Cegah Diare Pada Anak, Dosen Uniku Dorong Warga Mancagar Olah Limbah Jadi Produk Ekonomi

Pendidikan, Sosial1,562 views

KUNINGAN ONLINE – Kasus diare pada anak di Desa Mancagar, Kecamatan Lebakwangi, masih cukup tinggi. Data Puskesmas setempat mencatat 36 kasus per tahun, atau sekitar 15,6 kasus per 1.000 anak balita. Salah satu penyebabnya, pengelolaan limbah rumah tangga yang belum tertangani secara baik.

Menjawab persoalan itu, tim dosen Universitas Kuningan (Uniku) bersama lintas perguruan tinggi melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Mancagar. Program ini mendorong warga mengolah limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus langkah preventif untuk menekan kasus diare.

Iklan

Sekretaris Desa Mancagar, Nana, menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut.

“Pengolahan limbah rumah tangga adalah solusi strategis untuk mencegah pencemaran dan menekan kasus diare pada anak,” ujarnya.

Iklan

Ketua Tim PkM, Ragel Trisudarmo, M.Kom, menuturkan antusiasme warga menjadi sinyal positif untuk melanjutkan program hingga tuntas.

“Kami ingin memberikan dampak nyata, baik dari sisi kesehatan maupun peningkatan ekonomi keluarga,” katanya.

Kegiatan bertajuk “Pengelolaan Limbah Rumah Tangga sebagai Bentuk Pencegahan Diare pada Anak dan Berdampak terhadap Nilai Ekonomi Masyarakat” ini melibatkan ibu-ibu PKK, kader kesehatan, serta perwakilan pemerintah desa.

Dalam pelaksanaannya, tim dosen lintas disiplin hadir memberikan materi. Dwi Lestari Anugerahwati, S.ST., M.KM dari Politeknik KMC menjelaskan pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Sementara itu, Nurul Siti Jahidah, M.E dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uniku membekali warga dengan pelatihan manajemen usaha, keuangan, dan strategi pemasaran digital.

Selain edukasi, warga juga diajak praktik langsung mengolah limbah, di antaranya minyak jelantah menjadi sabun dan lilin aromaterapi, serta sisa makanan dengan budidaya maggot untuk menghasilkan pakan ternak dan pupuk organik. Hasil olahan ini dikemas higienis dan dipasarkan melalui media sosial maupun marketplace oleh kelompok warga, seperti PKK dan Karang Taruna.

Menurut Ragel, program ini selaras dengan Asta Cita pemerintah, terutama pada pilar peningkatan kualitas hidup, pembangunan berkelanjutan, dan penguatan ekonomi kerakyatan.

“Harapannya, masyarakat bukan hanya hidup di lingkungan yang bersih dan sehat, tapi juga memperoleh peluang usaha baru,” tuturnya.

Melalui pendekatan partisipatif, program ini diharapkan mampu menekan angka diare pada anak sekaligus menciptakan masyarakat yang mandiri, peduli lingkungan, dan berdaya saing ekonomi. (OM)