Rektor UM Kuningan Wawang : Kepemimpinan IMM Harus Inspiratif dan Berbasis Manajemen Profesional

Pendidikan, Sosial300 views

KUNINGAN ONLINE — Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan, Dr. apt. Wawang Anwarudin, M.Sc., menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) harus menjadi sumber inspirasi, bukan patronisasi.

Kepemimpinan IMM dituntut mampu mematerialisasikan nilai kepemimpinan profetik, kepemimpinan Muhammadiyah, dan visi IMM secara utuh dalam praksis organisasi.

Iklan

Hal tersebut disampaikan Rektor saat menjadi pemateri dalam kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat (PK) IMM Fakultas Farmasi, Kesehatan, dan Sains (FFKS) Universitas Muhammadiyah Kuningan, Jumat (26/12).

Dalam pemaparannya, Wawang menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan membangun rasa hormat, pengakuan, kepercayaan, ketaatan, dan loyalitas dalam mengarahkan organisasi menuju tujuan bersama. Kepemimpinan juga dimaknai sebagai proses memengaruhi dan menggerakkan aktivitas organisasi agar selaras dengan nilai dan misi perjuangan.

Iklan

“Pemimpin IMM harus mampu menghubungkan kecerdasan intelektual, kematangan moral, dan peran nyata di tengah masyarakat, yang seluruhnya berbasis pada nilai-nilai ideologis IMM,” tegasnya di hadapan peserta DAD.

Kaderisasi Menuju Ulama–Intelektual

Rektor menekankan bahwa tujuan utama kaderisasi IMM adalah melahirkan sosok Ulama–Intelektual atau Intelektual–Ulama, yakni kader yang memiliki keluasan ilmu pengetahuan umum dan agama, serta kepekaan sosial yang tinggi. Kader IMM diharapkan militan dalam nilai, adaptif terhadap perubahan, kritis dalam analisis, dan produktif dalam kontribusi nyata.

Iklan

Ia juga menggarisbawahi lima sifat utama kepemimpinan yang harus melekat pada kader IMM, yakni shiddiq (jujur), amanah, tabligh (komunikatif), fathonah (cerdas), dan adil, yang harus tercermin dalam perilaku kepemimpinan sehari-hari. Prinsip kepemimpinan IMM, lanjutnya, berpijak pada musyawarah, kebijaksanaan, perbaikan berkelanjutan, serta keadilan dengan orientasi visi jangka panjang.

Manajemen Organisasi Profesional

Pada sesi berikutnya, Wawang menguraikan pentingnya manajemen organisasi yang profesional sebagai kunci keberhasilan IMM. Manajemen tersebut mencakup empat fungsi utama, yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, yang dijalankan secara efektif dan efisien.

Dalam aspek perencanaan (planning), IMM diarahkan menyusun Rencana Strategis (Renstra) berbasis Trilogi IMM—Keislaman, Kemahasiswaan, dan Kemasyarakatan—dengan menetapkan program unggulan seperti DAD dan Sekolah Kader Profetik, lengkap dengan timeline dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Sementara itu, pengorganisasian (organizing) diwujudkan melalui struktur kepengurusan yang jelas serta penempatan kader sesuai minat dan kompetensi, sehingga mendorong soliditas tim dan kejelasan tanggung jawab.

Pada tahap pelaksanaan (actuating), pimpinan IMM dituntut mampu memberikan motivasi ideologis amar ma’ruf nahi munkar, membangun budaya musyawarah, serta menggerakkan kader melalui diskusi keilmuan, rapat rutin, aksi sosial, dan advokasi mahasiswa.

Adapun pengawasan (controlling) dilakukan melalui evaluasi berkala, laporan pertanggungjawaban (LPJ), pengawasan moral dan ideologis, serta koreksi terhadap program yang tidak berjalan efektif atau menyimpang dari tujuan organisasi.

IMM sebagai Motor Pembaruan

Menutup materinya, Rektor menegaskan bahwa manajemen organisasi IMM yang berjalan optimal akan melahirkan kader yang berakhlak islami, kritis, intelektual, dan berjiwa sosial. Dengan demikian, IMM akan tampil sebagai organisasi mahasiswa yang disegani serta menjadi mitra strategis kampus, Persyarikatan Muhammadiyah, dan pemerintah.

“Manajemen organisasi yang baik adalah kunci keberhasilan IMM dalam mencetak kader intelektual, religius, dan berdaya guna. IMM harus menjadi motor penggerak ide-ide pembaruan yang berkemajuan,” pungkasnya. (OM)