KUNINGAN ONLINE – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kuningan kembali menggelar aksi demonstrasi jilid II di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kuningan, Sabtu (9/11/2024).
Puluhan mahasiswa berorasi dengan lantang, menyoroti isu integritas dan transparansi yang dianggap semakin hilang dalam tubuh KPU Kuningan.
Aksi ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi sebelumnya, sebagai bentuk konsistensi mahasiswa dalam mengawal demokrasi yang jujur dan adil.
Dalam aksinya, para demonstran menggunakan atribut simbolik yang menarik perhatian, seperti mulut-mulut yang diplester dengan uang mainan.
Aksi teatrikal ini menjadi pesan kuat yang menggambarkan kondisi KPU yang dianggap kehilangan independensi dan sikap kritis akibat kepentingan eksternal.
“Selain itu, selebaran kertas yang dipasang dan dibagikan oleh massa aksi menuliskan berbagai pertanyaan terkait independensi KPU, mempertanyakan sejauh mana integritas lembaga tersebut masih terjaga,” tegas Koordinator Aksi Shena Alsadat, Senin (11/11/2024).
Dalam aksi IMM, Ketua PC IMM Kuningan Renis Amarulloh menyebut tiga tuntutan utama. Pertama, Hilangnya Integritas KPU.
“Kami menyoroti bahwa integritas KPU Kuningan dianggap telah tergadaikan oleh kepentingan pribadi dan administratif. Mereka menilai adanya sikap emosional yang mengalahkan prinsip profesionalisme yang seharusnya dijunjung tinggi oleh penyelenggara pemilu,” tegasnya.
Kedua, Krisis Etika dan Moral di Tubuh KPU. Krisis etika yang dinilai semakin parah, termasuk terjadinya kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum PPK di KPU.
“Hal ini dianggap mencoreng citra lembaga dan merusak kepercayaan publik terhadap KPU sebagai penyelenggara pemilu yang kredibel,” ujarnya.
Ketiga, kata Renis, Lenyapnya Akuntabilitas Publik. Bahwa IMM menuntut anggaran yang dikeluarkan oleh KPU Kuningan yang dinilai tidak transparan.
Pihaknya mempertanyakan penggunaan anggaran publik yang tidak jelas dan kurangnya akuntabilitas dalam pengelolaan dana pemilu.
Aksi teatrikal menjadi bagian penting dalam demonstrasi ini. Para mahasiswa memperagakan adegan simbolis yang menggambarkan KPU dalam kondisi tersumpal, terikat, dan terbutakan oleh kekuatan modal.
Properti berupa uang mainan digunakan secara masif, memperkuat pesan bahwa independensi KPU telah terjual kepada kepentingan tertentu.
Namun, aksi demonstrasi kali ini tidak mendapatkan respons dari pihak KPU Kabupaten Kuningan. Para demonstran hanya berhadapan dengan pintu kantor yang tertutup rapat.
Hingga akhir aksi, tidak ada perwakilan KPU yang keluar untuk berdialog atau memberikan tanggapan terhadap tuntutan mahasiswa, memperlihatkan kesan bahwa pihak KPU “menutup telinga” terhadap kritik yang disampaikan.
Aksi demonstrasi jilid II ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mengingatkan semua pihak agar menjaga integritas demokrasi.
IMM Kuningan menekankan bahwa independensi KPU adalah hal mutlak yang harus dipertahankan demi kepercayaan publik dan keberlangsungan demokrasi yang sehat.
Langkah selanjutnya kini berada di tangan KPU, apakah akan menjawab tuntutan mahasiswa atau tetap bersikap pasif. Publik menantikan tindakan konkret dari KPU untuk memperbaiki citra dan memastikan transparansi dalam setiap langkah yang mereka ambil. (OM)








