KUNINGAN ONLINE — Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Kuningan, I. Putu Bagiasna, mengungkapkan hasil pengamatan lapangan terkait luapan air yang terjadi di kawasan Cisantana usai hujan deras beberapa waktu lalu.
Menurutnya, peristiwa tersebut bukan banjir, melainkan luapan air akibat kapasitas drainase yang tidak mampu menampung debit air saat intensitas hujan tinggi.
“Curah hujan saat itu hampir tiga kali lipat dari biasanya. Jadi air yang turun dari beberapa titik di kawasan atas volumenya sangat besar,” ujar Putu saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan air meluap hingga ke jalan raya.
Pertama, buruknya sistem drainase di kawasan Ipukan hingga sekitar Highland dan The Orchid. Banyak bangunan maupun vila yang disebut tidak memiliki saluran resapan air memadai.
“Bahkan ada rumah atau vila yang sama sekali tidak memiliki drainase. Banyak juga bangunan yang seluruh permukaannya sudah ditutup beton sehingga air langsung turun ke bawah,” katanya.
Selain itu, drainase milik warga dinilai sempit dan dangkal sehingga tidak mampu menampung debit air besar saat hujan deras.
Faktor kedua adalah kecilnya kapasitas saluran air menuju kawasan Arunika. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya pipa-pipa air yang melintang di dalam saluran drainase.
“Di dalam gorong-gorong ada banyak pipa crossing ke rumah-rumah warga. Saat sampah terbawa arus, sampah tersangkut di pipa itu dan akhirnya menyumbat aliran air,” jelasnya.
Putu menyebut ukuran pipa yang melintang tersebut mencapai sekitar dua inci dan jumlahnya cukup banyak. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk melakukan penertiban.
“Kami akan menata ulang supaya crossing pipa tidak menghalangi jalannya air,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, DPUTR telah menurunkan tim pemeliharaan sejak Senin lalu untuk membersihkan dan membongkar saluran yang tersumbat hingga ke kawasan Arunika.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kolaborasi dengan pengelola wisata melalui swadaya maupun program CSR guna memperbaiki sistem drainase di kawasan wisata Cisantana.
Putu mencontohkan, di depan kawasan Arunika masih terdapat titik yang belum memiliki saluran air memadai sehingga seluruh aliran air langsung menuju satu jalur.
“Kita ingin membuat pembagi aliran supaya air tidak seluruhnya mengarah ke utara, tetapi juga bisa dibagi ke selatan agar debitnya tidak menumpuk di satu titik,” pungkasnya. (OM)






