Detektif Stunting, Inovasi Puskesmas Kuningan Ubah Penanganan Stunting Jadi Gerakan Kolaboratif

Kesehatan, Sosial553 views

KUNINGAN ONLINE – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kuningan terus dikembangkan melalui berbagai inovasi di tingkat pelayanan kesehatan. Salah satunya dilakukan UPTD Puskesmas Kuningan melalui program “DETEKTIF STUNTING”, sebuah inovasi yang mengintegrasikan deteksi medis, edukasi, pemenuhan protein hewani, pengukuran pertumbuhan, hingga investigasi sanitasi lingkungan.

Di bawah kepemimpinan Kepala UPTD Puskesmas Kuningan, Ina Listiana, S.Farm., Apt., M.Farm., program tersebut diarahkan untuk mengubah pola penanganan stunting dari sekadar kegiatan rutin menjadi intervensi yang lebih terukur, langsung menyentuh keluarga sasaran, dan melibatkan lintas sektor.

Iklan

Program DETEKTIF STUNTING ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Kuningan Nomor 800.1.2/20/PKM-KNG/2026. Sasaran program sebanyak 89 balita usia 6–59 bulan yang tersebar di delapan desa dan kelurahan wilayah kerja UPTD Puskesmas Kuningan.

Menurut Ina Listiana, penanganan stunting tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial maupun sekadar memenuhi kewajiban program.

Iklan

“Bagi saya pribadi dan seluruh tim, penanganan stunting tidak boleh lagi dijalankan secara seremonial atau sekadar gugur kewajiban rutin. Stunting adalah persoalan mendasar yang merampas hak tumbuh kembang anak,” ujar Ina.

Ia menegaskan, setiap anak yang menjadi sasaran program harus dipandang sebagai individu yang memiliki masa depan, bukan sekadar angka dalam data kesehatan.

“Setiap kali melangkah ke lapangan, saya tidak melihat mereka sebagai angka statistik, tetapi ada cita-cita dan masa depan yang harus diselamatkan,” katanya.

Lima Pilar DETEKTIF STUNTING

Ina menjelaskan, inovasi DETEKTIF STUNTING mengikat berbagai unsur tenaga kesehatan, mulai dari dokter, ahli gizi, bidan desa, perawat, sanitarian hingga kader posyandu.

Seluruhnya bergerak melalui lima pilar utama, yakni Deteksi, Edukasi, Telur, Ukur dan Investigasi.

Pertama, DETEKSI. Setiap balita sasaran mendapatkan pemeriksaan medis secara langsung. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter Puskesmas untuk mengetahui kemungkinan penyakit penyerta maupun faktor medis yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Jika diperlukan, anak akan difasilitasi untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan atau rujukan ke dokter spesialis anak di rumah sakit. Tim juga membantu memastikan status kepesertaan BPJS bagi keluarga sasaran.

Kedua, EDUKASI. Orang tua mendapatkan penyuluhan dan konseling mengenai pemenuhan gizi, pola asuh, kebersihan diri serta hygiene keluarga. Edukasi dilakukan oleh Tim Promosi Kesehatan Puskesmas bersama tenaga terkait.

Ketiga, TELUR. Intervensi protein hewani diberikan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa telur. Sasaran mendapatkan sekitar 1–2 butir telur setiap hari selama 90 hari sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan protein hewani.

Keempat, UKUR. Pertumbuhan anak dipantau melalui pengukuran antropometri secara berkala, meliputi berat badan serta panjang atau tinggi badan. Pengukuran dilakukan menggunakan alat terstandar oleh bidan desa dan kader posyandu.

Kelima, INVESTIGASI. Petugas sanitarian bersama tim melakukan kunjungan langsung ke rumah sasaran. Pemeriksaan diarahkan untuk melihat kondisi air bersih, jamban sehat serta sanitasi lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan anak.

Dengan lima pendekatan tersebut, penanganan stunting tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga mencari dan menangani faktor medis maupun lingkungan yang dapat menjadi penyebab atau faktor risiko.

Dinkes: Inovasi yang Gerakkan Tim

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. H. Edi Martono, MARS, memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan UPTD Puskesmas Kuningan tersebut.

Menurutnya, Ina Listiana merupakan sosok kepala Puskesmas yang memiliki semangat dan gagasan inovatif dalam menggerakkan tim.

“Bu Ina Listiana itu Kepala Puskesmas muda yang sangat bersemangat dengan ide-ide fresh. Beliau sosok visioner dan proaktif yang mampu menggerakkan tim,” kata Edi.

Ia menilai, kekuatan DETEKTIF STUNTING terletak pada pendekatan yang komprehensif serta memastikan balita sasaran mendapatkan kontak langsung dengan dokter Puskesmas.

“Inovasi DETEKTIF STUNTING merupakan sebuah game changer dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kuningan. Nilai pembeda utamanya pada metodologi lima pilar komprehensif dan jaminan 100 persen balita stunting berkontak langsung dengan dokter Puskesmas,” ujarnya.

Gandeng Desa, Kelurahan dan CSR

Kolaborasi lintas sektor juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut.

Camat Kuningan, Deni Hamdani, SE, Kp., M.Si., mengungkapkan bahwa pelaksanaan intervensi membutuhkan dukungan berbagai pihak, khususnya dalam penyediaan kebutuhan telur bagi para balita sasaran.

“Awalnya saya kaget ketika tanya kesiapan penyediaan telur lebih dari 1.000 kilogram. Namun dengan optimisme dan pendekatan sosialnya, Bu Ina sukses merangkul swadaya masyarakat serta menggalang kolaborasi CSR,” ungkap Deni.

Ia menyebut kemitraan dengan empat desa dan empat kelurahan berjalan dengan baik.

“Kemitraan dengan empat desa dan empat kelurahan berjalan sangat hangat, komunikatif, dan responsif,” tambahnya.

Dukungan tersebut juga dirasakan di tingkat desa. Kepala Desa Kedungarum, Kecamatan Kuningan, Sarip Hidayat, menilai kepemimpinan Ina Listiana tidak hanya terlihat dalam gagasan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung di lapangan.

“Satu kata untuk Bu Kapus: tidak cuma omon-omon. Beliau bukti sentuhan nyata pemimpin di lapangan,” kata Sarip.

Menurutnya, Ina tidak segan turun langsung mendampingi anak dan keluarga sasaran, termasuk membantu proses rujukan ke rumah sakit dan kepesertaan BPJS.

Berawal dari Refleksi, Berujung Aksi

Gagasan DETEKTIF STUNTING berawal dari refleksi Ina Listiana setelah mengikuti kuliah subuh bersama Bupati Kuningan. Dari momentum tersebut muncul dorongan untuk memastikan setiap balita stunting benar-benar ditemui dan diperiksa secara langsung melalui pendekatan active case finding.

Gagasan itu kemudian dirumuskan bersama Petugas Gizi Lina Rosliana, S.Gz., serta Kasubag TU Lusiana Rina Ratnasih, SKM.

Meski baru berjalan sekitar enam minggu, program tersebut mulai menunjukkan hasil. Puskesmas Kuningan mencatat lima balita sasaran telah menunjukkan perbaikan pertumbuhan dan dinyatakan tidak lagi masuk kategori stunting berdasarkan hasil pemantauan klinis dan antropometri.

Bagi tim Puskesmas Kuningan, capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus memperkuat intervensi dan memastikan seluruh balita sasaran mendapatkan pendampingan.

Keterlibatan petugas sanitarian juga memperluas cara pandang penanganan stunting. Pemeriksaan lingkungan rumah tidak lagi sekadar mengejar target inspeksi, tetapi diarahkan untuk menemukan persoalan nyata yang dihadapi keluarga dan memberikan solusi yang berdampak langsung.

Melalui DETEKTIF STUNTING, UPTD Puskesmas Kuningan berupaya membangun pola penanganan stunting yang menggabungkan layanan medis, pemenuhan gizi, edukasi keluarga, pemantauan pertumbuhan dan perbaikan lingkungan dalam satu gerakan kolaboratif.

Inovasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan kerja bersama—bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga pemerintah desa dan kelurahan, masyarakat, dunia usaha, kader posyandu serta keluarga sebagai ujung tombak tumbuh kembang anak. (OM)