Sujarwo Soroti Peluang Tuti Andriani Pimpin Gerindra Kuningan, Elite Politik Mulai Berhitung?

Politik, Sosial72 views

KUNINGAN ONLINE – Nama Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, menjadi perhatian dalam dinamika politik lokal menyusul munculnya isu mengenai kemungkinan dirinya dipercaya memimpin DPC Partai Gerindra Kabupaten Kuningan.

Pengamat Kebijakan Publik Kabupaten Kuningan yang juga Ketua Forum Tekad Kabupaten Kuningan (F-Tekad), Sujarwo, menilai potensi tersebut dapat membawa perubahan terhadap konstelasi politik daerah, terutama menjelang Pemilu dan Pilkada 2029.

Iklan

Menurutnya, apabila Tuti Andriani benar-benar mendapat kepercayaan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra untuk memimpin kepengurusan partai di tingkat kabupaten, posisi politiknya berpotensi semakin strategis.

Sebab, Tuti saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Kuningan. Jika posisi tersebut dipadukan dengan kepemimpinan partai politik, ia dinilai memiliki modal politik yang dapat memperkuat pengaruhnya dalam dinamika pemerintahan maupun politik daerah.

Iklan

“Patut diduga ada pihak-pihak yang mulai merasa kurang nyaman jika DPP Gerindra akhirnya mempercayakan kemudi DPC kepada Ibu Tuti Andriani. Potensi rasa terusik ini bukan hanya di ranah internal Gerindra, melainkan juga bisa meluas ke jajaran elite politik di luar partai,” ungkap Mang Ewo, Senin (12/10/2026).

Meski demikian, isu penunjukan tersebut masih perlu menunggu keputusan resmi dari DPP Partai Gerindra. Karena itu, dinamika yang berkembang saat ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari spekulasi dan pembacaan politik menjelang penataan kepengurusan partai.

Mang Ewo berpandangan, posisi Tuti sebagai pejabat eksekutif yang berpotensi merangkap peran strategis dalam kepemimpinan partai dapat menjadi faktor penting dalam membangun kekuatan politik.

Ia menilai kombinasi antara pengalaman di pemerintahan dan jaringan partai berpotensi memperluas ruang gerak Tuti dalam membangun komunikasi politik dengan masyarakat maupun berbagai elemen politik di Kabupaten Kuningan.

“Jika amanah dari DPP Gerindra benar-benar jatuh ke tangan beliau, hampir siapa pun bakal memprediksi bahwa pada Pemilu dan Pilkada 2029 di Kabupaten Kuningan, sosok Tuti Andriani akan menjadi figur yang sangat tangguh,” jelasnya.

Namun, kekuatan politik dalam kontestasi mendatang tetap akan ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari kinerja pemerintahan, soliditas internal partai, dukungan masyarakat, hingga dinamika koalisi dan munculnya figur-figur pesaing.

Selain faktor jabatan dan struktur partai, Mang Ewo juga menyoroti karakter kepemimpinan perempuan yang dinilainya memiliki daya tarik tersendiri di tengah dinamika politik Kabupaten Kuningan.

Ia mengaitkan potensi kepemimpinan Tuti dengan memori masyarakat terhadap sosok mantan Bupati Kuningan, almarhumah Hj. Utje Choeriah Suganda.

Menurutnya, kepemimpinan perempuan yang mengedepankan pendekatan humanis, komunikasi, dan kemampuan merangkul berbagai kalangan dapat menjadi salah satu modal dalam membangun kedekatan dengan masyarakat.

“Kehadiran pimpinan perempuan di puncak partai politik maupun eksekutif menghadirkan warna yang berbeda. Ini mengingatkan publik pada sosok almarhumah Hj. Utje saat memimpin Kuningan dulu, dengan gaya kepemimpinan yang lembut, humanis, dan merangkul,” paparnya.

Meski begitu, karakter kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh gender, melainkan juga oleh kapasitas, rekam jejak, kebijakan, serta kemampuan menjawab kebutuhan masyarakat.

Di tengah berkembangnya spekulasi mengenai posisi Tuti di Partai Gerindra, muncul pula pembicaraan mengenai kemungkinan dirinya berpindah ke partai politik lain apabila tidak memperoleh kepercayaan untuk memimpin DPC Gerindra Kuningan.

Mang Ewo menilai spekulasi tersebut tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan arah politik Tuti ke depan.

Ia meyakini keputusan politik seseorang, terlebih bagi figur yang sedang menduduki jabatan publik, melibatkan berbagai pertimbangan dan tidak bisa dilepaskan dari komitmen serta perhitungan jangka panjang.

“Saya yakin betul, kalaupun Ibu Tuti tidak mendapatkan amanah untuk menakhodai Gerindra Kabupaten Kuningan, tidak bakal semudah itu beliau loncat atau pindah ke partai politik mana pun. Ada komitmen dan kalkulasi politik yang jauh lebih matang di sana,” pungkasnya.

Dinamika tersebut kini menjadi bagian dari perhatian publik terhadap perkembangan politik Kabupaten Kuningan. Namun, arah akhir konstelasi politik menuju 2029 masih akan bergantung pada keputusan resmi partai, konsolidasi para aktor politik, serta respons masyarakat terhadap kinerja dan kepemimpinan para figur yang muncul. (OM)