliknya, Cimande memperlihatkan wajahnya yang lentur, terbuka, dan bersedia bersua dengan seni serta tradisi lain tanpa kehilangan jati diri.

Pencak Silat, di sini, bukan sekadar rangkaian jurus. Ia adalah etika tubuh, spiritualitas gerak, dan kesadaran batin. Sebuah warisan yang kini telah melampaui batas-batas geografis, diakui dunia, namun tetap berpijak pada tanah tempat ia tumbuh.

Iklan

Malam itu, tradisi menemukan suaranya yang lain. Ibing Buhun Cimande bergerak perlahan, disambut bunyi karinding—alat musik bambu yang sederhana, namun sarat makna. Getarnya tipis, nyaris berbisik, seolah berbicara langsung pada batin. Abdul, pendekar muda Cimande, membiarkan tubuhnya berbicara melalui gerak yang diwariskan, sementara Kang Aris Moris meniupkan napas kehidupan pada karindingnya. Dua tradisi bertemu, bukan untuk saling menundukkan, melainkan saling menguatkan.

Karinding dipilih bukan tanpa sejarah. Jauh sebelum peristiwa budaya ini terjadi, telah terjalin silaturahmi panjang antar pelestari. Dalam proses penulisan Buku Sejarah Karinding Priangan karya Kang Iman Rahman Anggawiria Kusumah—atau Kang Kimung—jejak komunitas karinding di Jawa Barat terdokumentasi dengan rinci.

Salah satunya adalah Karinding Sarungkun Saung Bambu Rarangan, yang tumbuh dari Cimande, digerakkan oleh Endro Setiana bersama para pelajar dan pelestari di Kuningan. Di sanalah, silat dan karinding belajar berjalan berdampingan, saling menjaga ingatan kolektif.

Jejak dokumentasi itu menjadi penanda bahwa pencak silat tak pernah menutup pintu. Ia merangkul ruang akademik, menyambut seni tradisi lain, dan menempatkan kebudayaan sebagai percakapan yang terus berlangsung.

Di hadapan generasi penerus, Ketua Pengurus Keluarga Besar Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan, Dedi Hendriana, menitipkan tiga amanah. Bukan sekadar pesan, melainkan penunjuk arah: menyampaikan pengetahuan dan mewariskan kebaikan; meninggikan derajat dengan ilmu tanpa henti belajar; serta menyadari bahwa gerak silat berakar dari salat—bahwa Mi’raj spiritual itulah sumber ilham pergerakan.

Amanah itu jatuh ke hati para regenerasi sebagai warisan tak kasatmata, lebih berat dari pusaka, namun jauh lebih bernilai.

Kegiatan ini terwujud berkat kebersamaan. Orang tua, pendekar, pelajar, lembaga silat, komunitas seni, hingga media bergandeng tangan. IPSI, PPSI, Pedepokan Bumi Seni Tarikolot, Majelis Seni dan Tradisi (MeSTI) Cirebon, Media Pojok Publisher, dan Media Kuningan Online menjadi saksi bahwa tradisi hanya dapat hidup bila dirawat bersama.

Bagi Keluarga Besar Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan, peristiwa ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah denyut kebudayaan—yang akan terus berulang, menjelma dalam bentuk-bentuk baru, namun tetap berakar pada nilai lama.

Di Cimande Awirarangan, Pencak Silat sekali lagi membuktikan dirinya: tidak pernah usang, tidak pernah tertinggal. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali berbicara.

Asih.
Budi.
Bakti.
Sakti.

Endro Setiana
Pengurus Divisi Seni Budaya dan Tradisi
Keluarga Besar Padjadjaran Cimande Kabupaten Kuningan
Pencak Pusaka Cimande Awirarangan