Seren Taun 1959 Saka Sunda Capai Puncak, Teguhkan Pancasila dan Warisan Budaya untuk Masa Depan Bangsa

Budaya, Sosial592 views

KUNINGAN ONLINE – Upacara adat Seren Taun 1959 Saka Sunda di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, mencapai puncaknya pada Senin (8/6/2026). Tradisi tahunan yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini kembali menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, serta refleksi kebangsaan yang meneguhkan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal.

Ketua Pelaksana Seren Taun 2026, Dewi Kanti Setianingsih, menegaskan bahwa Seren Taun bukan sekadar ritual syukuran masyarakat agraris, melainkan juga media untuk menyampaikan pesan sosial, budaya, dan kebangsaan kepada masyarakat luas.

Iklan

Tahun ini, Seren Taun mengusung tema “Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa”, yang dipilih bertepatan dengan momentum Bulan Pancasila yang diperingati setiap bulan Juni.

“Pancasila adalah prasasti peradaban kita sebagai bangsa. Seren Taun tidak hanya menjadi seremonial tradisi, tetapi memiliki visi dan misi untuk menyampaikan konteks situasi sosial yang terjadi di masyarakat,” ujar Dewi Kanti di hadapan ribuan warga dan tamu undangan yang memadati kawasan Paseban Tri Panca Tunggal.

Iklan

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Seren Taun telah berlangsung sejak 3 Juni 2026 dan merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang diwariskan oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibasa Kusumah Wijayaningrat, pendiri Paseban Tri Panca Tunggal.

Menurutnya, keberlangsungan Seren Taun selama lebih dari 100 tahun menjadi bukti ketahanan budaya masyarakat adat Cigugur yang terus mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Dewi Kanti juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam upaya pemajuan kebudayaan. Kehadiran delegasi budaya dari Bali selama rangkaian Seren Taun dinilai membuka ruang sinergi yang lebih luas antara budaya Bali dan Tatar Sunda.

“Cigugur bukan hanya milik Cigugur, bukan hanya milik Kuningan dan Jawa Barat. Ini adalah persembahan kami untuk bangsa Indonesia, warisan dari para leluhur,” katanya.

Selain prosesi ritual adat, Seren Taun 2026 juga menghadirkan pameran artefak dan pusaka koleksi Paseban Tri Panca Tunggal. Berbagai benda bersejarah tersebut ditampilkan sebagai sarana edukasi publik mengenai jejak peradaban dan perjalanan panjang budaya Sunda.

Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI, I Made Dharma Suteja, yang mewakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat adat Cigugur dalam menjaga dan melestarikan tradisi leluhur.

Menurutnya, budaya pertanian yang menjadi akar dari tradisi Seren Taun merupakan warisan adiluhung yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Upacara-upacara pertanian harus dilestarikan. Yang dijaga bukan hanya tradisinya, tetapi juga lahannya, airnya, dan para petaninya. Tanpa itu semua, siklus kebudayaan pertanian tidak akan bisa bertahan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan hidup. Alam, menurutnya, merupakan sumber kehidupan sekaligus ruang tumbuh dan berkembangnya kebudayaan.

Karena itu, masyarakat diajak untuk terus merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, siap mendukung berbagai upaya perlindungan budaya yang dilakukan masyarakat, termasuk melalui pendokumentasian dan penyebarluasan informasi mengenai tradisi-tradisi lokal yang masih hidup di berbagai daerah.

Puncak Seren Taun 2026 turut dihadiri Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, Ketua DPRD Kabupaten Kuningan Nuzul Rachdy, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Ika Rahmatika, para tokoh adat, pimpinan keraton dan kasepuhan dari berbagai wilayah Tatar Sunda, tokoh lintas agama, serta masyarakat dari berbagai daerah.

Melalui perhelatan ini, Seren Taun kembali menegaskan perannya sebagai ruang perjumpaan budaya yang tidak hanya merawat tradisi masa lalu, tetapi juga membangun fondasi peradaban untuk masa depan bangsa. (OM)