SMPN 5 Kuningan Sulap Galetot Jadi Tot Bar, Tot Candy dan Tot Sagon, Inovasi Pangan Lokal untuk Generasi Muda

Pendidikan79 views

KUNINGAN ONLINE — Siapa sangka makanan tradisional khas Kuningan berbahan dasar singkong, galetot, bisa disulap menjadi produk kekinian yang menarik bagi generasi muda.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh SMP Negeri 5 Kuningan di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Hartini, M.Pd. Berangkat dari keinginan mengangkat kembali pangan lokal, galetot dikreasikan menjadi tiga produk baru, yakni Tot Bar, Tot Candy, dan Tot Sagon.

Iklan

Hartini mengatakan, inovasi tersebut tidak hanya bertujuan mengubah tampilan dan cita rasa galetot, tetapi juga menjadi upaya mengenalkan kembali warisan kuliner Kuningan kepada generasi muda.

“Galetot ini merupakan makanan khas Kuningan yang perlu kita kenalkan kembali. Kami ingin galetot tidak hanya dikenal sebagai makanan orang tua, tetapi bisa diterima oleh generasi muda,” ujar Hartini saat ditemui di stand SMPN 5 Kuningan, Paseban Cigugur, Rabu (19/8/2026).

Iklan

Menurutnya, galetot memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pangan alternatif masyarakat Kuningan. Makanan tersebut mulai dikenal sejak masa pendudukan Jepang, ketika masyarakat menghadapi keterbatasan pangan.

Singkong kemudian menjadi salah satu pilihan karena mudah ditanam, cepat dipanen dan dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah. Melimpahnya singkong di wilayah Kuningan membuat masyarakat mengembangkan berbagai cara pengolahan, termasuk melalui proses pengawetan tradisional yang menghasilkan galetot.

Dalam proses tradisionalnya, singkong dikupas dan dicuci bersih, kemudian dibiarkan melalui proses hujan-angin selama sekitar lima hingga tujuh hari hingga kadar airnya berkurang dan teksturnya mengeras.

“Setelah kering, bisa disimpan sampai beberapa bulan sebagai cadangan pangan,” jelasnya.

Iklan

Untuk mengolahnya menjadi makanan, galetot kering biasanya direndam selama sekitar tiga hari dengan air yang diganti setiap malam. Setelah teksturnya kembali lunak, galetot kemudian dikukus dan disajikan dengan parutan kelapa.

Namun, SMPN 5 Kuningan mencoba memberikan wajah baru terhadap pangan tradisional tersebut.

Inovasi itu bermula dari tantangan menulis yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kuningan. Hartini memilih kuliner lokal sebagai tema yang diangkat. Dari proses tersebut kemudian muncul gagasan untuk mengembangkan galetot menjadi produk yang lebih modern.

Pengembangan galetot juga menjadi bagian dari program kerja 100 hari Hartini sebagai kepala sekolah baru di SMPN 5 Kuningan.

“Ini juga bagian dari upaya menghidupkan kembali ruh SMPN 5 Kuningan. Secara historis sekolah ini merupakan bekas SKKP atau Sekolah Keterampilan Keputrian Pertama, sehingga keterampilan boga dan kriya ingin kami hidupkan kembali,” katanya.

Tiga Produk Baru

Dari proses inovasi tersebut lahirlah tiga varian utama.

Pertama, Tot Bar atau Galetot Bar, yakni galetot yang diolah dan dicetak berbentuk batangan seperti makanan ringan modern.

Kedua, Tot Candy atau Galetot Permen, berupa olahan galetot yang dipotong dalam ukuran kecil sehingga lebih praktis dan menarik bagi anak-anak maupun remaja.

Ketiga, Tot Sagon atau Galetot Sagon, yakni galetot yang dikembangkan dalam bentuk serbuk dengan karakteristik yang berbeda dari dua produk lainnya.

Dalam proses pembuatannya, galetot dipadukan dengan sejumlah bahan tambahan seperti gula aren, kurma, kacang tanah sangrai, susu dan sedikit mentega.

Galetot terlebih dahulu dicuci dan ditiriskan, kemudian dihaluskan menggunakan chopper. Setelah itu, galetot disangrai hingga matang sekaligus mengurangi aroma khasnya.

Sementara itu, gula aren dicairkan dengan sedikit air. Kurma yang sudah dibuang bijinya dan kacang tanah sangrai juga dihaluskan.

Seluruh bahan kemudian dicampurkan hingga merata. Adonan diratakan di atas loyang dan dipanggang menggunakan oven selama sekitar 20 hingga 30 menit.

Setelah matang, adonan dipotong sesuai kebutuhan. Ukuran lebih besar digunakan untuk Tot Bar, sedangkan potongan lebih kecil dikembangkan menjadi Tot Candy.

Masuk dalam Pembelajaran Siswa

Hartini menegaskan, inovasi galetot tersebut tidak berhenti sebagai produk makanan semata. Program itu juga diarahkan menjadi bagian dari pembelajaran siswa.

Pengembangan produk galetot diintegrasikan dalam kegiatan kokurikuler dan muatan lokal MLGC (Muatan Lokal Gunung Ciremai).

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya dikenalkan dengan sejarah dan budaya lokal, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mengolah bahan pangan tradisional menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

“Kami ingin anak-anak memiliki life skill. Mereka belajar boga, belajar kriya, sekaligus belajar kewirausahaan. Jadi setelah lulus nanti mereka memiliki bekal keterampilan,” tutur Hartini.

Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan saat ini yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga kreativitas, kemandirian dan kemampuan melihat peluang usaha.

Lebih jauh, Hartini berharap inovasi yang dilakukan SMPN 5 Kuningan dapat menginspirasi masyarakat untuk tidak hanya mengolah galetot dengan cara tradisional.

Galetot yang selama ini identik dengan olahan sederhana diharapkan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif dengan kemasan dan nilai jual yang lebih tinggi.

“Kami berharap masyarakat juga bisa melihat bahwa galetot bisa dikembangkan. Tidak hanya dibuat urap atau dikukus, tetapi bisa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

Ke depan, SMPN 5 Kuningan menargetkan Tot Bar, Tot Candy dan Tot Sagon dapat berkembang menjadi produk oleh-oleh khas baru Kabupaten Kuningan.

Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga keberlangsungan pangan tradisional agar tidak hilang ditelan zaman, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mengolah dan mengembangkan potensi pangan lokal dengan kreativitas mereka sendiri. (OM)