Meneladani KH. Ahmad Dahlan, IMM UM Kuningan Wujudkan Dakwah Al-Ma’un Melalui Aksi Nyata di Milad Muhammadiyah ke-113

KUNINGAN ONLINE — Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-113 yang mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) gabungan Pimpinan Komisariat Universitas Muhammadiyah (UM) Kuningan menggelar pengajian reflektif bertajuk “Aktualisasi Nilai Trilogi dan Trikoda: Jalan Kader Menuju IMM yang Berdaya dan Berkarakter.”

Kegiatan yang digelar di Masjid Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Kuningan ini dihadiri oleh para kader IMM dari berbagai komisariat, dosen pembina, serta perwakilan organisasi otonom Muhammadiyah di lingkungan kampus.

Iklan

Dalam sambutannya, perwakilan panitia menyampaikan bahwa pengajian tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang reflektif bagi kader untuk memperkuat identitas keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan sebagaimana nilai-nilai dalam Trilogi IMM.

“IMM diharapkan menjadi wadah pembentukan insan berkarakter Islam yang memiliki kesadaran moral, daya pikir kritis, dan kepekaan sosial,” ujarnya.

Iklan

Trilogi dan Trikoda, Ruh Gerakan IMM

Pemateri utama, Sukisno, M.Pd, selaku Direktur Akademik dan AIK Universitas Muhammadiyah Kuningan sekaligus senior IMM, menegaskan bahwa Trilogi IMM — religiusitas, intelektualitas, dan humanitas — serta Trikoda IMM — keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan — merupakan ruh gerakan yang harus terus dihidupkan oleh setiap kader.

Ia juga menyoroti besarnya kiprah Muhammadiyah di dunia.

“Saat ini Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terbesar keempat di dunia dengan total kekayaan mencapai sekitar Rp460 triliun. Semua itu diwujudkan dalam ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Namun demikian, Sukisno mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut tidak akan berarti tanpa peran aktif para kader dalam menjaga dan melanjutkan perjuangan persyarikatan.

“Tugas kita sebagai kader Muhammadiyah adalah menjaga eksistensi persyarikatan, salah satunya dengan membesarkan organisasi otonom seperti IMM,” tegasnya.

Menghidupkan Teologi Al-Ma’un Melalui Aksi Sosial

Lebih lanjut, Sukisno menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah bukan pada kemampuan beretorika, tetapi pada aksi nyata yang berlandaskan semangat teologi Al-Ma’un. Dalam kesempatan tersebut, para kader IMM turut menggalang donasi sosial yang disalurkan kepada anak yatim dan masyarakat sekitar.

“Muhammadiyah dikenal bukan karena banyak bicara, tetapi karena banyak bekerja. IMM harus meneladani semangat itu—menjadi kader yang aktif dalam amal nyata, bukan hanya dalam wacana,” ujarnya.

Ia juga mengutip QS. Ibrahim [14]: 24, “Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit.”

Makna ayat ini, kata Sukisno, menggambarkan bahwa IMM harus memiliki akar ideologi yang kuat dan menghasilkan amal saleh yang bermanfaat bagi umat.

Soliditas dan Spirit Inklusif Muhammadiyah

Dalam ceramahnya, Sukisno mengibaratkan IMM seperti bangunan kokoh yang berdiri atas dasar solidaritas dan kepedulian. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW;

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan tolong-menolong seperti satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi eksklusif, melainkan terbuka bagi siapa pun yang berkomitmen pada nilai-nilai kebenaran dan kemajuan.

“Siapa pun bisa menjadi kader Muhammadiyah selama berkomitmen pada prinsip kebenaran. Namun jika sudah berada di Muhammadiyah, maka yang dijaga dan dibesarkan adalah persyarikatannya,” pesannya.

Ungkapan populer “Jika tiga orang Muhammadiyah berkumpul, maka akan lahir sekolah, masjid, atau rumah sakit” juga disebutnya sebagai bukti nyata bahwa Muhammadiyah adalah gerakan amal, bukan sekadar simbol.

Kader IMM, Agen Perubahan dan Pelanjut Gerakan

Kegiatan pengajian diakhiri dengan sesi refleksi kader, di mana peserta berbagi pengalaman mengimplementasikan nilai Trilogi dan Trikoda dalam kehidupan kampus.
Berbagai gagasan muncul, seperti pembentukan komunitas literasi dan riset, program IMM Peduli di desa binaan, dakwah digital kreatif, hingga mentoring akademik dan spiritual antarmahasiswa.

Semangat ini mencerminkan aktualisasi nilai religiusitas, intelektualitas, dan humanitas yang menjadi ciri khas kader IMM.

Di akhir kegiatan, disampaikan pesan peneguhan bahwa IMM harus terus menjadi pelanjut perjuangan Muhammadiyah dalam membangun masyarakat berkemajuan.
Melalui Trilogi dan Trikoda, kader IMM diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang anggun dalam moral, unggul dalam intelektual, dan radikal dalam gerakan—serta menjadi bagian dari ikhtiar besar Muhammadiyah untuk memajukan kesejahteraan bangsa. (OM)

Iklan