Dukung Living Lab Tirta Pawitan, Tuti Andriani Dorong Sinergi Budaya, Riset, dan Teknologi

Budaya, Sosial51 views

KUNINGAN ONLINE – Tradisi Kawin Cai bukan sekadar warisan budaya leluhur, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai model konservasi sumber mata air. Pemerintah Kabupaten Kuningan pun mendorong kearifan lokal tersebut agar dipadukan dengan pendekatan riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi guna memperkuat ketahanan air.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., saat menghadiri kegiatan Pengembangan Model Living Lab Tirta Pawitan: Living Lab Sumber Mata Air dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air di Kabupaten Kuningan, Sabtu (31/10/2026), di Aula Balai Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana.

Iklan

Tuti mengapresiasi masyarakat, para sesepuh, pemerintah desa, serta para penjaga mata air yang selama ini konsisten melestarikan tradisi Kawin Cai. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga alam, merawat lingkungan, dan melindungi sumber kehidupan.

“Tradisi Kawin Cai harus terus kita rawat dan lestarikan. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga alam, merawat lingkungan, serta melindungi sumber mata air,” ujarnya.

Iklan

Ia menegaskan, pengembangan Living Lab Tirta Pawitan menjadi langkah strategis untuk memadukan budaya lokal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat, tradisi Kawin Cai diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya air.

Kegiatan yang melibatkan Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Kuningan (Uniku), dan Yayasan Kibar Budaya Nusantara tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan inovasi konservasi berbasis kearifan lokal.

Tuti berharap hasil riset yang dilakukan tidak berhenti pada kajian akademik semata, tetapi dapat diimplementasikan secara langsung dalam menjaga ketersediaan air bersih sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai penjaga mata air.

“Menjaga dan merawat alam adalah tanggung jawab kita bersama. Perhatian dari sisi akademik dan riset ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan lingkungan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi pelaksanaan forum diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) yang dilanjutkan dengan pelatihan menjaga dan merawat sumber mata air.

Pada kesempatan yang sama, Aa Ade Kadarisman dari Staf Kepresidenan menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan Living Lab Tirta Pawitan agar tidak sekadar menjadi program atau kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi pusat studi dan kajian sumber daya air yang berjalan secara konsisten.

Menurut Ade, keberlanjutan Living Lab perlu dikawal melalui pendekatan akademis dengan melibatkan komunitas, perguruan tinggi, serta berbagai lapisan masyarakat.

“Dengan demikian, keberadaan Living Lab tidak hanya berorientasi pada pembentukan struktur kelembagaan atau kepemimpinan, tetapi lebih jauh berfokus pada upaya menjaga dan menyelesaikan berbagai persoalan terkait sumber daya air,” tuturnya.

Ia juga berharap Living Lab Tirta Pawitan dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus laboratorium praktik bagi dunia pendidikan. Ke depan, kawasan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai objek studi mata kuliah ekologi perairan, lokasi praktik bagi siswa dan mahasiswa, hingga pusat penelitian lanjutan mengenai konservasi sumber mata air.

Selain itu, Ade menyoroti pentingnya pengelolaan dan keamanan data sumber mata air, termasuk informasi mengenai kondisi serta debit air. Menurutnya, data tersebut merupakan aset penting yang harus dijaga, diperbarui, dan dipastikan keandalannya agar dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan maupun penelitian pada masa mendatang.

Dengan pengelolaan data yang baik dan kolaborasi berkelanjutan, Living Lab Tirta Pawitan diharapkan mampu menjadi pusat pembelajaran, penelitian, sekaligus praktik nyata konservasi sumber daya air.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kepala Bappeda, Kepala DPMD, perwakilan Dinas PUTR, Dinas Lingkungan Hidup, Disdikbud, Sekretaris Badan Kesbangpol, Camat Jalaksana, serta para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana.

Melalui pengembangan Living Lab Tirta Pawitan, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap tradisi Kawin Cai tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya leluhur, tetapi juga bertransformasi menjadi gerakan nyata konservasi sumber mata air.

Sinergi antara kearifan lokal, riset akademis, teknologi, dan partisipasi masyarakat diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sumber daya air sekaligus memperkuat ketahanan air bagi generasi sekarang dan mendatang. (OM)