Dari Pada Nganggur, Dua Pria Lanjut Usia Berikhtiar Dalam Kewajiban

Informasi, Sosial3,954 views

KUNINGAN ONLINE – Dua pria Lanjut Usia (Lansia) yang kesehariannya mangkal di trotoar jalan Siliwangi, tepatnya di depan SMP Negeri 1 Kuningan tak pernah mengeluh dalam menjalankan tugas sebagai kepala Keluarga.

Juju (74) pria Kelahiran Kuningan 1949, asal Kelurahan Awirarangan itu mengungkapkan meski profesi sebagai tukang sol sepatu, tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup berikhtiar itu wajib.

Iklan

“Nya abdi mah kanggo sadinten na kumaha kenging rezekina teu tangtos (Iya Saya untuk sehari-harinya dapat rezeki tidak tentu). Anu penting dari pada nganggur mending ngalaksanaksun kawajiban (Dari pada nganggur lebih baik melaksanakan kewajiban,” ungkap Pria Asal Kelurahan Awirarangan, saat ditemui Kuninganonline.com, Selasa (10/1/2023).

Diceritakan Juju, Ia sehari kadang mendapat dari hasil soalnya itu bisa 40-70 Ribu. Tapi Juju bersyukur segitu juga sudah bisa memenuhi kebutuhan di keluarga.

Iklan

Ditempat yang sama, Juhri (81) pria yang kesehariannya berjualan mainan anak-anak keluar dari rumah pukul 8.00 WIB dan pulang ke rumahnya pukul 17.00 WIB.

Juhri pria asal Kelurahan Purwawinangun itu berjualan mainan keliling dari mulai Jln Siliwangi, Jln Sudirman, Jln Cut Nyak Dien hingga Jln RE. Martadinata.

Meski kadang cuaca panas dan hujan, Abah Juhri sapaannya masih tetap semangat untuk mencari rezeki. Ia menceritakan dari pada diam di rumah dan tidak aktivitas (nganggur, red) lebih baik berjualan, walapun hasil yang didapat tidak tentu.

“Alhamdulillah, masih dipasihan umur panjang sareng tiasa ngajalankeun kewajiban. Da abdi mah itung-itung olahraga wae icalan keliling teh, di bumi wae mah matak mumet jeung itung-itung ngabrangbrangkeun awak,” ucap Juhri pria lahir sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia berpesan bahwa sebagai manusia harus banyak bersyukur kepada Allah SWT. Jangan sampai mengambil hak yang bukan miliknya.

“Ayeuna mah seerkeun ngadoa wae ka gusti Allah. Da jalmi mah ukur tiasa ikhtiar sareng tong sok wani cocokot ajang ngaganti modal. Ulah sok korupsi, (Sekarang itu banyakin berdoa kepada Allah SWT. Jangan berani-beraninya ngambil untuk mengganti modal daan jangan korupsi, ” pungkasnya.

Ditanya soal di Indonesia banyak Korupsi, Abah Juhri menerangkan korupsi sudah menjadi perilaku seseorang yang berani mengambil hak masyarakat.

“Korupsi eta mah tos janten kalakuan jeung tujuan jalmi. Wani ngamodal, wani cocokot ajang ngaganti. Teu heran di Indonesia mah kitu,” terangnya berbahasa Sunda. (OM)