KUNINGAN ONLINE – Pernyataan Arteria Dahlan yang menyebutkan Kajati Pake Basa Sunda harus diganti menimbulkan reaksi dari masyarakat sunda, termasuk DPD KNPI Kuningan menanggapi hal tersebut.
Menurut Ketua DPD KNPI, Yusup Dandi Asih, Indonesia sebagai negara kepulauan telah tercatat mempunyai 17.000 pulau yang telah terdaftar di UNESCO, serta memakai 718 bahasa dan terdiri dari 1340 suku.
“Keberagaman suku, bahasa, dan agama adalah salah satu yang membuat Indonesia menjadi kuat dan hebat di mata dunia,” tutur Yusup kepada Kuninganonline.com, Kamis (20/1).
Bahkan, kata Yusup, itu pun sekaligus menjadi titik lemah apabila primordialisme dan chauvimismenya mulai kembali di munculkan serta mendominasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita ingat, tidak ada satu suku bangsa pun yang tidak mempunyai pepatah untuk saling menghargai satu sama lain, oleh karena itu Saya menyayangkan ketika ada salah satu public figur yang secara ambiguitas harfiah pernyataanya berhasil menyakiti salah satu suku dan bahasa,” tegas Yusup yang menjabat Kabid Ideologi Politik & Pemerintahan MPC PP Kuningan.
Dia mengatakan, Arteria dahlan sebagai salah satu anggota DPR RI yang di tugaskan di komisi III seharusnya lebih bijak menggunakan diksi dan prosa dalam menyampaikan kritikannya.
“Dia (Arteria,red) menyampaikan pernyataan yang dilontarkan berhasil membuat kegaduhan yang Saya rasa tidak perlu terjdi ditengah bangsa yang sedang dilanda kesedihan akibat pandemi, seyogyanya kita lebih mengedepnkan persatuan untuk bisa bangkit dari krisis yang sedang kita hadapi,” kata Yusup.
“Rasa saling menghargai dan permohonan maaf, Saya kira tidak akan mengurangi kehomatan Arteria Dahlan, apalagi sampai mengurangi gaji dan tunjangan yang dia dapatkan,” sambungnya.
Oleh karena itu, Pihaknya menuntut Arteria Dahlan untuk segera meminta maaf secara terbuka kepada suku sunda khususnya dan kepada bangsa ini.
Karena, Yusup menganggap, pernyataanya Arteria bisa menjadi salah satu pemicu retaknya kebhinekaan yang sudah tersulam indah dalam bingkai NKRI.
“Mari dewasa dalam bertindak dan berbahasa, kekayaan bangsa ini sejatinya adalah kearifan berbudaya, berfikir dan berprilaku,” pungkasnya. (Gie)





