Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Pendidikan Anak Usia Dini

Informasi, Pendidikan1,984 views

Dalam era revolusi industry 4.0 menuntut kemampuan berbahasa dan interaksi dalam bahasa asing. Dalam hal ini kebutuhan dalam memahami bahasa inggrus sangatlah di utamakan dalam menghadapi kondisi global saat ini. Keaadaan tersebut membuat kita menyadari tentang pentingnya kemampuan bahasa asing yang harus dimiliki oleh setiap individu, sehingga ketika kemapuan berbahasa asing sudah dimiliki maka hal- hal yang bekaitan dengan intruksi maupun informasi berbahasa asing dapat dengan mudah dipahami dan tidak akan tertinggal. Selain itu kondisi pasar bebas dalam revolusi industry menggiring kita ke dalam situasi  dimana komunikasi tidak hanya bersifat nasional saja melainkan merambah ke dunia internasional dengan menjamurnya perusahaan- perusahaan asing yang berdiri di negeri ini. Dengan dikuasainya skill bahasa inggris dapat membuka peluang bagi kita untuk lebih maju dan berkembang serta bersaing dalam era revolusi industry saat ini.

Tingkat keberhasilan penguasaan bahasa inggris tentunya harus dimulai dengan pembiasaan pembelajaran bahasa inggris sejak usia dini menimbulkan pro dan kontra antara pakar. Sebagian pakar berasumsi bahwa agar pembelajara bahasa inggrus berhasil harus dimulai sedini mungkin, maka pembelajaran bahasa inggrus di mulai dari tingkat dasar. Namun ada sebagian pendapat juga mengatakan bahwa ketika bahasa inggris diterapkan dan diajarkan sedini mungkin akan menambah beban siswa, sehinggga pembelajaran bahasa inggris dinilai akan membawa banyak masalah dan dikhawatirkan terhadap kegagalan pembelajaran bahasa inggris di Indonesia.

Iklan

Sutarsyah (2017) menyebutkan bahwa Teori Language Acquisition Device (LAD, hipotesis umur kritis ( Critival age Hypotesis ) dan teori Afektif  dapat di jadikan sebagai landasan para pakar yang menyetujui bahasa inggris dapat diterapkan sebagai muatan local. Mulok pada hakikatnya merupakan manifestasi dari bagian yang berlaku secara lokal yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Mulok tersebut dimaksudkan untuk memberi bekal kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Praktiknya, setiap sekolah boleh menambah mata pelajaran yang sesuai dengan keadaan lingkungan dan ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan dengan tidak mengurangi materi pada kurikulum yang berlaku secara nasional. Hal ini sesuai dengan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 28/1990 (ayat 3). Peraturan Pemerintah tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa pendidikan dasar dapat menjabarkan dan atau menambah bahan kajian dari mata pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat (ayat 4).

Comsky (1965) dalam sutarsyah (2017) berpendapat bahwa setiap orang mempunyai sarana untuk belajar bahasa yang disebut Language Acquisition Divice (LAD). LAD ini merupakan piranti pemerolehan bahasa secara alamiah yang dimiliki oleh setiap orang sejak lahir. Lingkungan atau pembelajaran hanyalah berfungsi sebagai pemicu yang mengaktifkan alat tersebut. Menurut teori ini, proses belajar bahasa asing atau bahasa kedua tidak berbeda dari proses belajar bahasa pertama. Karena dengan piranti pemerolehan bahasa secara alamiah (LAD) inilah setiap orang dapat belajar bahasa apa saja dan kapan saja tanpa mengalami kesukaran. Oleh karenya pembelajaran bahasa inggris dapat dimulai sejak dini. 

Iklan

Sejalan dengan sutasyah (2017) Dalam Hipotesis Umur Krisis, Lenneberg (dalam Krashen, 1988: 72) menyatakan bahwa secara biologis elastisitas otak anak masih tinggi sehingga 149 setiap anak sangat mudah untuk menguasai bahasa apapun. Akan tetapi elastisitas tersebut akan berhenti setelah anak memasuki pubertas, karena sejak itu dalam otak anak terjadi proses lateralisasi (penyebelahan) fungsi, dimana syaraf yang bermanfaat untuk proses perkembangan bahasa berpusat di otak sebelah kiri. Sejak proses ini terjadi, perkembangan bahasa anak cenderung beku. Keterampilan dasar berbahasa yang belum dikuasai pada masa itu (terutama keterampilan pengucapan) akan cenderung tidak sempurna karena elastisitas alat ucap. Dengan kata lain, secara singkat teori kritis ini menyatakan bahwa (1) penguasaan bahasa itu tumbuh sejajar dengan pertumbuhan biologis, dan (2) sesudah masa puber penguasaan bahasa secara natural sudah tidak bisa lagi (Dardjowidjojo, 1986:149). Agar kemampuan alat ucap itu berkembang secara maksimal, teori Lenneberg tersebut tampaknya dapat dijadikan dasar untuk mendukung dimulainya pembelajaran Bahasa Inggris di usia muda, sebelum terjadi penyebelahan otak.

Menurut Krashen (1988) proses belajar bahasa terjadi karena adanya masukan atau input, baik secara tertulis maupun secara lisan. Namun, tidak semua input dapat diproses oleh otak. Agar input tersebut diproses oleh otak, input harus menjadi intake. Hal ini terjadi bila kondisi afektif anak baik, artinya anak tidak takut, tidak gugup, atau tidak tegang. Pada usia muda (anak-anak), biasanya anak tidak takut membuat kesilapan, tidak malu, tidak takut ditertawakan, dan tidak tegang. Dalam suasana semacam ini, input yang terpahami (comprehensible input) dicerna dengan baik sehingga dapat dipahami dengan mudah. Faktor afektif initampaknya juga mendukung para pakar untuk menyetujui Bahasa Inggris diajarkan sejak dini. Disamping itu ada beberapa hal yang harus diketahui oleh guru sehubungan dengan penyelengaraan pembelajaran Bahasa Inggris, khususnya di tingkat dasar, sehingga memungkinkan proses belajar bahasa terjadi (Newmark, 1981; Krashen, 1981; Terrell, 1982) dalam sutarsyah (2017).

  1. Adanya Pesan

Adanya perhatian siswa terhadap sesuatu hal biasanya terjadi kalau ada pesan dalam kegiatan manipulasi kebahasaan. Dalam proses ini, siswa merasa secara tidak sadar berkomunikasi menggunakan bahasa. Dalam hal ini perhatian siswa terfokus pada pesan (pesan kebahasaan) dan bukan pada aturan-aturan gramatikal. Pemerolehan bahasa (language acquisition) dianggap sebagai proses yang tidak sadar; dan belajar secara sadar tidak dipandang sebagai hal yang tidak menunjang proses pemerolehan ini.

2. Pemahaman (Understanding)

Dalam proses belajar bahasa siswa harus mengalami proses berpikir dan mengerti. Paling tidak mereka dapat menyimpulkan arti suatu pesan dalam ungkapan yang sebelumnya mereka tidak tahu. Jadi untuk latihan menggunakan bahasa tidak cukup hanya sekedar mempelajari, tetapi perlu mengerti macammacam ungkapan.

3. Quantitas

Siswa dalam proses belajar bahasa siswa harus memiliki banyak kesempatan untuk memahami. Hal ini artinya bahwa dalam tahap awal, kegiatan reseptif lebih penting dari pada kegiatan produktif. Siswa harus banyak melakukan kegiatan mendengar sebelum mereka merasa siap untuk berbicara. Dengan demikian kegiatan belajar berbicara harus ditunda (delay speaking).

4. Interest

Agar supaya siswa menaruh perhatian pada suatu topik dalam kegiatan belajar bahasa, pesan harus menarik dan melibatkan siswa, sehingga belajar menjadi proses yang benar-benar aktif. Salah satu cara untuk melakukan itu ialah dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar untuk mempelajari mata pelajaran lain.

5. Kecemasan yang rendah

Dalam belajar bahasa guru harus menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa cemas, dan merasa terancam. Jadi menurunkan kendala afektif harus menajdi perhatian utama para guru. Dalam belajar yang bersifat difensif, siswa merasa bahwa pengalaman belajar merupakan suatu ancaman dan bahaya yang harus dihindari. Memaksa anak untuk berbicara (speaking) sementara mereka belum siap (bisa) adalah merupakan kegiatan yang membuat mereka malu dan mengancam.

Strategi – strategi Pembelajaran Bahasa Inggris yang Menyenangkan untuk

Anak Usia Dini

Adapun strategi – startegi dan pendekatan dalam pembelajaran bahasa inggris yang menyenagkan untuk anak usia dini menurut samad (2016) diantaranya:

  1. Teaching English by using song

Pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan lagu adalah salah satu metode atau cara mengajarkan bahasa inggris dengan menggunakan nyanyi atau lagu sebagai media nya (Nurul, 2014). Mengingat bahasa Inggris merupakan bahasa asing di Indonesia, tentunya proses pembelajarannya memerlukan pendekatan yang tepat dan efektif. Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang guru dalam menyajikan proses kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Sejalan dengan keberadaan seorang anak yang senang menyanyi dan bergerak maka gerak dan lagu adalah salah satu pendekatan yang sangat tepat jika digunakan sebagai sarana dalam menyajikan proses pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini. Menyajikan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak dengan tidak meninggalkan kaidah berbahasa Inggris yang baik dan benar. (Widiputera, 2004)

Lebih lanjut Alfaridi (2006) menjelaskan berdasarkan pengalaman para guru bahasa Inggris dan menurut para ahli bahasa seperti yang dinyatakan oleh Abdulrahman Al-Faridi lagu-lagu berbahasa Inggris dapat membantu para guru untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan (Nurul, 2014). Nyanyian dan musik digunakan sebagai teknik dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Musik yang memiliki berbagai kandungan elemen di dalamnya dapat dijadikan salah satu bentuk fasilitas untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak.Tinggi nada memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih kepekaan pendengarannya.Perubahan-perubahan ritme atau irama musik melatih anak untuk membedakan irama internal (inner rhythm) serta kemampuan motoriknya (misalnya, jika dikombinasikan dengan latihan gerak sesuai dengan liriknya) (Nurul, 2014).

Keuntungan mengajarkan bahasa Inggris menggunakan nyanyian:

  •  Melalui lagu akan memotivasi anak untuk lebih senang mempelajari bahasa Inggris.
  •  Dengan menyanyi anak menjadi senang dan lebih mudah dalam memahami materi ajar yang disampaikan. Kemampuan guru dalam memilih lagu dan menciptakan gerakan yang sesuai dengan usia perkembangan anak akan berdampak pula terhadap berhasilnya proses pembelajaran bahasa Inggris pada anak usia dini.
  • Melalui nyanyian dan kegiatan pembelajaran yang bervariasi, pendidik dapat menumbuhkan minat anak untuk lebih senang dan giat belajar, bahkan dapat memudahkan anak dalam memahami materi ajar yang disampaikan.
  •  Anak dibuat senang, tidak bosan, dan tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Dengan demikian bernyanyi merupakan suatu kegiatan yang sangat disukai oleh anak-anak.Secara umum menyanyi bagi anak lebih berfungsi sebagai aktivitas bermain dari pada aktivitas pembelajaran atau penyampaian pesan.Menyanyi dapat memberikan kepuasan, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi anak sehingga dapat mendorong anak untuk belajar lebih giat (Joyful Learning). Dengan nyanyian seorang anak akan lebih cepat mempelajari, menguasai, dan mempraktikkan suatu materi ajar yang disampaikan oleh pendidik. Selain itu kemampuan anak dalam mendengar (listening), bernyanyi (singing), berkreativitas (creative) dapat dilatih melalui kegiatan ini.

2. Teaching english by using games

Widiputera (2004) menjelaskan dalam pembelajaran Bahasa Inggris banyak metode dan teknik yang dapat digunakan, diantaranya melalui:

  • Story Telling (Bercerita)
  •  Role Play (Bermain Peran)
  • Art and Crafts (Seni dan Kerajinan Tangan)
  • Games (Permainan),
  • Show and Tell,
  • Music and Movement (Gerak dan Lagu) dimana termasuk di dalamnya singing (Nyanyian)

Teaching english by using games: Pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan game (permainan sebagai media nya). Keuntungan menggunakan games dalam pembelajaran:

  •  Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan Dengan menggunakan media game dalam kegiatan belajar, maka akan ada penyeragaman penafsiran dari guru mata pelajaran terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan kepada para siswa.
  •  Proses pembelajaran menjadi lebih menarik Media game terdiri dari unsur visual (dapat dilihat), audio (dapat didengar) dan gerak (dapat berinteraksi). Jadi media game ini dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang reaksi mereka terhadap penjelasan guru, memungkinkan siswa menyentuh objek kajian pelajaran, membantu mereka mengkonkretkan sesuatu yang abstrak dan sebagainya.
  •  Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif. Adanya unsur AI (artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan pada media game, maka akan terjadi komunikasi dua arah dimana pertanyaan muncul secara acak pada layar komputer dan siswa menjawab pertanyaan tersebut. Dengan semakin tingginya pemrograman komputer pada AI, maka game yang dibuat dapat semakin komplek disesuaikan dengan tingkat kemampuan dari siswa itu sendiri. Contohnya adalah game simulasi.
  • Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi. Dengan media game, maka guru tidak perlu menghabiskan waktu banyak untuk menjelaskan materi. Dengan media game, siswa dapat melatih dirinya dengan cara berinteraksi dengan media game mengenai suatu materi yang mereka ingin pelajari.
  •  Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan. Selain lebih efisien dalam proses belajar-mengajar seperti diuraikan diatas, media game dapat membantu siswa menyerap materi pelajaran secara lebih mendalam dan utuh. Hal ini disebabkan media game lebih menarik karena ada unsur visual dan audio tetapi juga interaktif yang membuat siswa bisa ber-interaksi dengan program game tentang suatu mata pelajaran. Contohnya adalah quiz game.

Anak usia dini mempunyai periode yang sensitive atau peka terhadap sesuatu. Segala macam aspek dalam berbahasa bisa diperkenalkan kepada mereka sebelum masa ini berakhir, Karena setelah anak berusia 8 tahun perkembangan otaknya mencapai 80 %. Oleh karena itu, pengajar atau guru harus berusaha berikan yang terbaik untuk memanfaatkan masa anak usia dini dengan memberikan strategi-strategi yang mampu mendongkrak semangat dan motivasi dengan apa yang diberikan, khususnya untuk pengajaran bahasa Inggris. Seperti yang diketahui bahwa anak-anak menyukai sesuatu yang bersifat menyenangkan. Untuk itulah dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat diterapkan tentang strategi pembelajaran anak usia dini yang menyenangkan

REFERENSI

Krashen, Stephen. 1988. Second Language Acquisition and Second Language Learning. New York: Prentice Hall International Engglish Language Teaching.

 Sutaryah, Cucu. 2017. Pembelajaran Bahasa Inggris Sebagai Muatan Lokalpada Sekolah Dasar Di Propinsi Lampung. https://media.neliti.com/media/publications/241032-pembelajaran bahasa-inggris-sebagai-muat-54a5ea54.pdf. diakses 2 juni 2021

Samad, Farida, Nurlela. 2016. Strategi Pembelajaran Bahasa Inggris Yang Menyenangkan Untuk Anak Usia Dini https://ejournal.unkhair.ac.id/index.php/cahayapd/article/download/226/176 diakses pada 2 juni 2021

Biodata Penulis :

Rika septiani, M.Pd.B.I.

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris universitas Islam Al Ihya Kuningan