Setiap orang boleh berteriak merdeka sebagai ekspresi kecintaannya terhadap NKRI, boleh verbal secara lugas, “I love You Full” seperti Mbah surif sang musisi legendaris, bahkan ada yang mengebu- gebu dan gemar berselogan heroik, “Aku Indonesia, Aku Pancasilais”, bahkan ada yang dengan lantang berteriak” NKRI harga Mati” apakah salah? tentu tidak …
Ada juga yang tidak suka teriak secara verbal, ia cukup pamer tulisan di kaosnya dan atribut lainnya “I Love You Indonesia” atau sekedar mengibarkan bendera dan assesoris sejenisnya depan rumahnya bahkan Ada yang rela naik ke puncak gunung hanya untuk mengibarkan bendera. apakah itu salah tentu tidak…
Ada juga yang senang secara simbolis, seperti kirab cinta negeri, ritual sosial kebangsaan seperti lomba-lomba baik yang nuansa tradisyonal seperti panjat pinang, kelereng, tarik tambang, balap karung atau yang semi modern dance, kidung, tari dll ada juga dalam bentuk apel upacara bendera, malam renungan suci dan muhasabah atau sekedar kumpul bareng keluarga dan warga lingkungan hanya sekedar makan-minum saja. apakah itu juga salah?? tentu tidak..
Ada juga yang ekspresi cintanya terhadap negeri dalam bentuk kritik tajam tentunya konstruktif, pikirnya mungkin untuk pendewasaan tanpa memanjakan, seperti bawelnya seorang ibu terhadap anaknya yang cintanya tulus dan suci lahir bathin agar tak salah arah dan jalan. Apakah itu juga salah??? tentu juga kita jawab Tidak…
Karena baginya hakikat cinta bukan memanjakan dan membiarkan yang dicintainya terjerumus dalam lembah kenistaan. Cinta baginya ketulusan hati disertai mendidik dan mendewasakan, memberdayakan, memajukan dan membebaskan, boleh jadi itu yang dijadikan prinsif Rocky Gerung ketika melontarkan kritikan tajamnya.
Gabriel Marcel dalam filsafat eksistensialismenya, menyatakan bahwa cinta memerlukan sikap setia dalam membangun hubungan dengan yang dicintainya. Karena kesetiaan cinta akan melahirkan kesedian dan keberanian mengambil resiko yang irasional sekalipun, dinginnya penjara seperti yg dialami Hamka, Habib Rizik Shihab dll. Itulah cinta.
Ekspresi cinta negeri pun ada yang ditunjukan lewat aksi peduli tanpa pakai kata-kata, seperti menjadi sukarelawan membantu saudaranya yang terkena musibah; banjir, gempa bumi, kebakaran, tsunami dan aksi kemanusian lainnya meskipun nyawa sekalipun taruhannya. Boleh jadi khidmat mereka untuk negeri di ruang-ruang sunyi tanpa publikasi, serta retorika yang sarat pencintraan, tulus tanpa cinta yg sarat kepalsuan. seperti cinta tulusnya Hayati menanti cintanya Zaenudin dalam novelnya Prof Hamka, tenggelamnya kapal Van der Wick.
Apakah itu juga salah?? jawabannya masih, Tentu tidak…
Ketulusan cinta mereka tidak setulus mereka yang secara ekspresif teriak “cinta” padahal sesungguhnya “cinta” akan proyek dan “haus” akses kuasa agar beroleh previlage diri untuk menguras bumi, alam, kekayaan dan hajat hidup (atas nama) rakyat.
Cinta palsu nya sering di bungkus dengan menggelorakan seolah lebih cinta NKRI, lebih pancasilais dan pro kebinekaan serta deklarasi dengan idiom-idiom kebangsaan lainya. Namun boleh jadi (bukan syu’dzon) disaat yang sama menyelinap di relung hatinya untuk mengejar keuntungan diri secara politik, ekonomi dan akses pamrih lainnya tanpa rasa puas dan kenyang setia menunggu satu demi satu proyek. Seperti setianya anjing penunggu sang Ashabul Kahfi di luar gua sampai 309 tahun.
Ketika realitas negeri yang kita cintai tersandra dan digerogoti para koruptor, petualang politik, pemburu ekonomi yang haus kekayaan alam dan haus kuasa. Masih layakah kita teriak merdeka…
Ketika negeri ini masih membagikan kondom gratis kepada pelajar dan menghalalkan perzinahan, sementara jilbab di haramkan. Masih pantaskah kita teriak merdeka.
Ketika kebebasan beragama menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya yang secara lugas terjamin di UUD 45, harus di kebiri untuk dan atas toleransi. Masih beranikah kita teriak Merdeka…
Ketika korban judi online, game online sudah banyak bergelimpangan, sementara para bandarnya masih bebas berkeliaran seolah kebal hukum. Masih pantaskah kita teriak merdeka…
Ketika angka pengangguran domestik meningkat tajam sementara impor tenaga asing semakin tak terbendung. Masih beranikah kita teriak merdeka…
Ketika kesempatan belajar dan kuliah anak bangsa potensial harus berguguran karena tersandung tingginya UKT. Masih beranikah kita lantang teriak merdeka…
Ketika dan ketika… Kemerdekaan ingin kita rayakan, tapi aroma penjajahan struktural masih kita rasakan. Jangan biarkan negeri dan bangsa ini seperti “kasur tua” seperti kata sastrawan WS Rendra. Cinta sejati tak ingin menyaksikan Indonesia ysng dicintainya hidup nestapa.
Kelu dan bisu rasanya untuk teriak Merdeka… lantas … masih layakan kita dengan pongah dan bangga berteriak MERDEKA ????
Penulis
Khaerul Anwar, S. Ag., M.Pd.I









