JAKARTA – Perubahan wajah pendidikan Indonesia terus bergerak cepat. Sekolah tidak lagi cukup hanya memiliki gedung yang berdiri kokoh. Di tengah tuntutan zaman, ruang kelas harus semakin adaptif, guru dituntut semakin kompeten, dan teknologi harus mampu masuk ke dalam proses pembelajaran.
Di tengah agenda besar tersebut, Kabupaten Kuningan ikut mengambil bagian. Kepala Bidang Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Surya, S.Pd., M.M., menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) di Jakarta, 3–5 September 2026.
Rakornas yang diikuti perwakilan Dinas Pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus membahas strategi pelaksanaan kebijakan pendidikan nasional di daerah.
Surya mengatakan, keikutsertaan Kabupaten Kuningan dalam forum tersebut menjadi momentum penting untuk memahami arah kebijakan pemerintah pusat, khususnya terkait revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran.
“Rakornas ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menyerap berbagai kebijakan dan strategi dari pemerintah pusat, khususnya terkait revitalisasi satuan pendidikan dan digitalisasi pembelajaran,” ujar Surya, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, revitalisasi satuan pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan maupun perbaikan fisik gedung sekolah. Lebih dari itu, revitalisasi harus diarahkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang layak, aman, nyaman dan mampu mendukung proses belajar peserta didik.
“Revitalisasi bukan hanya soal memperbaiki gedung sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan mampu mendukung proses pembelajaran anak-anak,” katanya.
Sebab, sekolah yang baik bukan hanya sekolah dengan bangunan yang bagus. Di dalamnya harus tersedia fasilitas pembelajaran yang memadai, guru yang terus meningkatkan kompetensi serta sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan generasi baru.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam agenda pendidikan ke depan. Guru berada di garis depan perubahan sehingga kemampuan mereka dalam mengikuti perkembangan teknologi dan metode pembelajaran menjadi semakin penting.
Hal yang sama berlaku dalam penerapan digitalisasi pembelajaran. Perkembangan teknologi memberikan peluang besar bagi dunia pendidikan untuk menciptakan proses belajar yang lebih efektif, kreatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Namun, digitalisasi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi. Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar teknologi benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran.
“Digitalisasi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat. Guru dan sekolah juga harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat dalam proses pembelajaran,” jelas Surya.
Menurutnya, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat pembelajaran, bukan sekadar mengejar predikat sebagai sekolah digital.
Dengan demikian, kebijakan nasional yang dibahas dalam Rakornas tersebut perlu diterjemahkan secara tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan di Kabupaten Kuningan.
Bagi Disdikbud Kuningan, forum nasional tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk menyerap berbagai strategi mengenai revitalisasi sarana dan prasarana sekolah, peningkatan kompetensi guru serta implementasi digitalisasi pembelajaran.
“Setelah mengikuti Rakornas ini, pekerjaan kami di daerah adalah menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi langkah konkret sesuai dengan kebutuhan sekolah dasar di Kabupaten Kuningan,” tutur Surya.
Pekerjaan tersebut tentunya membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah harus memastikan dukungan kebijakan dan infrastruktur, sekolah harus siap melakukan perubahan, sementara guru dituntut terus mengembangkan kompetensinya.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga harus dilakukan secara bijak agar benar-benar menjadi bagian dari proses pembelajaran dan memberikan manfaat bagi peserta didik.
Surya berharap hasil Rakornas dapat menjadi bekal bagi Kabupaten Kuningan dalam memperkuat kualitas pendidikan dasar.
“Kami berharap apa yang dibahas dalam Rakornas ini dapat memberikan dampak nyata bagi sekolah, guru dan peserta didik di Kabupaten Kuningan,” pungkasnya.
Keberhasilan program pendidikan pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya rapat atau kebijakan yang dibuat, tetapi dari seberapa besar perubahan yang dirasakan langsung oleh guru dan peserta didik di sekolah.
Dari Jakarta, agenda tersebut kemudian dibawa kembali ke Kuningan. Bukan sekadar membawa hasil koordinasi, tetapi juga membawa pesan bahwa perubahan pendidikan harus dimulai sejak sekarang.
Sebab, jika sekolah ingin menyiapkan anak-anak Kuningan menghadapi masa depan, maka sekolahnya sendiri harus lebih dahulu berani berubah.
Rakornas mungkin berlangsung selama tiga hari. Namun, pekerjaan rumah pendidikan Kuningan setelahnya jauh lebih panjang. (OM)





