Diskatan Kuningan Dorong Pola Konsumsi B2SA untuk Cegah Gizi Buruk dan Stunting

Pemerintahan, Sosial1,337 views

KUNINGAN ONLINE – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan terus mendorong penerapan pola konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan sekaligus mencegah masalah gizi buruk, termasuk stunting.

Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, melalui Kepala Bidang Pengolahan Hasil dan Konsumsi Pangan, Sopyan Pamungkas, menyebutkan bahwa program B2SA merupakan gagasan Badan Pangan Nasional dan baru pertama kali diterapkan di Kabupaten Kuningan.

Iklan

“Program ini sangat penting karena bukan hanya sebatas penyediaan pangan, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mengolah, mengonsumsi, hingga memanfaatkan pangan lokal secara optimal. Dari hulu hingga hilir kita berdayakan, mulai dari pembibitan, pemanfaatan pekarangan, pengolahan hingga penyajian makanan sehat,” jelas Sopyan saat ditemui diruang kerjanya, Selasa (9/9/2025).

Dalam implementasinya, kegiatan B2SA di Kabupaten Kuningan sudah melaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) hingga 20 kali. Materi yang diberikan mencakup budidaya tanaman, pemanfaatan lahan pekarangan, teknik memasak sehat, hingga penyusunan menu berbasis pangan lokal.

Iklan

Sopyan menambahkan, setiap rumah pembibitan dalam program ini diharapkan mampu menghasilkan sedikitnya 5.000 bibit tanaman. Selain itu, masyarakat juga diberikan fasilitas berupa kandang ayam atau kolam ikan, pupuk, benih, hingga peralatan pengolahan.

“Harapannya, pekarangan bisa menghasilkan kebutuhan gizi keluarga. Kalau lebih, bisa dijual dan menjadi tambahan penghasilan,” katanya.

Sebelumnya, Di Kecamatan pada Selasa (11/3/2025) di Kecamatan Nusaherang, empat desa yaitu Nusaherang, Ciasih, Windusari, dan Kertayuga telah menjadi lokasi sosialisasi Program B2SA.

Kepala Desa Nusaherang, Reno Suseno, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini.

“Kami berharap program B2SA mampu menekan angka kekurangan gizi dan stunting di desa kami,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Wahyu Hidayah menegaskan bahwa secara nasional program B2SA hanya dilaksanakan di 50 kabupaten/kota dengan total 809 desa. Di Jawa Barat, Kuningan menjadi salah satu dari empat kabupaten yang terpilih dengan alokasi 25 desa di lima kecamatan: Cilimus, Lebakwangi, Ciawigebang, Nusaherang, dan Ciwaru.

Menurutnya, kunci dari keberhasilan program ini adalah diversifikasi pangan lokal. Masyarakat didorong untuk tidak hanya bergantung pada beras, melainkan memanfaatkan sumber karbohidrat lain seperti singkong, ubi, atau jagung. Menu seimbang B2SA juga menekankan protein dari ikan, tahu, tempe, dan telur; vitamin dari sayuran hijau dan buah lokal; serta lemak sehat dari kacang-kacangan.

“Dengan pola makan B2SA, kita ingin masyarakat Kuningan lebih sehat, gizi seimbang terpenuhi, angka stunting bisa ditekan, dan pada saat yang sama ketahanan pangan serta ekonomi keluarga meningkat,” pungkas Wahyu. (OM)