KUTAWARTA SDN 2 Kutakembaran: Dari Berani Bicara hingga Terampil Menulis dan Berkarya

Pendidikan119 views

KUNINGAN ONLINE – Membangun kepercayaan diri anak sejak usia sekolah dasar tidak cukup hanya dengan memberikan kesempatan untuk berbicara di depan kelas. Anak juga perlu diberi ruang untuk bertanya, mengemukakan pendapat, membaca situasi, menulis gagasan, mencari informasi, hingga menghasilkan sebuah karya.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian SD Negeri 2 Kutakembaran dalam mengembangkan potensi peserta didiknya. Di bawah kepemimpinan Gian Sugianto, S.Pd., M.Pd., sekolah terus mendorong berbagai program yang dapat mengembangkan kemampuan akademik sekaligus soft skill siswa.

Iklan

Salah satu program unggulan yang dikembangkan sekolah adalah KUTAWARTA (Kutakembaran Wartawan Cilik). Program tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk belajar berkomunikasi sekaligus mengenal dunia jurnalistik sejak dini.

KUTAWARTA tidak sekadar mengajarkan anak untuk tampil di depan kamera atau menjadi pembawa berita. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun keberanian siswa dalam menyampaikan gagasan serta mengembangkan kemampuan literasi melalui kegiatan menulis.

Iklan

“Kami ingin anak-anak tidak hanya berani berbicara, tetapi juga mampu menuangkan apa yang mereka pikirkan ke dalam tulisan. Jadi, berbicara dan menulis itu kami bangun secara bersama-sama. Anak belajar mencari informasi, bertanya, mencatat, kemudian menyampaikan kembali informasi tersebut dengan bahasa mereka sendiri,” ujar Gian Sugianto, Kepala SD Negeri 2 Kutakembaran kepada Kuninganonline.com, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, kemampuan komunikasi dan literasi merupakan keterampilan yang penting untuk dibangun sejak sekolah dasar. Anak yang terbiasa berbicara, bertanya, dan menulis akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya.

Karena itu, dalam pelaksanaan KUTAWARTA, siswa tidak langsung dituntut menghasilkan karya jurnalistik yang kompleks. Mereka dikenalkan terlebih dahulu pada aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Siswa belajar membuat pertanyaan, melakukan wawancara dengan teman maupun guru, mengamati kegiatan di lingkungan sekolah, mencatat informasi penting, kemudian menyusunnya menjadi tulisan sederhana. Dari proses tersebut, siswa belajar bahwa sebuah informasi perlu dicari, dipahami, kemudian disampaikan dengan baik.

“Kami membiasakan anak untuk tidak takut bertanya. Ketika mereka melakukan wawancara, misalnya, mereka belajar bagaimana membuka percakapan, menyusun pertanyaan, mendengarkan jawaban, mencatat informasi, kemudian membuat tulisan. Dari situ sebenarnya banyak sekali keterampilan yang mereka dapatkan,” katanya.

Program KUTAWARTA menyasar siswa kelas 3, 4, dan 5. Pada usia tersebut, siswa mulai diarahkan untuk memiliki keberanian berkomunikasi sekaligus kemampuan mengolah informasi.

Pembiasaan dilakukan secara bertahap. Siswa yang pada awalnya masih malu berbicara diberikan kesempatan untuk tampil dalam kelompok kecil. Setelah mulai percaya diri, mereka diberikan kesempatan melakukan wawancara dan menyampaikan hasilnya di depan teman-teman.

Dalam proses tersebut, guru memiliki peran penting sebagai pendamping. Guru tidak hanya mengoreksi hasil akhir, tetapi juga memberikan dorongan agar siswa berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan.

Bagi sekolah, keberanian untuk mencoba merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.

“Kami tidak ingin anak merasa takut salah. Justru ketika mereka berani mencoba, dari situ guru bisa melihat apa yang perlu diperbaiki. Kepercayaan diri itu tidak muncul begitu saja, tetapi harus dilatih dan dibiasakan,” ungkap Gian.

Tidak Hanya Menjadi Talent

Seiring perkembangan program, KUTAWARTA diarahkan agar siswa tidak hanya menjadi talent atau pembawa berita. Sekolah memiliki gagasan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam seluruh proses produksi konten.

Mulai dari menentukan topik, mencari informasi, melakukan wawancara, menulis naskah, menyusun berita, hingga memproduksi konten sederhana.

Dengan konsep tersebut, KUTAWARTA diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang menggabungkan public speaking, literasi, jurnalistik, kreativitas, dan teknologi digital.

Anak yang memiliki kemampuan berbicara dapat diberikan ruang menjadi reporter atau pembawa berita. Sementara siswa yang lebih nyaman menulis dapat diarahkan menjadi penulis naskah atau penyusun berita. Dengan demikian, setiap anak dapat mengambil peran sesuai dengan minat dan potensi masing-masing.

“Kami ingin setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang. Tidak semua anak harus menjadi pembawa berita. Ada yang mungkin lebih bagus menulis, ada yang pandai bertanya, ada yang kreatif mengambil gambar, dan ada yang percaya diri tampil. Semua kemampuan itu bisa menjadi bagian dari KUTAWARTA,” jelasnya.

Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya sekolah untuk memperluas makna literasi. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolahnya, berkomunikasi, serta menghasilkan karya.

Kepercayaan Diri Menjadi Modal Berprestasi

Program KUTAWARTA dan berbagai kegiatan pembiasaan yang dilakukan sekolah turut menjadi bagian dari proses mempersiapkan siswa mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan nonakademik.

Di antaranya Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), serta Pentas PAI.

Pengalaman tampil, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain menjadi modal penting ketika siswa harus tampil dalam sebuah perlombaan.

Hasilnya, berbagai prestasi berhasil ditorehkan siswa SD Negeri 2 Kutakembaran. Salah satu capaian yang membanggakan adalah keberhasilan sekolah meraih Juara Umum FTBI tingkat kecamatan.

Dari 11 cabang perlombaan yang diikuti, seluruhnya berhasil meraih gelar juara.

Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Bagi pihak sekolah, prestasi bukan semata-mata mengenai piala yang berhasil dibawa pulang. Lebih dari itu, pengalaman mengikuti perlombaan menjadi proses untuk membentuk keberanian, kemandirian, sportivitas, dan kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan.

“Bagi kami, piala memang menjadi sesuatu yang membanggakan. Tetapi yang lebih penting adalah proses anak-anak. Mereka berani tampil, berani mencoba, berani berkompetisi, dan belajar dari pengalaman. Itu yang ingin terus kami bangun,” tutur Gian.

Keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kondisi geografis sekolah yang relatif jauh dari pusat perkotaan tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk berprestasi.

Sekolah terus berupaya memaksimalkan potensi yang dimiliki dengan menciptakan berbagai ruang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Menguatkan Identitas melalui Seni dan Budaya

Pengembangan potensi siswa di SD Negeri 2 Kutakembaran tidak hanya dilakukan melalui KUTAWARTA. Sekolah juga memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya lokal melalui kegiatan seni tradisional.

Salah satunya melalui ekstrakurikuler Seni Degung yang dilaksanakan setiap hari Jumat setelah jam sekolah.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan seni tradisional, termasuk alat musik degung dan seruling. Anak-anak diberikan kesempatan untuk belajar memainkan alat musik sekaligus tampil dalam berbagai kesempatan.

Kegiatan seni tersebut memiliki manfaat ganda. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, seni juga dapat menjadi media untuk melatih keberanian dan kerja sama.

Ketika tampil dalam sebuah pertunjukan, siswa harus mampu mengendalikan rasa gugup, mengikuti arahan, bekerja sama dengan anggota kelompok, serta menunjukkan kemampuan yang telah mereka latih.

“Kami ingin anak-anak mengenal perkembangan zaman dan teknologi, tetapi tetap memiliki jati diri. Karena itu, kemampuan komunikasi dan digital kami bangun, tetapi budaya lokal juga tetap kami kuatkan melalui kegiatan seni seperti degung dan seruling,” kata Gian.

Konsep inilah yang kemudian menjadi bagian dari branding KUTAWARTA dan tidak hanya berbicara tentang keberanian tampil, tetapi juga tentang bagaimana siswa mampu berkarya dengan identitas dan karakter yang kuat.

Memanfaatkan Ruang Digital

Perkembangan teknologi juga menjadi peluang bagi sekolah untuk memperkenalkan berbagai karya dan prestasi siswa kepada masyarakat.

Kehadiran platform digital seperti Pesona SD disambut positif oleh pihak sekolah. Platform tersebut dapat menjadi ruang untuk mempublikasikan berbagai kegiatan, program unggulan, karya siswa, maupun prestasi sekolah.

Bagi KUTAWARTA, ruang digital juga dapat menjadi tempat bagi siswa untuk belajar mengenal proses produksi dan publikasi konten secara bertanggung jawab.

Dengan pendampingan guru, siswa dapat belajar bahwa sebuah konten tidak hanya harus menarik, tetapi juga harus memiliki informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ke depan, sekolah berharap KUTAWARTA dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem kecil jurnalistik dan kreativitas siswa.

“Harapan kami KUTAWARTA ini tidak berhenti pada kegiatan anak tampil atau membaca berita. Kami ingin ke depan anak-anak bisa terlibat lebih jauh, mulai dari mencari ide, wawancara, menulis, membuat naskah, sampai menghasilkan konten. Tentu semuanya tetap dengan pendampingan guru,” ujar Gian.

Membangun Anak yang Berani dan Produktif

Melalui berbagai program tersebut, SD Negeri 2 Kutakembaran berupaya memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada siswa.

Anak tidak hanya belajar dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman berbicara dengan orang lain, melakukan wawancara, menulis, tampil di depan publik, memainkan alat musik tradisional, bekerja dalam kelompok, hingga menghasilkan karya.

KUTAWARTA menjadi salah satu ruang yang mempertemukan berbagai kemampuan tersebut.

Berbicara melatih keberanian. Menulis melatih kemampuan berpikir dan mengolah gagasan. Wawancara melatih kemampuan berkomunikasi. Produksi konten melatih kreativitas dan kerja sama. Sementara seni dan budaya membangun identitas serta rasa bangga terhadap lingkungan dan warisan budaya.

Pada akhirnya, KUTAWARTA diharapkan bukan sekadar menjadi sebuah program sekolah, tetapi menjadi bagian dari karakter siswa SD Negeri 2 Kutakembaran.

“Bersuara dengan percaya diri, berkarya melalui tulisan, dan berbudaya dengan jati diri,” menjadi semangat yang ingin terus ditanamkan kepada siswa.

Melalui KUTAWARTA, SD Negeri 2 Kutakembaran berkomitmen menciptakan ruang bagi anak untuk berani bersuara, terampil menulis, kreatif berkarya, dan tetap bangga terhadap budaya lokal. (OM)