Melesat dengan Akar yang Kuat: Refleksi Perguruan Tinggi di Hari Jadi ke-528 Kuningan

Galeri, Opini50 views

Oleh: Dr. Apt. Wawang Anwarudin, M.Sc.
Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan

Lima ratus dua puluh delapan tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah daerah. Sejak tanggal berdirinya diperingati setiap 1 September, Kuningan telah melalui pergantian zaman, dari masa kademangan hingga era digital hari ini. Pada peringatan tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kuningan mengusung tema “Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi” — sebuah filosofi yang, jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya berbicara langsung kepada dunia pendidikan tinggi.

Iklan

Dua Kata Kunci, Satu Tantangan

“Melesat Ngudag Jaman” mengandung semangat bergerak cepat, tangkas, dan adaptif terhadap perubahan. Ini bukan sekadar slogan pembangunan fisik; ini adalah tantangan bagi siapa pun yang bertugas mencetak sumber daya manusia — termasuk perguruan tinggi. Sementara “Ngakar Kuat Purwadaksi” mengingatkan bahwa kecepatan tanpa akar hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan jati diri: cakap secara teknis, tetapi rapuh secara nilai.

Ketegangan antara kecepatan dan keakaran ini bukan hal baru bagi kami di Universitas Muhammadiyah Kuningan. Justru inilah yang sejak awal menjadi arah gerak kampus ini, yang kami rumuskan dalam visi: menjadi universitas yang unggul dan inovatif, berkarakter teknopreneurship, berlandaskan Al Islam.

Iklan

Unggul dan Inovatif: Wajah “Melesat” di Ruang Kelas

Kata “unggul dan inovatif berkarakter teknopreneurship” adalah jawaban kami atas ajakan “Melesat Ngudag Jaman”. Dunia kerja hari ini tidak lagi cukup dipenuhi lulusan yang hanya menghafal teori. Kuningan, dengan capaian Laju Pertumbuhan Ekonomi yang melonjak hingga 6,98 persen pada 2025 — meningkat tajam dari 3,56 persen di tahun 2021 — membutuhkan lulusan yang mampu menerjemahkan ilmu menjadi nilai ekonomi: petani yang paham teknologi pertanian presisi, apoteker yang memahami rantai pasok obat berbasis data, wirausahawan muda yang lahir dari riset kampus, bukan sekadar pencari kerja.

Semangat teknopreneurship yang kami tanamkan bukan berarti mengejar kecepatan demi kecepatan. Ia adalah wujud tanggung jawab kami agar generasi muda Kuningan tidak tertinggal, sembari tetap menjadi pelaku, bukan penonton, dari pertumbuhan daerahnya sendiri.

Berlandaskan Al Islam: Wajah “Ngakar Kuat Purwadaksi”

Namun kecepatan tanpa fondasi adalah bahaya. Di sinilah frasa “berlandaskan Al Islam” dalam visi kami menemukan maknanya yang paling nyata. Sebagaimana pesan “Ngakar Kuat Purwadaksi” mengingatkan agar pembangunan tidak mencabut akar sejarah, nilai agama, kearifan lokal, dan tradisi Sunda-Kuningan, kami di UM Kuningan meyakini bahwa pendidikan tinggi memiliki tugas yang sama: mendidik intelektual yang berakhlak, bukan sekadar terampil.

Nilai-nilai keislaman yang moderat dan kearifan lokal Kuningan sesungguhnya bukan dua hal yang bertentangan — keduanya sama-sama mengajarkan penghormatan pada leluhur, kejujuran, dan kepedulian pada sesama. Ketika kampus menjadikan Al Islam sebagai landasan, sesungguhnya kampus sedang menjaga akar yang sama dengan yang dijaga daerah ini selama 528 tahun.

Bertumbuh dan Bermanfaat: Titik Temu

Jika visi UM Kuningan menjawab tema Hari Jadi Kuningan dari sisi arah, maka spirit kami — Bertumbuh dan Bermanfaat — menjawabnya dari sisi tujuan akhir. Pertumbuhan yang kami kejar bukan pertumbuhan untuk diri sendiri: bukan sekadar bertambahnya jumlah mahasiswa, program studi, atau gedung. Pertumbuhan itu baru bermakna jika ia bermanfaat — bagi petani di lereng Ciremai, bagi UMKM di pelosok kecamatan, bagi pemerintah daerah yang membutuhkan kajian kebijakan berbasis data, dan bagi masyarakat Kuningan secara luas.

Spirit inilah yang membuat kami percaya bahwa kampus tidak boleh menjadi menara gading yang berjalan sendiri, terpisah dari denyut pembangunan daerah. Sebaliknya, kampus harus menjadi mitra sejajar pemerintah daerah dalam menerjemahkan visi “Kuningan Melesat” — yang mengedepankan daerah yang maju, memberdayakan, lestari, agamis, dan tangguh — ke dalam ruang-ruang kelas, laboratorium, dan program pengabdian masyarakat.

Menutup Usia ke-528 dengan Sinergi

Di usia ke-528 ini, Kuningan sedang menata ulang cara merayakan sejarahnya: karnaval yang mengangkat tema sejarah dari masa ke masa, tradisi adat yang dikemas ulang agar lebih relevan bagi generasi muda, hingga penguatan ekonomi lokal selama masa perayaan. Semua ini adalah bukti bahwa daerah ini sedang belajar melakukan hal yang sama dengan yang kami usahakan di kampus: melesat tanpa kehilangan akar.

Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi di Kuningan, UM Kuningan ingin menegaskan komitmennya: bertumbuh bersama daerah, dan memastikan pertumbuhan itu bermanfaat bagi masyarakat luas. Selamat Hari Jadi ke-528 Kuningan — semoga kita terus melesat mengejar zaman, dengan akar yang tetap kuat tertanam pada sejarah, nilai, dan kearifan lokal yang telah menjaga daerah ini selama lebih dari lima abad.