KUNINGAN ONLINE – Kabupaten Kuningan menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang tak ternilai, salah satunya Gedung Naskah Perundingan Linggarjati. Bangunan bersejarah ini bukan sekadar situs wisata, tetapi menjadi saksi penting perjalanan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat berdialog bersama seniman dan budayawan Kabupaten Kuningan, Jumat (3/4/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Linggarjati memiliki peran krusial dalam sejarah nasional.
“Tanpa Linggarjati, tidak ada NKRI,” tegasnya, kepada Kuningaonline.com, Minggu (5/4/2026).
Menurut Fadli Zon, Perjanjian Linggarjati merupakan tonggak penting diplomasi Indonesia pasca-proklamasi. Perundingan tersebut menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga melalui strategi diplomasi yang cerdas dan bermartabat.
Dalam kunjungannya, Menbud didampingi sejumlah pejabat, di antaranya Direktur Sejarah dan Permuseuman Agus Mulyana, Bupati Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati Tuti Andriani, Anggota DPR RI H. Rokhmat Ardiyan, Ade Kadarisman Staf Ahli Kantor Staf Presiden RI, Jajaran Forkompinda dan lainnya.
Fadli Zon juga menekankan bahwa Gedung Linggarjati tidak boleh hanya diposisikan sebagai museum statis, melainkan harus menjadi ruang hidup yang terus menghadirkan nilai-nilai sejarah kepada masyarakat.
Ia bahkan mendorong wisatawan untuk tidak melewatkan kunjungan ke lokasi tersebut, termasuk menelusuri jejak Sutan Sjahrir yang berkaitan erat dengan perundingan tersebut.
Sementara itu, tokoh budaya Kuningan sekaligus Founder Adiluhung Indonesia, Ade Kadarisman, menyampaikan bahwa kehadiran Menteri Kebudayaan menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian sejarah daerah.
Ia menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber nilai dan inspirasi bagi generasi masa depan. Menurutnya, Gedung Naskah Perundingan Linggarjati harus dipahami sebagai simbol budaya dialog bangsa Indonesia.
“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu berjuang, tetapi juga bangsa yang mampu berdialog,” ujarnya.
Ade menilai, semangat Linggarjati sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Di tengah polarisasi politik, perbedaan pandangan sosial, dan konflik kepentingan, nilai musyawarah menjadi kunci dalam menjaga keutuhan bangsa.
“Semangat Linggarjati menawarkan jalan tengah, yakni menyelesaikan perbedaan melalui dialog, bukan pertentangan,” tegas Staf Kepresidenan RI.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan program literasi sejarah, khususnya bagi generasi muda. Tanpa pemahaman sejarah yang baik, masyarakat dikhawatirkan akan kehilangan arah dalam membangun masa depan bangsa.
Rangkaian kunjungan Menteri Kebudayaan di Kuningan sendiri berlangsung selama dua hari, dimulai dari ziarah ke tokoh sejarah di Sangkanhurip, peninjauan Gedung Sutan Sjahrir yang direncanakan direvitalisasi, hingga peresmian Museum Situs Purbakala Cipari. Kunjungan juga dilanjutkan ke Paseban Tri Panca Tunggal serta Gedung Kesenian Kuningan.
Momentum ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kembali peran Kuningan sebagai salah satu pusat sejarah penting di Indonesia, sekaligus mendorong lahirnya kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga dan merawat warisan bangsa. (OM)





