KUNINGAN ONLINE – Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengajak mahasiswa untuk kembali menghidupkan tradisi intelektual melalui penguatan budaya membaca, riset, dan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu menjadi generasi yang tidak hanya cakap menyerap informasi, tetapi juga kritis dalam menguji fakta dan menghasilkan gagasan berdasarkan kajian ilmiah.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Dian saat menghadiri kegiatan bertema “Rekonstruksi Tradisi Intelektual Mahasiswa Berdasarkan Riset, Keilmuan, dan Masa Depan Peradaban” yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Kuningan, Sabtu (31/10/2026).
Dalam sambutannya, Dian menyoroti perubahan pola literasi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kemudahan mengakses informasi melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram, menurutnya, tidak selalu diiringi kemampuan memahami persoalan secara mendalam.
Ia menilai kebiasaan membaca sekadar judul atau melihat potongan informasi berpotensi membuat mahasiswa merasa memahami suatu persoalan, padahal belum tentu mampu menangkap konteks dan substansinya.
“Sekarang mahasiswa lebih cenderung tertarik kepada hal-hal yang bersifat audiovisual. Cukup membaca judul, cukup melihat poin-poin, mereka merasa paling bisa dan paling paham. Padahal, ketika harus mencermati tulisan panjang, memahami isi bacaan, dan menyimpulkan gagasan utama, ternyata masih mengalami kesulitan,” ungkapnya.

Dian menegaskan, mahasiswa harus memiliki kemampuan literasi yang lebih komprehensif. Tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi juga harus bisa memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta menyusun argumentasi yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, derasnya arus informasi saat ini menuntut mahasiswa untuk tidak mudah terpengaruh oleh opini maupun informasi yang belum terverifikasi.
“Mahasiswa tidak dituntut hanya cerdas secara akademis, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk menguji fakta dan menguji kebenaran berbasis riset serta informasi yang akurat. Jangan sampai emosi dikedepankan, sementara nalar justru ditempatkan di belakang,” tegasnya.
Tiga Pilar Membangun Tradisi Intelektual
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dian menyampaikan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian mahasiswa dalam membangun kembali tradisi intelektual.
Pertama, menghidupkan budaya riset dan berpikir kritis. Mahasiswa diharapkan menjadikan riset sebagai bagian dari aktivitas akademik maupun kehidupan sehari-hari, sehingga setiap gagasan dan gerakan memiliki landasan data serta kajian yang kuat.
Kedua, mengembangkan keilmuan tanpa meninggalkan tradisi dan budaya lokal. Menurut Dian, kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Ketiga, menjadikan tradisi intelektual sebagai fondasi pembangunan peradaban. Mahasiswa harus dipersiapkan bukan hanya untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Dian juga mengapresiasi inisiatif IMM yang menghadirkan ruang diskusi dan pengembangan pemikiran akademis. Ia berharap gerakan mahasiswa tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi mampu menawarkan gagasan dan solusi berdasarkan kajian yang komprehensif.
Baginya, keberanian menyampaikan pendapat tidak harus ditunjukkan melalui suara yang keras, melainkan melalui argumentasi yang santun, berbobot, konstruktif, dan solutif.
Ia turut menyinggung semangat tajdid atau pembaruan dalam tradisi Muhammadiyah sebagai dorongan bagi generasi muda untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dan akar budaya.
“Sepintar-pintarnya orang, ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana dia memberikan manfaat kepada orang lain. Percuma pintar, memiliki deretan gelar akademik, tetapi kehadirannya tidak memberikan dampak dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tuturnya.
IMM Diharapkan Kembalikan Jati Diri Gerakan Intelektual
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuningan, Ustadz Dadan Rohmatun Ramdan, Lc., menegaskan bahwa tradisi intelektual merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban.
Ia menjelaskan, kemajuan suatu peradaban tidak dapat dilepaskan dari kuatnya tradisi keilmuan, budaya membaca, serta kemampuan berpikir secara mendalam.
Menurutnya, sejarah Islam telah memberikan pelajaran penting mengenai peran membaca sebagai pintu awal perubahan peradaban. Hal tersebut tercermin dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni perintah Iqra atau membaca.
“Kenapa ayat yang pertama turun adalah Iqra? Ada kemunduran peradaban karena intelektualitas yang sedang hancur. Maka program rekonstruksi tradisi intelektual mahasiswa ini merupakan program yang sangat bagus. Kembalikan jati diri IMM seperti ini,” ungkapnya.
Ia berharap IMM mampu mengembalikan karakter gerakan mahasiswa yang menjunjung tinggi tradisi intelektual, pemikiran kritis, serta nilai-nilai Islam dan persyarikatan Muhammadiyah.
Senada dengan itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan, Dr. apt. Wawang Anwarudin, M.Sc., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai rekonstruksi tradisi intelektual perlu diwujudkan melalui pembangunan budaya akademik yang bertumpu pada riset dan pengembangan keilmuan.
Menurutnya, mahasiswa harus membiasakan diri mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara benar hingga menghasilkan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan publik.
Ia juga mendorong IMM untuk kembali memperkuat budaya membaca dan diskusi ilmiah di tengah semakin lekatnya generasi muda dengan aktivitas mengakses konten media sosial.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang kolaborasi dan pengembangan intelektual bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Kuningan hingga wilayah Ciayumajakuning.
Melalui penguatan tradisi intelektual, budaya riset, dan kolaborasi akademik, mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam melahirkan gagasan serta solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Sebab, membangun peradaban tidak cukup hanya dengan melahirkan generasi yang cerdas secara akademis. Lebih dari itu, diperlukan generasi yang memiliki kedalaman ilmu, ketajaman nalar, karakter kuat, serta kepedulian untuk memberikan manfaat bagi sesama. (OM)





