Nasib Azhari, Mahasiswa Asal Aceh Terisolir di Cibinuang Kuningan Usai PPL, Terhambat Pulang Akibat Bencana

Sosial492 views

KUNINGAN ONLINE – Jauh dari kampung halaman, terpisah dari keluarga, serta terbatasnya akses komunikasi menjadi kenyataan pahit yang kini dialami Azhari (23), mahasiswa Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Aceh asal Desa Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Usai menyelesaikan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Azhari hingga kini masih terisolir dan belum dapat kembali ke daerah asalnya.

Azhari menjalani PPL sejak Juli 2025 selama kurang lebih empat bulan di Dusun Cikopo, Desa Cibinuang, Kecamatan Kuningan. Ia bergabung bersama sebelas mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Cirebon, Tegal, serta beberapa wilayah di luar Pulau Jawa. Program PPL tersebut resmi berakhir pada 28 November 2025, namun situasi darurat bencana di kampung halamannya membuat kepulangan Azhari tertunda tanpa kepastian.

Iklan

Menurut Azhari, Kuningan dipilih sebagai lokasi PPL bukan tanpa alasan. Ia memiliki ketertarikan khusus terhadap ikan dewa, spesies ikan air tawar yang di Kuningan dianggap sakral dan dilindungi oleh nilai budaya serta kearifan lokal masyarakat.

“Saya ke Kuningan memang punya tujuan belajar tentang ikan dewa. Di Aceh ikan ini sudah hampir punah karena banyak dikonsumsi, sementara pengetahuan tentang cara budidayanya masih sangat terbatas,” ujar Azhari kepada KuninganOnline.com, Sabtu (3/1/2026).

Iklan

Ia menilai, kepercayaan masyarakat Kuningan yang tidak memperkenankan ikan dewa untuk dikonsumsi justru menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian spesies tersebut. Pengalaman lapangan tersebut, kata Azhari, menjadi bekal penting bagi masa depannya di bidang perikanan dan konservasi sumber daya hayati.

Namun, kondisi darurat akibat banjir besar yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra membuat rencana kepulangan Azhari terhambat. Meski rumah orang tuanya berada di wilayah perbukitan dan tidak terdampak langsung banjir, lumpuhnya akses transportasi dan aktivitas masyarakat di wilayah sekitarnya menyebabkan mobilitas nyaris tidak memungkinkan.

“Rumah saya memang tidak kebanjiran karena di dataran tinggi, tapi wilayah bawah lumpuh. Jalan tidak bisa dilewati, aktivitas masyarakat berhenti. Jadi satu kawasan tidak bisa berfungsi normal,” jelas Azhari putra dari Ibu Siti Arpaf dan Ayah Mad Jadi.

Kesulitan tersebut diperparah dengan terbatasnya akses komunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Azhari mengaku hanya sesekali dapat berkomunikasi melalui sambungan yang tidak stabil.

“Kalau komunikasi lewat handphone sering putus-putus. Di sana sinyal memang susah, biasanya harus pakai wifi, itu pun tidak selalu ada,” tambahnya.

Sementara itu, dari sebelas mahasiswa peserta PPL, sebagian besar telah kembali ke daerah masing-masing. Satu mahasiswa lain asal Aceh bernama Noval telah lebih dulu pulang karena wilayah tempat tinggalnya tidak terdampak bencana.

“Ada juga teman dari Aceh, namanya Noval, tapi dia bisa pulang karena daerahnya aman dari banjir,” tutur Azhari.

Di tengah keterbatasan tersebut, Azhari mendapat bantuan dari Dodo Ahda Breeding Fawase, pemilik usaha budidaya ikan di Desa Cibinuang. Sejak berakhirnya masa PPL, Dodo bersama keluarganya menanggung kebutuhan hidup Azhari, mulai dari tempat tinggal hingga kebutuhan makan dan minum sehari-hari.

Dodo Ahda Breeding Fawase mengatakan, bantuan tersebut diberikan atas dasar kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama, terlebih melihat kondisi Azhari yang jauh dari keluarga dan terkendala untuk pulang.

“Namanya juga anak rantau. Apalagi dia mahasiswa yang sedang belajar. Selama masih di Kuningan dan belum bisa pulang, ya kami anggap seperti keluarga sendiri,” ujar Dodo.

Ia mengaku tidak tega jika harus membiarkan Azhari hidup sendiri tanpa kepastian, terlebih di tengah situasi bencana yang menimpa daerah asal mahasiswa tersebut.

“Selama saya mampu, kebutuhan sehari-hari kami bantu. Tempat tinggal dan makan sudah kami siapkan. Mudah-mudahan ada solusi agar Azhari bisa segera pulang ke Aceh dan bertemu keluarganya,” tambahnya.

Dodo juga berharap ada perhatian dari pemerintah atau pihak terkait untuk membantu memfasilitasi kepulangan Azhari, mengingat kondisi yang dialaminya bukan semata-mata persoalan pribadi, tetapi dampak dari bencana alam.

“Harapannya ada perhatian dari pemerintah. Ini kan dampak bencana, jadi semoga ada solusi dan bantuan agar dia bisa pulang dengan aman,” tuturnya.

Azhari sendiri menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Dodo dan keluarga. Ia mengaku sangat terbantu dan merasa tidak sendirian meski berada jauh dari kampung halaman.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Setiap hari makan dan tempat tinggal dibantu keluarga Pak Dodo. Semoga kebaikan beliau dibalas oleh Allah SWT,” ucapnya.

Dalam waktu dekat, Azhari berencana menuju kampus pusat Politeknik AUP di Jakarta sekitar tanggal 18 atau 19 Januari 2026, sembari menunggu adanya bantuan atau kepastian untuk bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Aceh.

Ia berharap pemerintah, baik pemerintah daerah maupun instansi terkait, dapat memberikan perhatian dan bantuan agar dirinya bisa segera kembali berkumpul bersama keluarga.

“Harapan saya kuliah bisa selesai, keluarga di Aceh selalu sehat, dan semoga pemerintah bisa membantu saya untuk pulang,” pungkas Azhari.

Kisah Azhari menjadi gambaran nyata dampak bencana alam yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menyisakan persoalan sosial dan kemanusiaan, khususnya bagi mahasiswa perantauan yang tengah menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. (OM)