Wabup Amih Tuti Akui Dadan Hindayana Kerabat Suami, Soal Dapur Hanya Punya Empat

Kesehatan, Sosial773 views

KUNINGAN ONLINE – Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani buka suara terkait sejumlah isu yang berkembang menyusul mencuatnya persoalan hukum yang menyeret nama mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Selain mengakui adanya hubungan kekerabatan, Amih Tuti sapaanya juga membantah tudingan yang menyebut dirinya memiliki hingga belasan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Iklan

Kepada awak media, Tuti membenarkan bahwa Dadan Hindayana merupakan saudara dari pihak suaminya. Namun, ia menegaskan bahwa hubungan keluarga tersebut tidak ada kaitannya dengan persoalan hukum yang saat ini berproses.

“Itu saudara dari suami, dan namanya saudara ya tetap saudara,” ujar Amih Tuti usai menghadiri pembukaan Turnamen Tenis May Day AGN Cup 2026, Sabtu (6/6/2026).

Iklan

Meski demikian, Amih Tuti menegaskan bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas persoalan masing-masing.

“Itu kan urusan beliau-beliau, Iya kita-kita. Jadi urusannya masing-masing,” katanya.

Menurutnya, dukungan yang selama ini diberikan kepada Program Makan Bergizi Gratis semata-mata karena program tersebut dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam upaya peningkatan gizi anak dan penanganan stunting.

“Kemarin, kami harus support karena programnya baik. Tetapi kalau sekarang beliau (Dadan,red) ada keterlibatan dalam persoalan hukum, iya itu beliau yang harus tanggung sendiri,” tegasnya.

Selain menanggapi soal hubungan kekerabatan dengan Dadan Hindayana, Amih Tuti juga meluruskan isu yang menyebut dirinya memiliki hingga 19 dapur MBG di Kabupaten Kuningan. Dengan santai, ia membantah kabar tersebut dan menyebut hanya memiliki empat dapur.

“Saya punya empat dapur saja. Dapurnya di Rumdin Cijoho, Pesona Alam, Wisma Asri, sama di kantor notaris. Itu saja,” ungkapnya.

Tuti juga menepis tudingan adanya pihak tertentu yang menitipkan nama atau menggunakan namanya dalam pengelolaan dapur MBG.

“Tidak ada nama yang dititipkan ke saya. Jadi tidak usah banyak fitnah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keterlibatannya selama ini lebih banyak membantu mempertemukan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan para mitra penyedia makanan dalam program MBG.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar produk-produk lokal dapat terserap dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Kalau ada pisang atau produk UMKM, saya sampaikan ke mitra-mitra. Kalau ada roti juga saya bantu komunikasikan supaya bisa bekerja sama. Saya hanya menjembatani,” katanya.

Terkait kabar adanya sejumlah dapur MBG yang mengalami kendala operasional akibat keterlambatan pencairan anggaran, Tuti mengaku turut mendengar informasi tersebut. Namun ia berharap pelayanan kepada para penerima manfaat tidak sampai terganggu.

“Mungkin sekarang ada keterlambatan karena ada persoalan di atas. Tinggal dibantu dulu oleh para mitra. Jangan sampai berhenti,” tuturnya.

Lebih jauh, Tuti mengingatkan agar kondisi tersebut tidak sampai menurunkan kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat, khususnya kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Menurutnya, kelompok 3B harus tetap menjadi prioritas dalam Program Makan Bergizi Gratis mengingat angka stunting di Kabupaten Kuningan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Jangan sampai mengurangi kualitas menu. Apalagi stunting di Kuningan masih cukup tinggi. Dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis, kalau angka stunting tetap tinggi berarti ada yang harus dievaluasi dalam penyediaan menu untuk kelompok 3B,” tegasnya.

Bagi Tuti, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah dapur yang beroperasi atau banyaknya penerima manfaat. Yang lebih penting, program tersebut harus mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan berkontribusi nyata terhadap percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Kuningan. (OM)