KUNINGAN ONLINE – Di tengah tudingan miring yang menyebut perjuangan Bupati Kuningan ke pemerintah pusat hanya sebatas “sandiwara politik”, fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Bantuan nyata untuk sektor pertanian kini telah diterima dan dimanfaatkan langsung oleh para petani di Kabupaten Kuningan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., meluruskan persepsi tersebut. Ia menegaskan bahwa istilah “ngamen ke pusat” yang pernah dilontarkan Bupati Kuningan sejatinya merupakan ungkapan reflektif, bukan retorika kosong.
“Kalau dikatakan belum ada hasil, atau bahkan disebut sandiwara, itu tidak sesuai fakta. Khususnya di bidang pertanian, kami bisa buktikan bantuan nyata sudah diterima,” ujar Wahyu kepada Kuninganonline.com, Selasa (29/7/2025).
Salah satu capaian signifikan adalah pertemuan langsung Bupati Kuningan dengan Menteri Pertanian RI pada 30 April 2025 di Jakarta. Dari audiensi itu, Kabupaten Kuningan mendapatkan berbagai alat dan sarana produksi pertanian.
“Bantuan yang diterima di yakni Traktor roda 4 sebanyak 2 unit, Traktor roda 2 sebanyak 5 unit, Combine harvester (mesin panen modern), Pompa air dan hand sprayer, Benih padi dan jagung untuk ribuan hektare laha,” paparnya.
Selain dari Kementerian Pertanian, bantuan lain juga mengalir dari aspirasi Anggota DPR RI. Hingga Juli 2025, total nilai bantuan bidang pertanian yang diterima Kuningan mencapai lebih dari Rp5 miliar, seluruhnya dalam bentuk barang dan langsung disalurkan kepada kelompok tani.
“Ini kerja nyata, bukan pencitraan. Prosesnya formal—dari pengajuan proposal, verifikasi data, hingga distribusi bantuan. Tidak ada yang instan atau asal-asalan,” tegas Wahyu.
Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut bukan sekadar dukungan fisik, tetapi juga menjadi dorongan moral bagi petani bahwa pemerintah benar-benar memperjuangkan mereka.
Ke depan, Pemkab Kuningan akan terus memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga pusat untuk memperluas program pertanian yang mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Keberhasilan tidak lahir dari saling menyalahkan, melainkan dari kolaborasi dan kerja keras. Kami akan terus berikhtiar agar hasilnya dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke pelosok desa,” pungkas Wahyu. (OM)





