KATANA Sangkanerang Diresmikan, BAZNAS Dorong Kesiapsiagaan Jadi Budaya Warga

Insiden, Sosial252 views

KUNINGAN ONLINE – Program Kampung Tanggap Bencana (KATANA) resmi dicanangkan di Desa Sangkanerang, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Program yang digagas BAZNAS RI tersebut diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Peresmian sekaligus exit program KATANA berlangsung Kamis (6/8/2026) dan dihadiri Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., jajaran BAZNAS RI, BAZNAS Provinsi Jawa Barat, BAZNAS Kabupaten Kuningan, BPBD, unsur Forkopimcam, pemerintah desa, relawan, serta masyarakat.

Iklan

Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan, H. Yusron Kholid, M.S.I., mengatakan program tersebut telah dilaksanakan sejak 28 Juli 2026 selama hampir sepuluh hari. Masyarakat mendapatkan berbagai materi, mulai dari edukasi kebencanaan, pelatihan kesiapsiagaan, penyusunan jalur evakuasi dan titik kumpul hingga simulasi penanganan bencana.

“Kami berharap Kampung Tanggap Bencana tidak berhenti sebagai program semata, tetapi terus berlanjut menjadi budaya masyarakat. Relawan harus menjadi motor penggerak kesiapsiagaan sekaligus menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Kuningan,” ujar Yusron.

Iklan

Menurutnya, optimalisasi zakat, infak, dan sedekah tidak hanya memberikan manfaat dalam bidang sosial, tetapi juga dapat digunakan untuk memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.

Yusron turut menyampaikan apresiasi kepada BPBD Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kecamatan Jalaksana, Pemerintah Desa Sangkanerang, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan KATANA.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Anang Jauharuddin, M.M.Pd., menyebut KATANA merupakan salah satu bentuk ikhtiar BAZNAS dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Program tersebut juga berjalan beriringan dengan Program Madrasah Aman Tanggap Bencana (MANTAP).

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat agar program kesiapsiagaan dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Jawa Barat memiliki alam yang sangat indah, tetapi di balik keindahan itu tersimpan ancaman bencana yang besar. Karena itu kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting,” katanya.

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menyambut baik hadirnya KATANA di Desa Sangkanerang. Menurutnya, ketangguhan sebuah desa tidak semata-mata ditentukan oleh ketersediaan peralatan, tetapi juga oleh kesadaran, kekompakan, dan kesiapan masyarakat.

“Kita berprinsip bahwa korban bencana dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki kesadaran, kekompakan, serta kolaborasi yang baik. Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui kesiapsiagaan,” ujar Dian.

Bupati menyebut Kabupaten Kuningan memiliki potensi berbagai jenis bencana, mulai dari tanah longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan hingga banjir yang mulai terjadi di sejumlah wilayah timur saat musim hujan.

Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga November-Desember, Pemkab Kuningan bersama BPBD, TNI, Polri, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Perhutani dan sejumlah perangkat daerah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi.

Dian juga mengapresiasi kontribusi BAZNAS yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah dalam membantu masyarakat. Dukungan tersebut antara lain diwujudkan melalui rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan kemanusiaan serta penanganan masyarakat yang membutuhkan bantuan di luar cakupan program pemerintah.

“BAZNAS telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam membantu masyarakat. Sinergi seperti ini harus terus diperkuat agar semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya,” pungkasnya.

Peresmian KATANA ditandai dengan pemukulan kentongan secara simbolis oleh Bupati Kuningan didampingi jajaran BAZNAS, unsur Forkopimcam, BPBD, serta Pemerintah Desa Sangkanerang.

Bunyi kentongan tersebut menjadi simbol kewaspadaan, kebersamaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

Usai seremoni, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi penanganan bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Simulasi melibatkan relawan, aparat desa, BPBD dan masyarakat.

Dalam simulasi tersebut, peserta mempraktikkan prosedur evakuasi, penyelamatan korban hingga penanganan kondisi darurat. Kegiatan berlangsung tertib dan terkoordinasi sebagai bentuk penguatan kapasitas masyarakat agar mampu merespons bencana secara cepat, tepat dan terarah. (OM)