KUNINGAN ONLINE — Dari ketinggian, Arunika kini tampak seperti permadani hijau yang menempel di tubuh lereng Ciremai. Warna hijau itu bukan sekadar pemandangan, melainkan cerita panjang mengenai bagaimana sebuah kawasan yang dulu hanyalah ladang terbuka berubah menjadi ruang wisata yang hidup dan lestari. Perubahan ini tidak hanya terasa ketika pengunjung melangkah di jalurnya, tetapi juga terlihat jelas dari citra satelit Google yang membandingkan kondisi tahun 2015 dan 2025.
Pada 2015, kawasan Arunika masih serupa kanvas kosong. Hamparan ladang dan kebun campuran membentang luas, dengan vegetasi keras yang sangat minim. Beberapa pohon besar berdiri sporadis, seolah menjadi saksi bisu aktivitas pertanian masyarakat.
“Dulu itu kosong dari ujung Palutungan sampai ke Gunung Keling. Kalau hujan angin terasa kencang sekali karena tidak ada yang menahan,” kenang Heri Ruhya Taufik, Manajer Agro Wisata Arunika kepada Kuninganonline.com, Jumat (12/12/2025).
Situasi mulai berubah seiring dibukanya Arunika Eatery pada 2022—cikal bakal destinasi wisata yang kini dikenal sebagai salah satu titik rekreasi paling alami di Kuningan. Namun penghijauan yang dilakukan saat itu masih terbatas, belum terstruktur, dan sering gagal.
“Sering banyak bibit mati karena kalah oleh tanaman invasif,” ujar Heri.
Hijau yang Muncul Bertahap
Lima tahun terakhir menjadi titik balik. Arunika mulai menata konsep wisata yang berpijak pada konservasi. Citra satelit terbaru menunjukkan tutupan hijau yang semakin tebal. Area yang dulu gersang kini berubah menjadi bentang vegetasi yang menyambung dari satu lereng ke lereng lain. Jalur transportasi diperbaiki, area wisata tertata, dan pola penanaman mulai terlihat rapi seperti garis-garis yang tumbuh dari tanah.
Di tengah perkembangan ini, lahirlah “Bank Tanaman” — sebuah pusat perawatan dan pengelolaan bibit seluas sekitar 300 meter persegi. Meski namanya terdengar formal, tempat ini sejatinya adalah gudang kehidupan baru.

Puluhan jenis pohon endemik dan tanaman berakar kuat disimpan di sini: pinus, trembesi, jamuju, saninten, kalpataru, hingga eucalyptus berbatang pelangi. Semua bibit disiapkan untuk satu misi besar: menghijaukan kembali Arunika secara bertahap dan berkelanjutan.
Menanam dengan Ilmu, Bukan Sekadar Rutinitas
Wawang Kurniawan, Wakil Koordinator Penataan dan Pengaturan Jarak Tanam, turut mengawasi setiap titik tanam. Baginya, memilih bibit yang tepat sama pentingnya dengan menata jarak antar tanaman.
“Di lereng kita pakai pohon berakar tunggal seperti jamuju dan eucalyptus untuk memperkuat struktur tanah,” jelasnya.
“Kami kejar penanaman di musim hujan supaya tingkat keberhasilannya tinggi. Dulu pernah coba mendekati kemarau, hasilnya banyak yang tidak terawat,” tambahnya.
Setiap pohon yang berdiri hari ini punya cerita perjuangannya sendiri. Sebagian tumbuh cepat dan mencolok—seperti eucalyptus yang batangnya bisa berwarna-warni. Sebagian lagi adalah pohon endemik yang tumbuh perlahan namun kuat, membawa kembali ingatan hutan-hutan tua Ciremai.
Hijau yang Tidak Sekadar Indah
Transformasi Arunika bukan hanya tentang estetika wisata. Ini tentang mengembalikan fungsi ekologis kawasan. Pohon-pohon yang ditanam membantu menahan erosi, menjaga kelembapan tanah, memberi ruang bagi burung dan serangga kembali datang, serta mendinginkan suhu lokal.
Bagi para pengunjung, perubahan itu terasa dalam keseharian: udara yang lebih sejuk, angin yang lebih tenang, dan bayangan dedaunan yang semakin memayungi jalur-jalur wisata. Namun bagi pengelola, ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang—komitmen untuk merawat alam, bukan sekadar memanfaatkannya.
“Harapan kami, Arunika bukan hanya jadi tempat yang indah dilihat, tapi juga kuat secara ekologis,” tutup Heri.
Jejak dari Langit
Citra satelit 2015–2025 menjadi saksi perubahan itu. Dari gersang menjadi rimbun. Dari terbuka menjadi teduh. Dari lahan pertanian yang nyaris kosong menjadi wisata hijau yang hidup.
Arunika kini bukan sekadar tempat bersantai. Ia menjadi contoh bahwa wisata bisa tumbuh seiring upaya merawat bumi. Dan dari langit, perubahan itu terlihat jelas—bahwa ketika manusia menanam harapan, alam pun tumbuh kembali. (OM)





