Kawin Cai Jadi Laboratorium Kehidupan, UTB Kembangkan Inovasi Konservasi Mata Air di Kuningan

Budaya, Sosial232 views

KUNINGAN ONLINE – Tradisi Kawin Cai yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, kini dikembangkan menjadi sumber pengetahuan dan inovasi konservasi lingkungan melalui program Tirtha Pawitan: Living Lab Sumber Mata Air dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air.

Program ini menjadi upaya mengintegrasikan kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam menjaga keberlanjutan sumber mata air. Inisiatif tersebut menarik perhatian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Universitas Teknologi Bandung (UTB) untuk mengembangkan potensi sumber daya air di Kabupaten Kuningan.

Iklan

Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Dr. Samsuri, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan sains dan teknologi harus berangkat dari potensi lokal serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kabupaten Kuningan memiliki potensi kekayaan sumber mata air, ini harus kita jaga bersama,” ujar Samsuri.

Iklan

Menurutnya, upaya menjaga sumber mata air tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis. Diperlukan pula kesadaran kolektif, keterlibatan aktif masyarakat, serta pelestarian tradisi lokal yang telah tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat.

Tradisi Kawin Cai menjadi salah satu contoh nyata bagaimana nilai budaya dapat berperan dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ritual yang dilaksanakan secara turun-temurun tersebut mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap sumber kehidupan, khususnya air.

Melalui pendekatan Living Lab atau laboratorium kehidupan, tradisi Kawin Cai tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan pengetahuan untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi sumber mata air.

Dalam pelaksanaannya, Universitas Teknologi Bandung berkolaborasi dengan Universitas Kuningan, Pemerintah Kabupaten Kuningan, serta Yayasan Hibar Budaya Nusantara. Kolaborasi lintas sektor ini diarahkan untuk menghasilkan model konservasi sumber mata air yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan pendekatan sains dan teknologi.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas dan kuantitas air. Selain itu, dikembangkan pula TirthaMap, sebuah portal peta digital yang menyajikan informasi mengenai sebaran sumber mata air di Kabupaten Kuningan.

Penelitian dalam program Tirtha Pawitan mencakup pengembangan model konservasi berbasis kearifan lokal, pemantauan kondisi air melalui teknologi IoT, serta pemetaan digital sumber mata air. Hasil penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan data dan perangkat teknologi, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengenali, memantau, dan menjaga sumber daya air di lingkungannya.

Akademisi sekaligus peneliti Universitas Teknologi Bandung, AA Ade Kadarisman, menekankan bahwa keberhasilan konservasi sumber mata air sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.

Menurut penulis buku Green Public Relations tersebut, masyarakat perlu ditempatkan sebagai pelaku utama konservasi, bukan sekadar penerima manfaat dari program penelitian.

“Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu terlibat dalam pemantauan air, pemanfaatan teknologi, dan pelestarian kearifan lokal, semangat gotong royong menjaga mata air,” ungkap Ade.

Sementara itu, Rektor Universitas Teknologi Bandung, Dr. M. Naseer, mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam mempertahankan tradisi Kawin Cai. Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas budaya dapat memperkuat hubungan antara pelestarian warisan budaya dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung ketahanan air di Kabupaten Kuningan serta menjadi pembelajaran bagi daerah lain,” ujar Naseer.

Penyelenggaraan tradisi tahunan Kawin Cai tahun 2026 ini turut dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Dr. Samsuri, Rektor UTB Dr. M. Naseer, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan Hj. Ela Dian Rakhmat, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Rektor Universitas Kuningan, akademisi UTB Dr. AA Ade Kadarisman, Camat Jalaksana, Kepala PDAU Kuningan, sejumlah kepala desa di Kecamatan Jalaksana, anggota DPRD Kabupaten Kuningan, serta undangan lainnya.

Melalui Tirtha Pawitan, tradisi Kawin Cai diharapkan berkembang menjadi lebih dari sekadar ritual budaya tahunan. Tradisi ini menjadi modal sosial dan sumber pengetahuan yang dapat mempertemukan nilai-nilai kearifan lokal dengan inovasi sains dan teknologi.

Dengan demikian, pelestarian budaya sekaligus konservasi sumber mata air dapat berjalan beriringan. Dari Kuningan, Kawin Cai berpotensi menjadi model pembelajaran bagaimana tradisi lokal dapat berkontribusi terhadap ketahanan air dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. (OM)