Bupati Dian: Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar, Peserta Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan Adalah Generasi Masa Depan

Pendidikan, Sosial105 views

KUNINGAN ONLINE – Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. membuka Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Ke-V Tingkat Kabupaten Kuningan Tahun 2026 di Lapang Sepak Bola Desa Mandalajaya, Kecamatan Maleber, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan DPD Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) Kabupaten Kuningan tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari 90 PKBM. Para peserta terbagi dalam sekitar 100 regu, dengan jenjang pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B dan Paket C, meski mayoritas berasal dari Paket B dan C.

Iklan

Bupati Dian yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Kabupaten Kuningan mengapresiasi pelaksanaan Kemah Bakti tersebut. Menurutnya, kegiatan itu bukan sekadar aktivitas perkemahan, tetapi menjadi bagian dari pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian peserta.

“Ini bukan hanya sekadar berkemah, bukan hanya sekadar bermalam bersama teman-teman. Ini merupakan proses pendidikan pembentukan karakter, memperkuat arti kebersamaan, saling menolong, kepedulian sosial, sekaligus mengembangkan kreativitas dan inovasi,” ujar Bupati Dian.

Iklan

Ia menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan memiliki posisi penting dalam memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

Melalui Paket A, B dan C, masyarakat yang sebelumnya memiliki hambatan mengakses pendidikan formal tetap mendapatkan ruang untuk memperoleh pendidikan dan membangun masa depan.

“Tidak ada kata terlambat untuk belajar,” tegasnya.

Kemah Dikemas dengan Kegiatan Sosial

Konsep Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan tahun ini juga dibuat berbeda dibanding pelaksanaan sebelumnya. Ketua Forum PKBM Kabupaten Kuningan, Nurrohim, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda dua tahunan yang sempat tidak dilaksanakan pada 2025.

“Jadi kegiatan kali ini untuk Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan itu adalah agenda dua tahunan kami. Karena tahun 2025 kemarin tidak dilaksanakan, maka sekarang dilaksanakan,” kata Nurrohim.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari agenda PKBM yang telah masuk dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS).

Namun, tahun ini konsep kegiatan tidak hanya berfokus pada kepramukaan. Unsur sosial sengaja diperkuat agar peserta dapat berinteraksi dan membaur langsung dengan masyarakat.

“Kalau dulu kemahnya bersifat kemah kepramukaan penuh, kalau sekarang tidak. Kita sekarang pramukanya dibarengi dengan sosial, karena namanya juga Kemah Bakti,” ujarnya.

Dalam pembukaan kegiatan, secara simbolis diserahkan 100 paket sembako, terdiri dari 60 paket untuk masyarakat Desa Mandalajaya dan 40 paket lainnya untuk desa sekitar. Selain itu, dilakukan pula penyerahan bibit tanaman.

Rangkaian bakti sosial selanjutnya akan diisi dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan warga dan tempat ibadah. Peserta juga diarahkan untuk membantu fasilitas MCK atau toilet di permukiman masyarakat.

“Pak Kadis ingin kita membaur dengan masyarakat. Nanti dibagi-bagi: ada rumah A kebagian 10 orang atau 6 orang, dan sebagainya,” jelas Nurrohim.

Untuk pelaksanaan di lapangan, pengelolaan peserta telah dikoordinasikan bersama Karang Taruna Desa Mandalajaya.

Bukan Sekadar Sekolah Paket

Nurrohim mengatakan Kemah Bakti juga menjadi momentum untuk memperkenalkan keberadaan dan peran PKBM kepada masyarakat secara lebih luas.

“Betul, untuk lebih memperkenalkan PKBM ke masyarakat itu seperti apa. Ya mudah-mudahan setelah adanya kegiatan ini, masyarakat tahu, ‘Oh, ternyata PKBM itu seperti ini.’ Jadi bukan hanya namanya saja yang terpampang, tapi kegiatannya juga nyata,” katanya.

Menurutnya, pendidikan kesetaraan melalui PKBM tidak semestinya lagi dipandang sebelah mata. Selain pembelajaran teori, peserta juga mendapatkan pembekalan vokasi, keterampilan dan keahlian.

“Kalau pemikiran seperti itu, saya kira kurang kekinian bahasanya. Karena justru dari PKBM ini akan melahirkan generasi-generasi yang tidak terwadahi di jalur formal,” tegasnya.

“Di non-formal itu sama saja, bahkan ada pembekalan vokasi, keterampilan, dan keahlian yang dibuktikan secara nyata. Dari segi pembelajaran, dibagi antara teori dan kegiatan keterampilan,” lanjut Nurrohim.

Bupati Dorong Kepedulian Sosial dan Lingkungan

Sementara itu, Bupati Dian menilai konsep Kemah Bakti yang menggabungkan pendidikan, kepramukaan dan kegiatan sosial menjadi pengalaman penting bagi peserta.

“Ini luar biasa. Ini memadukan tentang pendidikan, kepramukaan, kegiatan sosial, kepemimpinan, kebudayaan dan kesehatan. Ini jarang ditemukan dalam pendidikan yang bersifat formal, apalagi hanya di dalam kelas,” katanya.

Ia mengapresiasi kegiatan bakti sosial, penanaman bibit tanaman hingga aksi pemungutan sampah yang menjadi bagian dari rangkaian kemah.

“Yang susah kita berikan bantuan, yang lemah kita berikan dorongan. Ini pembelajaran yang luar biasa,” ujar Bupati.

Ia juga berpesan agar peserta menjaga kebersihan lokasi perkemahan sejak awal hingga kegiatan berakhir.

“Titip, tadinya bersih, setelah selesai kemah juga harus bersih,” pesannya.

Menurut Bupati Dian, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan rumah tangga.

“Sampah adalah tanggung jawab kita bersama, dimulai dari hulu ke hilir, dimulai dari sampah rumah tangga,” katanya.

Dukung Penanganan Anak Tidak Sekolah

Forum PKBM juga menyatakan kesiapannya mendukung program Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Nurrohim berharap keberadaan PKBM dapat semakin optimal menjadi bagian dari solusi untuk mengembalikan anak-anak yang tidak bersekolah ke jalur pendidikan.

“Harapan kami, program Pak Bupati tersebut dapat kami sukseskan sehingga angka anak tidak sekolah di Kabupaten Kuningan dalam tiga tahun ke depan dapat teratasi dan prestasinya meningkat,” ungkapnya.

Bupati Dian sendiri mengajak para peserta untuk tidak takut mencoba dan bermimpi. Ia meyakini peserta pendidikan kesetaraan dapat menjadi bagian penting dari masa depan Kabupaten Kuningan.

“Jangan takut untuk mencoba, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk mempunyai cita-cita,” pesan Bupati Dian.

“Tidak menutup kemungkinan di hadapan saya kalian adalah penerus cita-cita masa depan Kabupaten Kuningan,” sambungnya.

Lestarikan Budaya dan Permainan Tradisional

Selain kegiatan kepramukaan dan sosial, Kemah Bakti Pendidikan Kesetaraan juga diramaikan karnaval budaya serta permainan tradisional.

Bupati Dian menilai kegiatan tersebut penting untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal di tengah perkembangan teknologi. Ia berharap generasi muda tidak hanya dekat dengan gadget, tetapi juga memahami permainan tradisional yang mengandung nilai kebersamaan dan filosofi.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini permainan-permainan tradisional kembali diingatkan untuk dilestarikan, karena mengandung makna dan filosofi yang luar biasa,” tuturnya.

Peserta juga mengikuti berbagai kegiatan seperti Peraturan Baris-Berbaris (PBB), pioneering, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), pengetahuan kepramukaan, wide game, panahan dan sejumlah permainan lainnya.

Menutup sambutannya, Bupati Dian mengajak pengelola PKBM, tutor, pembina, pendamping serta seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam membangun sumber daya manusia Kabupaten Kuningan.

“Saya sebagai Bupati tidak bisa berjalan sendiri, tidak bisa membangun sendiri tanpa dukungan dari seluruh masyarakat, elemen masyarakat,” katanya.

Ia kemudian berpesan kepada seluruh peserta untuk menjaga kekompakan, kesehatan dan kebersihan selama mengikuti kegiatan.

“Jaga kekompakan, jaga kesehatan, yang terpenting juga jaga kebersihan. Tunjukkan bahwa kalian adalah generasi harapan bangsa, generasi penerus yang hebat,” pesannya.

Kemah Bakti Pramuka Pendidikan Kesetaraan Kabupaten Kuningan Ke-V Tahun 2026 secara resmi dibuka Bupati Dian dengan ditandai penancapan kapak dan pelepasan burung merpati. (OM)