KUNINGAN ONLINE – Sebuah penghargaan boleh saja berganti nama. Namun, ketika penerima penghargaan tetap orang yang sama, sementara foto yang digunakan berasal dari kegiatan yang sama, publik tentu memiliki alasan untuk bertanya: sebenarnya penghargaan itu milik siapa?
Pertanyaan tersebut kini mengemuka setelah Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Kuningan dalam rangka Hari Jadi ke-528 Kuningan menampilkan lima sosok penerima penghargaan yang sebelumnya telah dinobatkan sebagai Rakyat Pinunjul oleh Komunitas Waroeng Rakyat Kuningan.
Founder Waroeng Rakyat Kuningan, Delon, menegaskan pihaknya tidak keberatan apabila Pemerintah Kabupaten Kuningan memberikan penghargaan kepada masyarakat.
Menurutnya, semakin banyak warga berprestasi yang mendapatkan apresiasi justru merupakan hal positif.
Namun, persoalan menjadi berbeda ketika penghargaan yang ditampilkan dalam forum resmi pemerintah menggunakan istilah “Masyarakat Pinunjul”, sementara lima sosok yang ditampilkan merupakan penerima Rakyat Pinunjul yang prosesnya digagas, diseleksi, dan dibiayai secara gotong royong oleh Komunitas Waroeng Rakyat.
“Kalau pemerintah memberikan penghargaan, kami sangat mengapresiasi. Tetapi ketika person-nya sama, kemudian foto yang digunakan juga berasal dari kegiatan kami, tentu kami mempertanyakan narasinya,” ujar Delon, Jumat (4/9/2026).
Delon menjelaskan, Rakyat Pinunjul bukan program yang muncul secara tiba-tiba. Sejak awal, penghargaan tersebut dirancang untuk memberikan pangajen kepada masyarakat akar rumput yang selama ini bekerja dan berkontribusi tanpa banyak mendapatkan sorotan.
Lima kategori penghargaan tersebut terdiri dari Guru Pinunjul, Buruh Pinunjul, Petani Pinunjul, Pedagang Pinunjul, dan Marbot Pinunjul.
Proses penentuan penerima pun berlangsung cukup panjang, sekitar empat bulan. Tahapannya meliputi pendaftaran, seleksi, penilaian hingga penetapan penerima.
Waroeng Rakyat juga melibatkan panelis dari berbagai unsur untuk menjaga objektivitas proses penilaian.
“Lima kategori ini kami anggap mewakili masyarakat bawah. Kami tidak bisa melakukan ini sendiri, sehingga menggandeng panelis agar proses penilaiannya objektif,” jelasnya.
Hal lain yang ditegaskan Delon adalah mengenai sumber pembiayaan.
Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan Rakyat Pinunjul tidak menggunakan anggaran Pemerintah Kabupaten Kuningan. Pembiayaan kegiatan dilakukan melalui urunan keluarga besar Komunitas Waroeng Rakyat.
Meski demikian, Delon menegaskan Waroeng Rakyat tidak mempermasalahkan ketika lima penerima Rakyat Pinunjul kemudian mendapat perhatian dalam agenda pemerintah daerah.
Bahkan, menurutnya, hal tersebut justru patut disyukuri.
“Justru kami bahagia. Artinya nilai dan inspirasi dari lima orang ini bisa dikenal lebih luas,” katanya.
Waroeng Rakyat juga mengapresiasi langkah Bupati Kuningan yang memberikan hadiah umrah kepada penerima kategori Marbot Pinunjul.
“Adapun apresiasi dari Pak Bupati bahwa Marbot Pinunjul mendapatkan hadiah umrah, kami mengapresiasi hal tersebut,” ujar Delon.
Menurutnya, apresiasi tersebut merupakan bentuk perhatian nyata kepada masyarakat yang memang dinilai layak mendapatkan penghargaan.
Yang kemudian menjadi persoalan adalah materi yang ditampilkan dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Kuningan.
Menurut Delon, foto lima penerima penghargaan yang ditampilkan dalam forum tersebut merupakan dokumentasi dari kegiatan Rakyat Pinunjul yang digelar Waroeng Rakyat.
Foto tersebut, kata dia, ditampilkan setelah melalui proses crop atau pemotongan.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan.
Apakah Pemerintah Kabupaten Kuningan memang menggelar penghargaan sendiri dengan penerima yang kebetulan sama?
Ataukah penghargaan Rakyat Pinunjul yang sebelumnya telah digagas dan dilaksanakan komunitas kemudian ditampilkan kembali dengan nomenklatur berbeda?
“Kami coba pertanyakan, apakah itu benar. Kami sudah tabayun kepada pihak terkait dengan jawaban yang variatif,” tuturnya.
Delon mengatakan, dari proses tabayun tersebut, pihaknya belum memperoleh penjelasan yang benar-benar mampu menjawab seluruh tanda tanya.
Delon menegaskan, keberatan Waroeng Rakyat bukan karena pihaknya ingin berebut panggung atau mengklaim penghargaan tersebut sebagai milik komunitas.
Yang menjadi perhatian adalah proses, identitas, serta komunikasi.
Menurutnya, jika sejak awal terdapat komunikasi antara pemerintah daerah dan Waroeng Rakyat, persoalan tersebut diyakini tidak akan berkembang menjadi polemik.
“Kalau misalnya ada diskusi, tentu akan lebih elok. Apalagi pesertanya adalah pemenang di acara kita dan foto yang ditampilkan juga foto di acara kami,” ujarnya.
Bagi Delon, sebuah penghargaan tidak berhenti pada nama yang muncul di layar atau sertifikat yang diterima seseorang.
Di balik sebuah penghargaan terdapat proses panjang: ada pihak yang menggagas, masyarakat yang mengusulkan, panelis yang melakukan penilaian, hingga keluarga besar komunitas yang bergotong royong membiayai pelaksanaannya.
Karena itu, ketika proses tersebut tidak disebutkan secara jelas, pertanyaan mengenai asal-usul penghargaan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Meski menyampaikan kritik, Delon berharap polemik mengenai identitas penghargaan tidak mengaburkan tujuan utama program Rakyat Pinunjul.
Menurutnya, esensi penghargaan tersebut adalah mengangkat orang-orang biasa yang melakukan hal luar biasa di tengah masyarakat.
“Kalau misalnya tidak ada klarifikasi dari pemda, bagi kami tidak masalah, silakan saja. Yang penting pesan kami kena, yaitu memberikan inspirasi. Lima pemenang Rakyat Pinunjul ini adalah orang-orang hebat,” pungkasnya. (OM)





