Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.
Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan
Ketika Indonesia hari ini menatap masa depan dengan laju ekonomi yang stabil di angka 5%, ada satu kekuatan sosial-keagamaan yang diam-diam ikut menyalakan mesin kemajuan bangsa: Muhammadiyah. Organisasi Islam modernis yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 itu kini genap berusia 113 tahun-usia yang menandakan kematangan, konsistensi, dan keteladanan dalam membangun peradaban Islam berkemajuan. Muhammadiyah terlahir sebagai sebuah organisasi yang mengidentikkan dirinya sebai sebuah ‘gerakan’ atau movement.
Gerakan yang dimaksud adalah gerak konsisten dan visioner untuk terus adaptif, survive, dan mengendalikan zaman. Ketiga hal karakteristik sederhana itu yang menjadikan Muhammadiyah mengalami lompatan yang tidak sekedar naik level akan tetapi melampaui zaman dalam kiprahnya.
Tahun ini, dalam Milad ke 113, Muhammadiyah mengangkat tema Milad: “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Sebuah tema yang bukan hanya seruan moral, tetapi refleksi mendalam tentang arah perjuangan Muhammadiyah di abad keduanya: bagaimana dakwah dan amal usaha berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup umat dan mengokohkan fondasi bangsa.
Muhammadiyah di abad kedua tidak sekedar berbicara Muhammadiyah secara stabilitas organisasi, akan tetapi Muhammadiyah dalam konteks kesemestaan yang lebih luas dan lebih berdampak. Maka, istilah ‘bangsa’ menjadi symbol keluasan gerak Muhammadiyah yang berani menjadi pelopor keberlanjutan perjuangan para founding fathers di negeri tercinta ini. Muhammadiyah hadir untuk mensejahterakan bangsa dan merawat semesta dengan nilai religiusitas dan sosial sebagai fondasinya.
Dari Dakwah ke Amal Peradaban
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, melainkan gerakan tajdid—pembaharu yang menghadirkan Islam dalam wujud paling nyata: ilmu, amal, dan pelayanan sosial. KH. Ahmad Dahlan menafsirkan ajaran Islam bukan hanya dalam bentuk ibadah ritual, melainkan dalam bentuk aksi sosial yang menolong sesama.
Orientasi sosial kemasyarakatan adalah isu strategis yang sudah digaungkan oleh beliau. Sehingga, hal yang paling sederhana bis akita lihat dari ajaran beliau adalah bagaimana beliau bertanya kepada para muridnya tentang apa yang bisa dilakukan setelah melakukan ibadah sholat lima waktu agar aplikasi nilai religious itu hadir di tengah masyarakat dan terasa manfaatnya.
Pertanyaan menohok yang nampak biasa ternyata memberi nilai yang sangat luhur Ketika dikaji. Bagaimana mungkin seorang insan dengan tingkat ketaatan tinggi dalam ibadah vertikalnya (hablum minallah) sementara abai terhadap kesholehan sosialnya (hablum minannas) akan disebut sebagai pribadi yang paripurna. Tentu tidak, keseimbangan antara kesholehan individu dan sosial menjadi terpadu dalam kehidupan manusia, inilah esensi seruan yang selalu diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan saat itu.
Kini, spirit itu telah menjelma dalam ribuan amal usaha di seluruh Indonesia. Berdasarkan data Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah (2025), terdapat lebih dari 165 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, 11.000 sekolah dan madrasah, serta ratusan ribu pendidik dan tenaga kependidikan yang setiap hari melayani anak bangsa.
Di bidang kesehatan, Muhammadiyah mengelola sekitar 120 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik. Dan jumlah ini masih dinamis sesuai dengan semangat para pengurus Muhammadiyah dalam berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Sementara dalam bidang filantropi, LAZISMU telah menyalurkan lebih dari Rp2,3 triliun untuk pendidikan, ekonomi umat, kebencanaan, dan layanan sosial selama tahun 2023. Ini bukan hanya statistik administratif, tetapi bukti konkret bahwa dakwah Muhammadiyah telah bertransformasi menjadi amal peradaban. Transformasi dakwah kearah pembangunan Peradaban adalah ciri khas Gerakan Muhammadiyah.
Dakwah yang ikhlas dilakukan dengan segala perilaku untuk peningkatan kualitas religiusitas umat, sementara keberlanjutan Dakwah itu sendiri ditopang dari sisi penguatan ekonomi melalui Gerakan operasional di berbagai Amal Usaha Muhamamdiyah maupun Gerakan filantropi lainnya.
Sehingga, perpaduan antara Gerakan dakwah melalui topangan Amal Usaha ini menjadikan peradaban lahir dan menguat. Peradaban dalam konteks ini adalah pemahaman individu maupun golongan terhadap nilai religiusitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Sehingga, membangun manusia yang berakhlak mulia dengan etos kerja tinggi terwujud dengan baik.
Kontribusi Nyata pada Pertumbuhan Ekonomi
Dalam konteks ekonomi makro, kontribusi Muhammadiyah memang jarang disebut dalam laporan resmi negara, namun dampaknya begitu terasa di akar rumput. Pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di kisaran 5% juga digerakkan oleh ekosistem pendidikan, kesehatan, dan sosial-keagamaan yang Muhammadiyah bangun.
Sebuah universitas Muhammadiyah di daerah, misalnya, tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga motor ekonomi lokal. Ribuan mahasiswa memicu geliat sektor kuliner, perumahan, transportasi, hingga usaha mikro. Demikian pula rumah sakit dan sekolah Muhammadiyah yang membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat sekitar.
Dengan cara yang sunyi namun signifikan, Muhammadiyah telah menjadi penggerak ekonomi rakyat berbasis nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Di sinilah makna kesejahteraan yang sejati—tidak hanya tentang pertumbuhan, tetapi juga keberkahan.
Teologi Al-Ma’un dan Ekonomi Keadilan
Apa yang dilakukan Muhammadiyah sesungguhnya bersumber dari satu ajaran kunci yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan: Surah Al-Ma’un. Ajaran ini menegaskan bahwa keberimanan seseorang harus diwujudkan dalam kepedulian sosial, menolong anak yatim, dan memperhatikan kaum miskin. Dalam konteks modern, tafsir sosial ini menjelma menjadi ekonomi keadilan-di mana Muhammadiyah bukan hanya menolong, tetapi juga memberdayakan.
Melalui program UMKM Berdaya LAZISMU, koperasi syariah, dan microfinance Muhammadiyah, ribuan pelaku usaha kecil mendapatkan akses modal, pendampingan, dan pelatihan. Gerakan ini menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan kemiskinan dan memperkuat ekonomi umat yang berdaya saing.
Sebaran kebermanfaatan juga dilakukan dengan kekuatan Amal Usaha Muhammadiyah yang secara grafik terus mengalami kenaikan. Dari animo masyarakat yang memercayakan puta-putrinya, saudara, handai taulan untuk menimba ilmu di Lembaga Pendidikan Muhammadiyah telah turut menyebarluaskan Gerakan Al-Maun dalam konteks yang lebih luas dan lebih meresap ke akar rumput.
Visi Abad Kedua: Dari Gerakan Sosial ke Gerakan Peradaban
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah menghadapi tantangan baru: digitalisasi, perubahan nilai, hingga ketimpangan sosial yang kian kompleks. Namun di tengah disrupsi itu, Muhammadiyah tetap memiliki kekuatan epistemologis dan moral untuk memimpin arah perubahan.
Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah adalah Islam yang menjawab tantangan zaman—melalui pendidikan berkarakter, dakwah digital yang mencerahkan, dan ekonomi umat yang mandiri. Dunia pendidikan Muhammadiyah harus melahirkan generasi yang tangguh, berjiwa growth mindset, dan adaptif terhadap perubahan teknologi.
Sementara lembaga filantropi harus menjadi poros social impact yang berkelanjutan, bukan sekadar penyaluran dana.Dengan orientasi itu, Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai gerakan sosial, tetapi sebagai gerakan peradaban—yang menyeimbangkan spiritualitas, ilmu, dan kemanusiaan.
Kini, kiprah Muhammadiyah telah melampaui batas nasional. Melalui Muhammadiyah Aid dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), organisasi ini aktif membantu korban bencana, baik di dalam negeri maupun luar negeri, termasuk di Palestina dan Myanmar.
Di tingkat global, Muhammadiyah menjadi salah satu wajah Islam Indonesia yang moderat, rasional, dan damai—model Islam yang mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan spiritualitas. Dunia melihat bahwa dari Indonesia, Islam bisa menjadi kekuatan yang menumbuhkan kemajuan, bukan konflik. Milad ke-113 bukan sekadar perayaan umur panjang, tetapi momentum untuk memperkuat arah gerakan: menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi kemajuan dan kesejahteraan.
Di tengah tantangan zaman, Muhammadiyah terus menjadi obor pencerah bangsa—menyebarkan ilmu, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan kasih sayang di tengah kehidupan. Ketika angka pertumbuhan ekonomi nasional bertahan di 5%, Muhammadiyah mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati tidak hanya terletak pada statistik ekonomi, tetapi pada tumbuhnya manusia-manusia beriman, berilmu, dan beramal. Itulah wajah Islam berkemajuan: dari Muhammadiyah, untuk Indonesia, dan untuk kemanusiaan semesta.
Selamat Milad ke 113 untuk Muhammadiyah Tercinta.





