Inspiratif! Kokoy Kurnaeti, Kepala Sekolah dengan Hambatan Penglihatan yang Berbagi Pengalaman di UNISA Kuningan

Pendidikan74 views

KUNINGAN ONLINE – Keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk berkarya, memimpin, dan memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan. Semangat tersebut tercermin dari sosok Kokoy Kurnaeti, S.Pd., M.Pd., seorang kepala sekolah dengan hambatan penglihatan yang berbagi pengalaman dan praktik baik pendidikan inklusif dalam kegiatan pelatihan di Universitas Islam Al-Ihya Kuningan (UNISA Kuningan), Senin (19/10/2026).

Kehadiran Kokoy sebagai narasumber dalam kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Dosen dan Tenaga Kependidikan dalam Pemanfaatan Media dan Teknologi Asistif untuk Pembelajaran Inklusif memberikan perspektif penting bagi sivitas akademika tentang kesetaraan kesempatan, kemandirian, dan pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang ramah disabilitas.

Iklan

Bersama Marlinda Ratnasari Sukandi, S.Pd., Gr., dari SLBN Taruna Mandiri, Kokoy membagikan pengalaman dan praktik baik dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.

Pengalaman Kokoy menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan apabila memperoleh kesempatan, dukungan, dan akses yang sesuai. Hambatan penglihatan yang dihadapinya tidak menghapus kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab, mengembangkan kompetensi, dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan.

Iklan

Disabilitas Bukan Penghalang untuk Berkarya

Dalam konteks pendidikan inklusif, pengalaman seorang pendidik dengan disabilitas memiliki makna tersendiri. Selain memberikan pengetahuan secara konseptual, pengalaman tersebut dapat membantu peserta memahami tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses pendidikan maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pesan yang dapat diangkat dari pengalaman Kokoy adalah pentingnya melihat seseorang berdasarkan kemampuan, kompetensi, dan potensi yang dimilikinya, bukan semata-mata berdasarkan kondisi disabilitas.

“Disabilitas bukanlah alasan untuk berhenti berkarya dan mengembangkan potensi diri. Setiap orang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk maju. Yang terpenting adalah terus belajar, berusaha, serta mendapatkan dukungan dan kesempatan yang setara,” demikian usulan kutipan yang perlu dikonfirmasi kepada Kokoy Kurnaeti.

Pengalaman tersebut juga relevan dengan upaya perguruan tinggi dalam menciptakan lingkungan akademik yang memberikan ruang bagi seluruh mahasiswa untuk belajar, berpartisipasi, dan meraih prestasi.

Teknologi Asistif Bantu Wujudkan Pembelajaran Inklusif

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UNISA Kuningan tersebut, pemanfaatan media dan teknologi asistif menjadi salah satu perhatian utama.

Teknologi asistif dapat membantu penyandang disabilitas mengakses informasi, memahami materi pembelajaran, berkomunikasi, serta menjalankan aktivitas secara lebih mandiri. Bagi penyandang hambatan penglihatan, misalnya, teknologi pembaca layar dan materi digital yang aksesibel dapat menjadi sarana penting untuk memperoleh informasi dan mengikuti proses pembelajaran.

Pemanfaatan teknologi tersebut perlu diiringi dengan pemahaman pendidik mengenai kebutuhan setiap mahasiswa. Dengan demikian, dukungan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat, tetapi juga pada terciptanya proses pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berpartisipasi secara aktif.

Iklan

“Mahasiswa penyandang disabilitas juga memiliki potensi untuk berprestasi. Karena itu, mereka perlu diberikan kesempatan, akses, dan fasilitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya,” ungkap Kokoy.

Menguatkan Komitmen Pendidikan yang Setara

Pelatihan di UNISA Kuningan menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman dosen dan tenaga kependidikan mengenai pentingnya pendidikan inklusif. Saat ini, UNISA Kuningan memiliki 21 mahasiswa penyandang disabilitas dengan beragam kebutuhan dukungan.

Melalui ULD, kampus berupaya mengembangkan layanan pendampingan dan dukungan akademik agar mahasiswa penyandang disabilitas dapat memperoleh akses pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pengalaman dan praktik baik yang dibagikan para narasumber diharapkan dapat menjadi bekal bagi sivitas akademika dalam membangun budaya kampus yang lebih terbuka, menghargai keberagaman, serta memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh mahasiswa.

Kisah Kokoy Kurnaeti pun menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar tentang menerima keberadaan penyandang disabilitas, melainkan juga memastikan mereka memiliki kesempatan untuk berkembang, menunjukkan kemampuan, dan mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui kegiatan ini, UNISA Kuningan diharapkan semakin memperkuat komitmennya dalam membangun perguruan tinggi yang ramah disabilitas, sekaligus menciptakan lingkungan akademik yang mendukung setiap mahasiswa untuk tumbuh dan meraih prestasi. (OM)