Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan Kuningan Dikemas Berbeda, 500 Peserta Turun Langsung Layani Masyarakat

Pendidikan15 views

KUNINGAN ONLINE – Kegiatan Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan Kabupaten Kuningan tahun 2026 dikemas berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Tak hanya mengedepankan kegiatan kepramukaan, kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tersebut juga dipadukan dengan edukasi dan aksi sosial yang menyentuh langsung masyarakat.

Ketua Forum PKBM Kabupaten Kuningan, Nurrohim, mengatakan Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan merupakan agenda rutin dua tahunan Forum PKBM. Kegiatan tersebut semestinya dilaksanakan pada 2025, namun baru dapat digelar tahun ini.

Iklan

“Jadi kegiatan kali ini untuk Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan itu adalah agenda dua tahunan kami. Karena tahun 2025 kemarin tidak dilaksanakan, maka sekarang dilaksanakan,” kata Nurrohim, di Lapangan Desa Mandala, Kecamatan Maleber, Jumat (3/9/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut juga telah masuk dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) sehingga menjadi bagian dari agenda yang harus dilaksanakan oleh lembaga PKBM.

Iklan

“Ini merupakan agenda rutin yang sudah masuk dalam kegiatan ARKAS, sehingga harus dilaksanakan oleh kami dari pihak PKBM. Baik itu berbagai kegiatan kemah, porseni, dan sebagainya yang sudah masuk dalam ARKAS itu wajib dilaksanakan sebagai bukti pertanggungjawaban kami sebagai lembaga,” jelasnya.

Namun, pelaksanaan tahun ini memiliki konsep yang berbeda. Jika sebelumnya kegiatan lebih banyak berorientasi pada kemah kepramukaan, kali ini konsep Kemah Bakti diarahkan agar peserta lebih dekat dan membaur dengan masyarakat.

“Kalau dulu kemahnya bersifat kemah kepramukaan penuh, kalau sekarang tidak. Kita sekarang pramukanya dibarengi dengan sosial, karena namanya juga Kemah Bakti,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, secara simbolis juga disalurkan 100 paket sembako, dengan 60 paket diperuntukkan bagi masyarakat Desa Mandalajaya dan 40 paket lainnya untuk desa sekitar. Selain itu, dilakukan pula penyerahan tanaman untuk penghijauan.

Rangkaian kegiatan sosial tidak berhenti pada pembagian sembako. Para peserta nantinya akan terjun langsung melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan masyarakat dan tempat ibadah.

“Untuk kegiatan selanjutnya, bakti sosial itu bersifat bersih-bersih lingkungan warga dan tempat ibadah. Di situ bedanya. Kalau dulu-dulu tidak seperti itu, sekarang kita mengarah ke sana agar lebih membaur dengan masyarakat,” tutur Nurrohim.

Bahkan, kegiatan pelayanan fasilitas MCK atau toilet juga diarahkan ke lingkungan permukiman warga. Peserta akan dibagi ke sejumlah rumah warga untuk melakukan kegiatan secara langsung.

“Kenapa? Karena Pak Kadis ingin kita membaur dengan masyarakat. Nanti dibagi-bagi: ada rumah A kebagian 10 orang atau 6 orang, dan sebagainya,” katanya.

Untuk pengelolaan kegiatan di tingkat desa, Forum PKBM telah berkoordinasi dengan Karang Taruna Desa Mandalajaya. Forum PKBM menyerahkan data peserta untuk kemudian dikoordinasikan dan dikelola di lapangan.

Kenalkan PKBM kepada Masyarakat

Nurrohim menilai konsep Kemah Bakti tersebut juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan keberadaan dan peran PKBM kepada masyarakat.

“Betul, untuk lebih memperkenalkan PKBM ke masyarakat itu seperti apa. Ya mudah-mudahan setelah adanya kegiatan ini, masyarakat tahu, ‘Oh, ternyata PKBM itu seperti ini.’ Jadi bukan hanya namanya saja yang terpampang, tapi kegiatannya juga nyata,” ungkapnya.

Iklan

Ia mengaku bersyukur karena konsep kegiatan tersebut mendapat respons positif dari Bupati Kuningan. Menurutnya, format kegiatan yang memadukan kemah, edukasi, kegiatan sosial, hingga perlombaan menjadi sesuatu yang berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

“Alhamdulillah tanggapan dari Pak Bupati sangat menggembirakan bagi kami, karena belum ada kegiatan kemah yang seperti ini. Dikemasnya penuh: ada kemahnya, ada edukasinya, ada kegiatan sosialnya, dan nanti juga ada lomba-lomba seperti wide game, panahan, dan sebagainya,” ujarnya.

Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan tahun ini diikuti sekitar 500 peserta yang berasal dari 90 PKBM di Kabupaten Kuningan. Para peserta terbagi dalam sekitar 100 regu, dengan tingkatan pendidikan meliputi Paket A, Paket B, dan Paket C.

“Untuk peserta berkisar sekitar 500-an orang, yang berasal dari 90 PKBM dan terbagi menjadi 100 regu. Tingkatannya mencakup Paket A, B, dan C, walaupun yang mendominasi adalah Paket B dan C,” terang Nurrohim.

Dukung Penanganan Anak Tidak Sekolah

Lebih jauh, Forum PKBM Kabupaten Kuningan berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Salah satu fokus yang ingin didukung PKBM adalah program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang tengah dicanangkan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

“Harapannya tentu pertama agar PKBM itu ada dan dikenal oleh masyarakat, serta betul-betul berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

“Sebagai contoh, saat ini Pak Bupati sedang mencanangkan penanganan ATS. Harapan kami, program Pak Bupati tersebut dapat kami sukseskan sehingga angka anak tidak sekolah di Kabupaten Kuningan dalam tiga tahun ke depan dapat teratasi dan prestasinya meningkat,” sambungnya.

Nurrohim juga mengajak masyarakat untuk mengubah pandangan terhadap pendidikan kesetaraan atau yang selama ini kerap disebut sebagai “sekolah paket”.

Menurutnya, pendidikan nonformal melalui PKBM memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat yang tidak terwadahi melalui jalur pendidikan formal.

“Kalau pemikiran seperti itu, saya kira kurang kekinian bahasanya. Karena justru dari PKBM ini akan melahirkan generasi-generasi yang tidak terwadahi di jalur formal,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pendidikan di PKBM tidak hanya memberikan pembelajaran teori, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan, vokasi, dan keahlian yang dapat diterapkan secara nyata.

“Di non-formal itu sama saja, bahkan ada pembekalan vokasi, keterampilan, dan keahlian yang dibuktikan secara nyata. Dari segi pembelajaran, dibagi antara teori dan kegiatan keterampilan,” jelasnya.

Menurutnya, sudah banyak PKBM yang berhasil mengembangkan berbagai produk karya peserta didik sebagai bukti bahwa pendidikan kesetaraan juga mampu melahirkan generasi yang produktif dan memiliki keterampilan.

Nurrohim sendiri merupakan pengelola PKBM Al-Munawar, Desa Cipenok, Kecamatan Cimahi. Saat ini ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Forum PKBM Kabupaten Kuningan.

“Saya Nurrohim dari PKBM Al-Munawar, Desa Cipenok, Kecamatan Cimahi. Kebetulan sekarang dipercaya menjadi Ketua Forum PKBM Kabupaten Kuningan,” tuturnya.

Ia menyadari amanah tersebut bukan pekerjaan ringan karena harus mengoordinasikan lembaga-lembaga PKBM yang tersebar di Kabupaten Kuningan.

“Ini merupakan amanah yang cukup berat bagi saya karena harus memimpin ratusan lembaga di Kabupaten Kuningan, tapi mudah-mudahan ini menjadi ladang amal bagi saya ke depannya dan berjalan dengan lancar,” pungkasnya. (OM)