Terhubung Secara Digital, Terasing Secara Mental: Kemajuan Teknologi atau Kemunduran Empati?

Galeri, Opini434 views

Zaman sekarang, kehidupan kita terasa seperti cuplikan film fiksi ilmiah yang mendadak menjadi nyata. Bayangkan saja, kita bisa memesan makanan melalui aplikasi tanpa perlu berinteraksi dengan pelayan. Kita bisa bekerja dari kamar tidur sambil berdiskusi dengan tim di Eropa atau Amerika. Bahkan, untuk melepas rindu dengan sahabat lama, kita hanya perlu menggerakkan jempol di atas layar ponsel yang tipis. Secara data, kita adalah generasi yang paling terhubung dalam sejarah manusia. Namun anehnya, di balik ribuan notifikasi tersebut, banyak dari kita yang justru merasa kesepian merasa sendirian di tengah keramaian digital. Sebuah pertanyaan besar pun muncul: Apakah kemajuan teknologi justru membuat empati kita mengalami kemunduran?

Mari kita bicara jujur. Teknologi memang pemenang mutlak dalam hal efisiensi. Dahulu, untuk mengetahui kabar kerabat di desa terpencil, kita harus menunggu surat berminggu-minggu dengan risiko hilang atau rusak terkena hujan. Sekarang? Panggilan video bisa dilakukan seketika. Kita bisa melihat wajah dan mendengar suara mereka secara langsung. Sangat praktis, namun kemudahan ini menuntut bayaran yang mahal: interaksi kita menjadi tipis.

Iklan

Dahulu, saat bertatap muka, kita bisa merasakan nada suara yang bergetar, tatapan mata yang dalam, atau gerak tangan yang menyimpan sejuta cerita. Emoji secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan itu semua. Empati lahir dari kehadiran yang utuh merasakan keberadaan orang lain secara nyata, bukan sekadar rangkaian teks di layar. Ketika obrolan hanya sebatas ketikan, nuansa kemanusiaan itu perlahan hilang. Kita seolah berubah menjadi robot yang membalas pesan dengan cepat, namun tanpa melibatkan hati.

Ambil contoh sederhana saat Anda sedang berkeluh kesah kepada teman melalui pesan singkat. Ia mungkin hanya membalas dengan kata “oke” atau stiker sedih. Bandingkan jika Anda bertemu langsung; ia bisa memeluk Anda dan memberi penguatan yang tulus. Itulah perbedaannya. Psikolog Sherry Turkle dari MIT menyebutkan bahwa interaksi melalui layar membuat kita kehilangan kepekaan rasa. Berdasarkan data survei Common Sense Media tahun 2024, remaja di Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam sehari di ponsel. Meskipun waktu untuk berkomunikasi meningkat, tingkat kesepian justru naik 30% dibanding tahun 2010. Mengapa? Karena layar ponsel menggantikan kedalaman hubungan dengan kecepatan semu.

Iklan

Masalah lainnya adalah fenomena ruang gema atau echo chamber di media sosial. Algoritma dirancang untuk memberikan apa yang kita sukai. Jika Anda gemar melihat video kucing, linimasa Anda akan penuh dengan kucing. Jika Anda menyukai satu pandangan politik, hanya berita yang mendukung pandangan tersebut yang akan muncul. Akibatnya, kita menjadi buta terhadap perspektif yang berbeda. Padahal, empati membutuhkan upaya untuk memahami posisi orang lain. Media sosial justru melatih kita untuk cepat menghakimi, memicu budaya boikot (cancel culture), dan melontarkan komentar kasar tanpa memikirkan bahwa di balik akun tersebut ada manusia sungguhan yang memiliki perasaan.

Sebagai contoh nyata pada Pilkada Jakarta 2024, polarisasi begitu terasa karena orang hanya mengonsumsi informasi yang sejalan dengan pilihannya. Diskusi berubah menjadi perang kata-kata. Jonathan Haidt dalam bukunya The Anxious Generation menjelaskan bahwa algoritma ini mematikan kemampuan kita untuk mendengar perbedaan. Survei LSI tahun 2025 mencatat bahwa 65% pengguna internet di Indonesia mengaku sering memblokir orang yang berbeda pendapat. Ini bukan lagi sebuah hubungan, melainkan pembangunan benteng pemisah.

Coba perhatikan sekeliling kita, misalnya di kafe-kafe di Jakarta. Sering kali kita melihat sekelompok anak muda duduk bersama, namun semuanya menunduk menatap ponsel masing-masing. Fenomena ini disebut phubbing (phone snubbing) mengabaikan orang di depan mata demi layar. Otot empati kita terkikis karena kita lebih memprioritaskan notifikasi daripada teman yang sedang berbicara di hadapan kita. Fenomena ini bersifat global; penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa pasangan yang sering melakukan phubbing cenderung lebih sering bertengkar karena salah satu pihak merasa tidak dihargai.

Belum lagi dampak paparan berita harian. Kita melihat kecelakaan, banjir, hingga perang, namun kita hanya menggesernya dengan cepat. Terjadi desensitisasi perasaan kita menjadi tumpul karena terlalu sering melihat penderitaan lewat layar tanpa aksi nyata. Bahkan, ada kecenderungan orang lebih memilih merekam kecelakaan demi konten daripada memberikan bantuan langsung. Kasus banjir Jakarta Januari 2026 menunjukkan banyak video viral yang justru menjadikan bencana sebagai bahan candaan, sementara bantuan fisik sering kali terlambat. Data UNICEF 2025 menyebutkan bahwa paparan berita negatif yang berlebihan membuat empati pudar karena kita merasa hal tersebut bukan urusan kita.

Namun, teknologi sebenarnya hanyalah alat, seperti sebuah sendok. Bukan sendok yang membuat seseorang gemuk, melainkan pola makannya. Teknologi bersifat netral; dampaknya bergantung pada cara kita menggunakannya. Ia bisa menjadi jembatan empati, seperti panggilan video bagi lansia atau komunitas daring bagi pejuang kanker untuk saling menguatkan.

Kuncinya adalah keseimbangan. Kita perlu melakukan “diet digital”: matikan notifikasi saat makan bersama, tatap mata lawan bicara, dan dengarkan tanpa interupsi. Teknologi tidak secara otomatis memundurkan empati, kitalah yang membiarkannya terjadi. Sudah saatnya kita mengambil kendali. Gunakan layar untuk menghubungkan, bukan memisahkan. Jadikan teknologi sebagai alat bantu bagi hati, bukan penggantinya.

Jika kita bisa mengajarkan keseimbangan ini kepada generasi mendatang, teknologi bisa menjadi sahabat yang luar biasa bahkan melalui inovasi seperti VR yang memungkinkan kita merasakan pengalaman hidup orang lain secara lebih mendalam. Pilihan ada di tangan kita: apakah kita ingin terus membangun tembok, atau mulai membangun jembatan?.

Turkle, Sherry. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. Penguin Press. (Buku ini membahas bagaimana teknologi mengikis kemampuan kita untuk berdialog secara mendalam).

Carr, Nicholas. (2011). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. W. W. Norton & Company. (Membahas perubahan kognitif dan penurunan fokus akibat penggunaan internet).

Twenge, Jean M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy–and Completely Unprepared for Adulthood. Atria Books. (Penelitian tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental dan empati generasi muda).

Waytz, A., & Gray, K. (2018).Does Online Technology Make Us More or Less Sociable?. Perspectives on Psychological Science. (Artikel jurnal yang mengeksplorasi dua sisi dampak teknologi terhadap interaksi sosial).

Zaki, Jamil. (2019). The War for Kindness: Building Empathy in a Fractured World. Crown. (Membahas bagaimana empati adalah sebuah “otot” yang bisa dilatih di tengah tantangan dunia modern).

Nama: Muftahiyyah

Jurusan: Tadris Ilmu Pengetahuan sosial Kampus : Universitas Islam negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon