CIREBON ONLINE – Di balik geliat usaha kecil di sudut-sudut kampung, ada proses panjang yang kerap tak terlihat: belajar, mencoba, jatuh, lalu bangkit kembali. Bagi jutaan perempuan prasejahtera, kesempatan berkembang bukan semata soal tambahan modal, melainkan tentang siapa yang hadir mendampingi dan membuka akses ke peluang yang lebih luas.
Melalui pendekatan pemberdayaan menyeluruh, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menghadirkan dukungan berupa pembiayaan, pendampingan usaha, serta akses jejaring kreatif agar pelaku usaha ultra mikro, mikro, dan kecil dapat tumbuh berkelanjutan.
Di Kota Wali, komitmen tersebut tercermin dalam kolaborasi karya nasabah PNM Mekaar Cabang Cirebon, Ariri, pengrajin batik, dengan desainer ternama Indonesia, Rinaldy Yunardi. Karya kolaboratif itu ditampilkan dan dilelang dalam rangkaian kegiatan Sonderlab x Kaca Kreatif pada 23–26 Oktober 2025. Seluruh hasil lelang didonasikan untuk mendukung pendidikan di Indonesia.
Kolaborasi ini menegaskan bahwa karya pelaku usaha ultra mikro bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa dampak sosial yang lebih luas.
“Saya tidak pernah menyangka usaha batik yang sederhana bisa tumbuh sejauh ini. Terima kasih kepada PNM yang selalu mendampingi, memberi pelatihan, hingga akhirnya saya diberi kesempatan berkolaborasi dengan desainer sekelas Rinaldy Yunardi. Ini bukan hanya kebahagiaan bagi saya, tapi juga kebanggaan bagi keluarga dan daerah saya,” ujar Ariri, Sabtu (21/2/2026).
Selain Ariri, dari lebih dari 22,9 juta nasabah yang telah diberdayakan hingga Januari 2026, Ibu Sri, pengrajin topeng asal Kota Udang, menjadi representasi lain pengusaha yang siap melangkah ke panggung nasional. Sejak 2010, ia menekuni kerajinan topeng yang berakar dari kecintaannya pada seni tradisi. Pengalamannya sebagai penari topeng di Keraton Kasepuhan Cirebon membentuk kedekatan kuat dengan budaya lokal.
Inovasi terus ia lakukan, mulai dari topeng kayu tradisional hingga produk turunan seperti pulpen, pensil, dan magnet kulkas berhias topeng, agar seni tradisi tetap hadir dalam keseharian masyarakat modern.
Momentum penting hadir pada 2022 ketika Ibu Sri bergabung dalam program Mekaar dan memperoleh pendampingan, pelatihan, serta akses pameran. Perjalanan itu berlanjut pada 2025 melalui program Mekaarpreneur, yakni inkubasi usaha intensif selama tiga bulan di Bandung.
Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, menegaskan bahwa pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengusaha memiliki daya saing tanpa kehilangan jati diri lokalnya. Kisah Ibu Sri dan Ariri menjadi gambaran bahwa dengan akses, pembinaan, dan ruang aktualisasi, warisan budaya Cirebon dapat tumbuh sebagai sumber kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Dari batik motif mega mendung hingga topeng penuh makna, perjalanan mereka membuktikan bahwa ketika tradisi bertemu kesempatan, karya dari kampung pun mampu bersinar di panggung nasional. (OM)





