Air Mata Seorang Wakil Rakyat di Rumah ODGJ Tambakbaya

Politik, Sosial403 views

KUNINGAN ONLINE – Siang di Desa Tambakbaya selalu datang dengan cara yang sederhana. Matahari turun perlahan di balik perbukitan Garawangi, menyentuh atap-atap rumah warga, ladang, dan jalanan kecil yang berdebu. Tak ada yang istimewa bagi kebanyakan orang. Namun hari itu, Selasa (16/12/2025), siang menyimpan getar yang berbeda—getar yang tak bisa diukur oleh jam, hanya bisa dirasakan oleh hati.

Di sebuah sudut desa berdiri bangunan sederhana bernama Yayasan Antara Graha Berdaya Kuningan. Tak megah. Tak berpenanda besar. Ia nyaris seperti rumah biasa—jika bukan karena sunyi yang menetap lebih lama di sana. Sunyi yang lahir dari cerita-cerita panjang tentang hidup yang tersisih, tentang jiwa-jiwa yang kehilangan rumah bukan hanya secara fisik, tetapi juga di dalam ingatan banyak orang.

Iklan

Di tempat itulah puluhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menjalani hari-hari mereka. Dirawat dengan segala keterbatasan, dipeluk oleh kesabaran para pengelola, dan dijaga oleh keyakinan bahwa setiap manusia—apa pun kondisinya—tetap layak diperlakukan dengan martabat.

Ketika H. Rokhmat Ardiyan, M.M. melangkahkan kaki ke halaman yayasan itu, ia tak membawa pidato, tak pula janji-janji besar. Yang ia bawa justru diam. Diam yang cepat berubah menjadi getar emosi ketika pandangannya bertemu wajah-wajah yang jarang mendapat ruang dalam dunia yang serba tergesa.

Iklan

Ia berhenti sejenak. Seolah ragu melangkah lebih jauh. Di hadapannya, mata-mata menatap tanpa beban. Senyum hadir tanpa alasan. Dan pelukan datang tanpa jarak.

Sebuah tangan meraih lengannya. Lalu tubuh itu mendekat, memeluk erat. Pelukan yang polos, jujur, dan tak mengandung kepentingan apa pun. Disusul pelukan lain. Dan lagi. Seolah para penghuni yayasan itu sedang menyambut seseorang yang lama mereka tunggu—entah siapa, entah mengapa.

Di titik itulah, air mata menemukan jalannya.

Tak ada kamera yang perlu diarahkan. Tak ada skenario. Tangis itu hadir begitu saja. Pelan, lalu tak terbendung. H. Rokhmat Ardiyan, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X (Kuningan, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran) menunduk, mencoba menyeka wajahnya, namun gagal menyembunyikan getar di dadanya.

Berdoa Untuk Negeri

Iklan

Didampingi sang istri, Hj. Dian Puspita, ia berjalan perlahan menyusuri ruangan demi ruangan. Langkahnya ringan, seolah takut mengusik sesuatu yang rapuh. Di setiap sudut, cerita berdiam. Tentang keluarga yang pergi. Tentang rumah yang hilang. Tentang hidup yang tak pernah berjalan seperti rencana.

Tak semua penghuni bisa berbicara. Tak semua bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan. Namun bahasa tubuh mereka berbicara jauh lebih lantang. Cara mereka menatap. Cara mereka memeluk. Cara mereka tertawa pada hal-hal kecil yang bagi dunia luar mungkin tak berarti.

Di sana, jabatan tak lagi relevan. Gelar tak lagi penting. Yang tersisa hanyalah manusia yang sedang berhadapan dengan kemanusiaan dalam bentuknya yang paling telanjang.

“Mereka tidak pernah memilih hidup seperti ini,” ucap H. Rokhmat Ardiyan lirih. Suaranya bergetar, seperti menahan beban yang terlalu lama dipendam.

“Mereka adalah saudara kita. Dan saudara tidak boleh ditinggalkan,” tambahnya serasa kagum dengan perjuangan penghuni Graha Berdaya untuk bisa sembuh dari penyakit mental.

Kalimat itu melayang di udara, lalu jatuh pelan ke lantai yayasan yang dingin. Kalimat sederhana, namun sarat makna. Sebuah pengakuan. Sebuah penegasan. Bahwa negara, masyarakat, dan setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama.

Yayasan Antara Graha Berdaya Kuningan telah berdiri sejak 2016. Bertahan dengan daya yang nyaris selalu pas-pasan. Mengandalkan kepedulian, gotong royong, dan keikhlasan orang-orang yang memilih untuk tidak berpaling. Kepala Desa Tambakbaya, Lukman Mulyadi, tahu betul denyut kehidupan di tempat itu.

“Setiap hari adalah perjuangan,” katanya. Perjuangan untuk memastikan para penghuni makan tepat waktu. Untuk menjaga kesehatan mereka. Untuk merawat bukan hanya tubuh, tetapi juga harga diri.

Siang itu, kehadiran H. Rokhmat Ardiyan dan keluarga bukan sekadar kunjungan. Ia menjadi semacam penanda—bahwa rumah sunyi ini akhirnya didengar. Bahwa cerita-cerita yang selama ini berdiam, menemukan telinga yang mau mendengar.

Bantuan diserahkan. Bukan dengan seremoni besar, melainkan dengan cara yang paling manusiawi. Uang jajan dibagikan satu per satu. Beberapa penghuni tersenyum lebar. Ada yang tertawa kecil. Ada pula yang menggenggam erat pemberian itu, seolah takut harapan akan kembali direnggut.

Ketika HRA melontarkan pertanyaan sederhana—tentang nama, tentang hal kecil yang mereka sukai—beberapa ODGJ menjawab dengan kepolosan yang jujur. Jawaban itu disambut tepuk tangan, disusul hadiah uang ratusan ribu rupiah. Sejenak, dunia terasa ramah bagi mereka yang lama hidup di pinggirnya.

Di hadapan warga, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan jajaran pemerintah desa, H. Rokhmat Ardiyan mengajak semua pihak untuk tidak menutup mata. Pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat luas—semua memiliki bagian dalam cerita ini.

“Kepedulian tidak harus besar,” ujarnya. “Yang penting, kita hadir dan menebar kebermanfaatan bagi sesama.”

Sebelum langkahnya tiba di yayasan ini, ia berdiri di Aula Kantor Desa Tambakbaya. Menyampaikan sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Tentang konstitusi. Tentang persatuan. Tentang keadilan sosial. Namun di rumah sunyi ini, pilar-pilar itu menjelma nyata dalam wujud yang paling sederhana: memeluk yang rapuh, mengakui yang tersisih, dan merawat yang ditinggalkan.

Siang itu, Tambakbaya memberi pelajaran yang tak tercatat dalam dokumen negara. Bahwa bangsa yang besar bukan hanya diukur dari angka pertumbuhan dan bangunan tinggi, melainkan dari caranya memperlakukan mereka yang tak mampu bersuara.

Ketika langkah itu akhirnya menjauh, sunyi kembali menyelimuti Yayasan Antara Graha Berdaya Kuningan. Namun sunyi yang tersisa bukan lagi sunyi yang sama. Ia telah diisi oleh kesaksian. Oleh air mata. Oleh pengakuan bahwa kemanusiaan masih memiliki ruang—selama ada hati yang bersedia membuka diri.

Dan di rumah yang tidak pernah meminta apa-apa itu, harapan kembali menemukan tempatnya. (OM)